better spend with you (part 2)


“minzzy-ssi..??” seseorang membangunkan ku. Seseorang yang sedari tadi aku menunggunya sampai tertidur pulas di perpustakaan kampus. “aku bilang jam 10 tepat. Mengapa kau begitu telat ??” grutu ku sambil membuka laptop ku berniat memulai mengerjakan tugas ku yang berpatner dengan nya, dengan Lee Jinki.

“aaah, mianhae.. aku sedikit terlupa dengan janji ku sendri, maklum saja aku mempunyai banyak tugas. Bagaimana kalau kita bertukar number phone agar jika aku terlambat 1 detik saja kamu bisa langsung menghubungi ku..” dia menunjukan phone kotak hitam nya. Sambil terus tersenyum menunjukkan gigi kelinci nya kepada ku –yeoppo-da…- batin ku yang tidak akan pernah bisa berbohong.

“geudhe, igot..” tidak ingin terlalu lama melihat senyum manis nya yang begitu mempesona aku pun langsung memberi apa yang dia inginkan.

“heem..Minzzy-ya.. mengenai tentang video memalukan tentang teman sekelas ku mengapa kau upload ke web kampus kita??” aku mengalihkan pandangan ku pada laptop apple ku menuju wajah si kutu buku itu. Kita saling berhadapan, jadi sangat mudah aku melihat kacamata bulat besarnya yang selalu menghalangi mata sipit nya untuk berinteraksi pada lingkungan sekitarnya.

“bukan aku yg meng-upload, dan juga bukan aku yang membuatnya…” jawab ku malas. Sebenarnya aku tidak sangat ingin membahas video memalukan tentang Jessica dan teman sekelasnya yang menyebar hari ini. Kerena menurut ku hal itu sudah tidak harus di tanyakan mengapa? Karena sudah jelas unni deul ku melakukannya untuk membalas perlakuannya kepada ku di hari itu.

“untuk membalas perlakuannya kepadamu?? Mengapa aku tidak kau masukan juga.. dan menurutku kau tidak perlu melakukan nya, segeralah hapus video itu…” tak ku sangka namja ini begitu menyebalkan. Dia terus berbicara tentang hal tersebut walau raut muka ku sudah tidak sangat bersahabat dengan pembicaraan itu.

“yya..!! jinki-ssi.. bisakah kita lakukan pekerjaan yang seharusnya kita kerjakan sekarang. Dengar waktu ku tidak banyak…” aku sedikit membentak nya. Hanya untuk menujukkan saja bahwa aku tidak menyukai akan topic pembicaraan itu.

“changkemaaan, aku hanya ingin membela chingu deul ku saja.. baiklah aku meminta maaf mewakili mereka..” dia masih meneruskan nya. Tiba2 dia berdiri dari duduk nya lalu merundukkan kepalanya. “mian-hamnida..!!” apa lagi ini. Dia berlaga manis membela chingu2 nya.

“hajima..!! kajja, kita berkerja sekarang..” aku tetap  tidak memperdulikannya.

“ani-imnida.. sebelum kau mau memberikan maaf pada chingu deul ku dan menghapus video itu aku tidak akan berhenti meminta maaf seperti ini.. “ kata nya sambil terus merunduk menghadap ku.

“bagaimana bisa namja seperti mu begitu menyebalkan.. “ aku menutup laptop ku lalu segera beranjak dari tempat duduk ku. “dengar Lee Jinki-ssi.. unni ku meng-upload nya hari ini dan akan terhapus juga hari ini, oh dan satu lagi.. video itu tidak mampu untuk di-download.. aku membalas sesuai dengan porsi nya. Hanya sehari dia menertawakan ku, berarti hanya sehari mereka di tertawakan..!” aku pergi meninggalkannya yang sudah menegapkan kembali kepalanya. Tanpa melihat wajah nya untuk kedua kalinya aku terus berjalan cepat menjauhi nya. Tidak peduli apa yang berada di benak nya saat itu. Aku terus menjauhinya.

“minzzy-ssii!!” teriak nya yang sudah mulai melemah terdengarnya karena jarak antara kami sudah mulai menjauh.

****

Taman belakang  kampus. Tempat yang cukup tenang untuk mengucilkan diri selagi unni deul ku mengambil kelas. Aku tidak ingin bertemu siapa pun saat ini Karena aku sedang tidak ingin berpapasan dengan sanbae deul ku terutama Jessica song.

“ aiisshh… jinki babbo!!” aku menghardik nya dengan suara yang lumayan tinggi. Kata2 itu otomatis terlontar ketika aku mengingat-ingat kembali kelakuannya beberapa menit yang lalu.

“jangan kau menghardik seseorang ketika seseorang itu tidak ada di hadapan mu. Itu tidak membuat kesal mu berkurang… hhahahha..” ajaib. Dia datang kembali tentunya dengan senyumannya lagi. Tidak bosan kah dia tersenyum sebegitu lebar nya setiap kali bertemu dengan ku?.

“ciih..” responku sinis padanya.

Dia duduk tepat disampingku. Di taman belakang kampus ini hanya ada sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu dan bersetenles hitam. Keadaanya sangat sepi, hanya di temani begitu banyak bunga2, pohon2 yang menaungi kepala kita berdua, dan terik matahari yang sedang bersahabat hari ini. Rumputnya pun halus dan jika aku membiarkan kaki ku langsung berpijak di atas nya, rumput hijau kecil itu akan segera menggelitik ku karena angin yang bertiup kencang mengoyangkan mereka.

“Aigoo ottokae-yni..? hm, bagaimana kita kerjakan pekerjaan yang seharus nya di kerjakan sedari tadi??..” dia tetap bersikap ramah walau respon ku sedari tadi sangat tidak bersahabat dengan nya.

“geudhe..” segera aku membuka laptop ku. Kita pun melakukan pekerjaan yang seharus nya di kerjakan.

Dia membantuku dengan sangat baik. Aku tidak menyesal menerima penawaran nya ketika itu. Yyah.. mungkin sepadan dengan penampilanya yang kutu buku. Begitu kuno, formal dan tidak menarik. Seperti itu lah, tetapi kemampuannya dalam menghadapi tugas ku cukup memuaskan. –gomawo oppa..- bisik ku dalam hati.

“aiish bagaimana cara aku mampu mengetik materi nya..” aku sedikit kesulitan untuk mengetik bahan2 yang sudah di berikan jinki. Tidak ada meja taman yang di sediakan. Memang taman ini tidak di-disain untuk seperti itu.

“bagaimana jika kau duduk di atas rumput dan membiarkan laptop mu di atas kursi ini..?? dengan itu kau mampu mengetik dengan leluasa..” jelas nya. Sedikit menyebalkan karena dia memerintah kan aku untuk duduk di atas rumput tapi seperti nya posisi nya memudahkan aku untuk mengetik materi ku. Aku menurutinya dan tiba2 dia pun menyamai posisi nya dengan posisi ku. Dia beranjak dari kursi taman lalu duduk dia atas rumput tepat di sebelah ku.

“yya..!! apa yang sedang kau lakukan?? Kembali ketempat mu..” perintah ku. Aku lebih suka jika kita berdua mempunyai jarak yang begitu jauh.

“aku merasa tidak enak saja jika_”. “hanya kembali ke posisi semula… aku tidak suka jika kau begitu dekat dengan diri ku..!!” dikte ku jelas ke padanya. Mungkin sedikit jahat, tapi apa boleh buat aku sangat merasa sesak dengan namja ini jika harus sangat berdekatan. Seperti ini saja membuat perut ku seperti ada yang memuntar. Apa lagi akan lebih dekat walau dengan jarak sewajarnya.

“baiklaaaah jika itu yang kau ingin kan… “ sepertinya dia tidak begitu keberatan.

“jinki-ssi.. mian jika aku sedikit kasar kepada mu, aku hanya tidak menyukai namja… lebih tepat nya sensitive kepada namja..” jelas ku. Yyah aku berharap dia mengerti keadaan ku yang cacat psikologis ini.

“kepada semua namja??” Tanya nya yang aku rasa mulai mewawancarai aku kembali. “seperti nya begitu.. “ jawab ku malas.

“bagaimana dengan appa mu?” . “pertanyaan mu konyol.. jinki-ssi hentikan sikap keingin tahu an mu pada diri ku..!!” aku mulai kembali bersikap tegas kepadanya.

“geudheee.. jika itu yang kau ingin kan.. minzzy, bagaimana kau memanggil ku dengan imbuhan oppa. Itu terdengar akan lebih menyenangkan.. “ . aku tak menghiraukan nya. Aku hanya sibuk mengetik materi2 yang sudah kita susun sedari tadi.

“minzzy-ssi bagaimana.. hem??” dia memaksa ku untuk menjawab nya. Aku mendangakan kepala ku mencoba melihat wajah nya. Dan benar seperti yang aku kira, aku mendapatkanya dengan senyumannya kembali.

“bagaimana jika kau berhenti tersenyum seperti itu kepada ku??_”. “aah wae-yoo..” dia memotong perkataan ku.

“karena aku muak melihat nya…” jawab ku ringan sambil kembali mengetik yang tadi terhenti karena perkataan nya yang konyol. –jinki-ssi oppa, sebegitu aneh nya kah diri mu…??- gerutu batin ku.

Setelah kata2 terakhir ku dia tidak mengoceh kembali. Aku dan jinki tenggelam di dalam kesibkan sendiri. Entah dia di sibukan dengan pikiran semacam apa yang berada di benaknya.. aku sungguh tidak sangat peduli.

***

*yya!! Lee Jinki-ssi mengapa kau tidak mengakat panggilan ku?? Bagaimana pun keadaanya kau harus menemuiku di perpustakaan kampus jam 1 siang. Aku tau kau tidak mempunyai kelas di jam 1 siang..*

“wae-yo Minzzy ada masalah??” CL unni menyapa ku pagi ini. Dia yang pertama dari unni deul ku yang aku lihat pagi hari ini. Aku tak menyadari keberadaanya di sekitar ku karena aku sangat sibuk menghubungi Jinki yang sedari tadi tidak sama sekali tidak merespon ku.

CL unni menyamai langkah ku, kami berjalan berdampingan menelusuri lorong gedung ini. Walau tujuan kami berbeda tetapi belum saat nya kami berpisah untuk menuju kelas kami masing2.

“ani-yo unni hanya saja Lee Jinki tidak menjawab panggilan ku..” jawab ku jujur. Memang karena itu mood pagi ku hari ini menjadi sedikit buruk. Aku di buatnya kesal.

“nugu…?? Lee jin_”. “Lee Jinki, dia sunbae yang membantu tugas ku..” jelas ku yang sedikit memotong perkataannya.

“aaaaah.. Arosso..!! namja?? Ah, akhirnya kau mau untuk sedikit berhubungan dengan namja.” Dia mengkusuk-kusuk kepalaku, membuat rambut pendek hitam ku sedikit mengkusut.

“yya unni-ya.. kau menghancurkan tatanan rambut ku..!!” aku segera menyingkirkan tangan nya yang berbuat semena2 di atas kepalaku.

“peduli apa aku dengan tatanan rambut pendek mu..!! hhahhaha…” dia mulai mencoba memegan kepalaku lagi, kali ini dengan kedua tangan nya. “CL unni.. kau begitu menyebal kan..aaaaaaah!!!” aku segera melarikan diri meninggalkan nya dan pasti nya untuk menyelamatkan rambut ku dari tangannya yang sungguh menyebalkan itu.

****

“tuuuut..tuuuut..ttuuuutt..”

Kali ini dia benar2 membuat aku naik darah. Sudah genap satu jam aku menunggu namja kuno itu di perpustakaan, tidak peduli karena apa. Dia pun tidak menjawab semua panggilan ku sedari tadi. Apa yang dia ingin kan?? Menggalikan kuburannya saat ini juga?? Jika itu yang dia ingin kan akan aku lakukan setelah dia selesai membantu ku. Membantu tugas konyol ku ini. –big SHIT for hiiim… hhuwaa..!!- aku memendam amarah ku.

Dreet..ddreeett.. sebuah pesan dari namja kuno itu.

*aku tidak akan membantu mu lagi.. jadi tidak usah menunggu ku lagi. Aku tidak akan datang. *

Pesan macam apa ini. Apakah dia sudah mempunyai nyali cukup besar untuk mengirim taks pesan ini?? Lucu, hari ini dia benar2 membuat aku tidak bisa menahan rasa sabar ku.

“yya..!! sanbae kau tahu di mana chingu mu.. Lee jinki??” aku bertanya pada yeoja sunbae yang duduk tepat di depan ku.

“biasa nya dia …”

****

Jam segini sudah bersiap2 untuk pulang kerumah nya. Apa dia lebih babbo dari anjing pinggir jalan?? Lebih memilih pulang dari pada membantu mengerjakan tugas ku?? Dia sangat menyebalkan.

Aku terus berlari menuju pakiran sepedah. Berharap dia belum mengayuh sepedahnya dan pergi pulang. Begitu banyak orang di sekitar sini membuat aku sedikit kesulitan mencari sesosok Lee Jinki di sini. Aku memperluas pandangan ku, meneliti agar mampu mendapatkan sesosok yang aku cari.

“LEE JINKI –SSII!!” aku menemukan nya. Dia berada tidak jauh dari tempat aku berdiri. Benar kata yeoja sanbae itu Lee jinki sudah akan pulang. Dia sudah menaiki sepedah putih nya dan bersiap untuk segera meninggal kan lingkungan kampus ini.

Aku segera berlari kecil untuk segera menghampirinya.

“YYA!! Apa yang kau lakukan?? Kau tidak ingin membantu ku lagi??” aku berteriak di depan mukanya yang seperti nya menyimpan ketidak sukaan nya pada ku.

“bagaimana bisa aku mau membantu orang yang tidak tau berterimakasih…” celetuk nya pedas. Seperti nya dia tersinggung dengan sikap kasar ku kemarin.

“apa maksud mu?? Setelah kau membantu dengan sempurna aku akan mengucap kan terimakasih pada mu…” aku berpura2 tidak bersalah pada nya. Mungkin karena aku tidak mau untuk berminta maaf atau ego ku terlalu tinggi untuk mengakuinya.

“kalau begitu carilah orang yang tahan kepada yeoja kasar seperti mu. Jangan aku, jujur aku tidak terima sikap kasar mu pada ku…” dia memperjelasnya dengan membuang muka nya dari hadapan ku.

“kau ini terlalu membesar2 kan.. hati mu terlalu sensitive. Hanya seperti itu saja kau marah kepada ku..” . “aku tidak marah pada mu, hanya saja tidak tahan dengan sikap kasar mu.. cari lah orang lain..”

Dia sekarang jual mahal, menunjukan bahwa aku sangat membutuhkannya dan dia tidak mau untuk membantu ku lagi. Ini sungguh memuak kan.

“jowa..!! aku tidak membutuhkan mu lagi… tepat nya aku tidak membutuhkan namja banci seperti mu lagi..” aku berbalik badan meninggalkan nya. Segera dengan cepat meninggal kan nya. Aku ingin segera tidak melihat muka nya lagi karena aku begitu kesal dengan kelakuan nya kali ini. –yeoja kasar?! Cih dia pikir dia siapa mampu menilai ku seperti itu…-

****

Aku merebakan badan ku di atas kasur, sudah lebih dari 3 jam aku mengerjakan tugas ku tersebut sendirian di dalam kamar. Aku akan tetap mengerjakan nya walau si Babbo Lee itu tidak mau membantu ku. Mungkin dia berharap aku akan datang kepadanya lagi dan bersikap lembut pada nya. Bagaimana bisa aku bersikap lembut pada namja kuno itu?? Membayangkan nya saja sudah membuat aku mual setengah mati. Aiiish dia sungguh menyebalkan aku pikir dia bisa bersikap propesional kepadaku. Ternyata tidak. Dia tidak perlu berlaku seperti itu kepada ku, memang dia siapa?? “ AAAAAAAAAAAHHH!!!” Ini membuat ku gila.

Ttok ttok ttok ..

“minji-ya..??! kenapa kau berteriak?? “  suara yang tak asing lagi terdengar dari balik pintu kamar ku.

“oemma..??” aku segera bangkit dari kasur ku. Membukakan pintu kamar ku agar aku mampu melihat sosok nya. “kau_”. “aku datang dengan si kembar, adik mu. Hanya untuk menjenguk mu saja…” potong nya. Si kembar?? Adik seibu ku??. Mengapa harus mereka yang merepotkan lagi??

Oemma menikah kembali dengan pengusaha kaya di jejju, memang hal itu salah satu tujuan dari perceraian itu.

Ternyata pernikahan oemma dan appa tidak di restui oleh nenek dan kakek, tepatnya kedua orang tua dari oemma ku. Lalu mereka kawin lari. Mereka kira akan bahagia karena kehadiran aku di dalam hidupnya, tetapi ternyata tidak. Aku menjadi beban kenyataan karena oemma dan appa harus segera berpisah. Di tahun keberangkatan aku ke new york mereka berpisah, karena orang tua dari oemma sudah memaksa oemma untuk segera meninggal kan appa dan segera menikah dengan namja pilihan nenek, yaitu appa dari si kembar itu. Mereka sengaja melakukan nya ketika aku sudah mulai bersekolah di new york. Mereka tidak ingin aku mengetahui yang sebenarnya ketika usia ku masih dini. 11 tahun, usia ku saat itu. Jadi bisa di katakana oemma dan appa berpisah sudah 10 tahun yang lalu.

“wae-yo.. kau tidak suka oemma datang dengan si kembar??”  oemma menghamburkan lamunanku. “aaah. Ani-imnida.. hanya sedikit lelah saja dengan tugas2 kampus ku…” aku membuat alibi untuk menutupi ketidak sukaan ku pada ke dua anak nya itu.

“kau sudah makan malam??” . “sudah eomma tenang saja…”

“dengan paru2 mu, apakah kau sudah mengontrol nya kembali??” oemma mengingatkan ku. Aku lupa pesan appa yang itu, beberapa hari ini aku terlalu disibukan dengan hal2 yang tidak penting sampai2 aku lupa dengan kewajiaban ku yang satu itu.

“aaaaah, tentu sudah oemma.. hem, aku akan pergi tidur oemma..” aku berbohong. Memang harus berbohong karena oemma akan memberitahukan appa dan buruknya jika tidak appa akan memarahi ku sampai sekarat. Sungguh aku tidak ingin kan itu.

****

“NUNNAAA!!! IRONNAAAA..!!! “

Kedua iblis itu membuat keributan di atas kasurku. Mengguncang2kan nya, menghempaskan selimutku kelantai, berteriak2 seperti kesetan di telinga ku. Aku membuka kedua mata ku dengan penuh kebencian. Aku mendapati mereka duduk di kedua sisi kasur ku sambil tersenyum. Mereka pikir senyum mereka manis apa?? Terlihat seperti seonggok kotoran tepatnya.

“apa yang kalian lakukan disini..!! KKA!! Aku ingin beristirahat…”

“nunna… ayo lah hari ini libur, kita pergi bersenang2 ke festival. Seperti nya sangat menyenangkan…” kata si rambut pirang youngmin. –sepertinya membunuh kalian berdua lebih menyenangkan menurut ku…- batin ku. Ini kenyataan nya, aku memang ingin sekali membunuh mereka berdua di detik ini.

“atau datang ke pertunjukan musical. Aku mempunyai 2 tiket nunna, hanya aku dan kau, youngmin tidak usah ikut.. dia pasti menghancurkan suasana…!!” sambil menujukan k2 tiketnya yang kwangmin miliki. –sebenarnya kalian berdua yang menghancurkan suasana.. bukan youngmin saja..-

“ciih, itu membosankan!! Nunna pergilah dengan ku, aku jamin nunna tidak akan pernah bosaan..” . “apa maksud mu?? Nunna pergilah bersama ku… dia memang tidak tahu tempat menyenangkan oleh karena itu dia menganggap  konser classic musical ku membosan kan…”

Mereka mulai bertengkar, dan ini sangat membuat aku sakit kepala. Di hari libur ini, bisakah aku bernafas tanpa ada seseorang yang membuat ku kesal?.

“YYA!!! HAJIMA!!” teriak ku. “kalian membuat ku pusing saja, cepat keluar.. aku akan segera bersiap2 ..”  lalu aku bangkita dari tempat tidur ku.

“kau bersiap2? Hendak kemana nunna??” si pirang youngmin mulai khawatir aku sudah mempunyai rencana sendiri di hari minggu ini. Kehendak mereka akan kandas seketika jika hal itu benar.

“kemana saja yang kalian hendaki…” mau bagaimana lagi, mereka begitu antusias dengan nunna nya ini jika mengabulkan permintaanya kali ini tidak ada salah nya. Lagi pula aku tidak mempunyai acara apapun hari ini.

“YEAAAH!!” teriak mereka berdua berbarengan.

****

Festival. Badut, anak kecil, gula2, biang lala, lollipop.. aaagh apa saja lah, satu kata yang mewakili semua hal itu, yaitu ‘ramai’. Begitu ramai tempat ini sampai2 bernafas saja  terasa sesak. Aku tidak begitu membenci nya, menurut ku tempat ini lumayan menyenangkan. Apa lagi buat si babbo kembar itu, mereka seperti mendapatkan jekpot hari ini. Tidak mampu untuk menahan diri ketika melihat wahana permainan yang di sediakan mereka langsung meninggalkan ku. Sampai2 sekarang aku harus kehilangan mereka.

“bagus… si 2 babbo itu meninggal kan nunna nya yang beberapa menit yang lalu mereka eluh2 kan..” kata ku kesal.

Untuk pagi ini, aku tidak terlalu memerhatikan penampilan ku. Hanya memakai jeans hitam t-shirt, jaket, dan topi yang senada dengan t-shirt ku. Tidak lupa juga dengan spatu *sniker* ku. Tidak ada yang special dari cara berpakaian ku hari ini. Aku pun tidak memoles wajahku seperti biasanya. Terlebih lagi memakai asesoris blink2. Aku mengurungkan diri untuk memakai itu, hanya arloji saja agar aku mampu menyeret kembali si kebar itu dengan alasan sudah saat nya kita pulang.

“ajussi… aku ingin itu satu..” kata ku kepada seorang ajussi penjual gula2 pink di festival ini.

“ne, 10 won..” aku pun memberinya yang dia inginkan, begitu pun dirinya. Dia memberikan apa yang aku inginkan. Sebuah gula2 pink besar yang jika aku menggigit nya mampu menutupi wajahku.

“YYA..!! DDO BICHINIYYA..!!”

“mian.. mianhamnida.. aku tidak sengaja melakukan nya..”

“apakah kau tidak tau berapa harga kemeja ini. Seenak nya saja menodai nya dengan es krim murahan mu..”

keributan tiba2 hadir di tengah2 festival ini. Seorang namja berkemeja yang menurut ku biasa saja di tabrak oleh namja kuno dengan es krim nya yang mengenai kemeja murahan nya. Hm… memuakan sekali adegan ini. Orang2 di sekitar hanya suka menjadi penonton saja, menunggu kekalahan si kuno itu. Hhahhaha… “mwo kuno??” aku kembali menatap dalam2 seseorang yang kurang beruntung itu. Dan.. bingo !! aku mengenal nya. Sangat mengenal nya.

“mian-hamnida…”

“kau ini hanya meminta maaf saja dari tadi. Hal itu tidak mampu menghapus noda ini di kemeja ku…”

“geuroom.. ottokae??” . Babbo, jika seperti itu dia akan semakin di injak2 oleh namja itu. Apakah dia tidak pernah belajar membela diri sendiri walau dengan bicara saja??

“kau ini babbo atau_”. “yya..!! hajima… kau ini tuli atau apa?? Dia sudah meminta maaf sebegitu nya masih saja memarahinya..” kali ini aku yang menangani namja menyebalkan ini. Aku berdiri di antara mereka secara tiba2. Membelakangi Lee Jinki dan menghadapi namja dengan kemeja babbo nya itu.

“aiiish apa lagi ini?? Yeoja chingu nya..?? cih manis sekali, berlaga untuk membelanya_”. “hanya katakana saja apa yang kau ingin kan…” potongku malas. Aku tidak ingin berlama2 dengan namja bermulut lebar ini.

“kau mampu mengganti kemeja ku ini?? Hah?” kata nya, meremehkan aku. Tidak peduli harganya berapa, semahal apakah, tetapi aku memberikan uang yang cukup banyak.

“iggot!!!! kembalian nya kau ambil saja..” sambil meraih tangan Lee Jinki lalu menarik nya. Menggandengnya dengan erat dan menjauhi segera namja bermulut besar itu, menjauhi keramaian di festival ini. Langkah ku cepat dan genggaman ku erat. Tak tahu mengapa menggenggam tangan nya begitu nyaman, tangan nya yang jelas lebih besar dari tangan ku sukses menutupi sebagian dari punggung tangan ku. Hanya keempat jari2 ku yang tampak dari genggaman tangannya.

“yya.. mau kemana kita minzzy-ssi..” dia menarik genggaman antara kita. Dengan itu langkah ku pun terhenti. Aku berbalik badan dan mendapati nya tanpa senyuman. –yya !! Lee Jinki oppa, di mana senyuman mu itu..- batin ku mengingin kan yang dulu aku membencinya.

“tentu saja menjauhi namja bermulut besar itu..!!”  kata ku dengan sedikit menaikan nada bicara ku.

“kau kesal??_”. “bagaimana tidak ??  meliahat kau di marahi seperti itu, dia tidak mempunyai otak.!! Walau kau sudah meminta maaf padanya dia terus memarahi mu.. apa dia tuli hah!!” potong ku panjang.

“kamsamida..!! kamsamida..!!” dia melepaskan genggaman kita lalu memeluk ku erat. Dia memeluku dengan penuh kegirangan.

“apa yang kau lakukan Lee jinki.. jinki.. o oop_”. “aku sangat berterima kasih pada mu, sepanjang hidup ku tidak pernah ada yang membela ku.. aku sangat terharu..” dia memotong perkata an ku. Padahal hampir saja aku menambah imbuhan oppa pada nama nya.

“dengar !! tidak usah berlebihan seperti ini… lepas kan aku.. pelukan mu membuat aku sesak nafas.. “ aku menepuk2 punggungnya berharap tangan nya membuat jarak agar kepalaku tidak terlalu tenggelam di dada kirinya.

“aaah mianhae2.. aku terlalu berlebihan.. “ sambil melepaskan pelukan yang dia buat tadi. Aku diam, dan dia pun diam. Tampak ada senggang waktu yang memaksa kita mengingat kembali kejadian kemarin. Kejadian kemarin yang membuat sikap ku sekarang pada nya sedikit sungkan atau gugup.

“kau..?? mengapa dengan penampilan mu hari ini.. tidak seperti biasanya..” dia menyadari perbedaan ku hari ini.

“ooh. Itu aku sedikit malas.. jadi aku, aku.. hem aku.. “ aku bingung harus mengatakan apa tentang hal ini.

“arosso, aku memahami nya.. hem, tenang saja meskipun begitu kau tetap terlihat yeoppo..” lalu memberikan ku senyuman itu.

Aku sempat ingin menampar wajah ku sendiri. Aku tidak mempercayai apa yang dia katakana sedetik yang lalu. ‘tetap terlihat yeoppo’. Lalu tersenyum manis kembali. Mendengarnya dan melihat nya membuat ku sukses menahan malu. Aku rasa muka ku sekarang memerah. Aku tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Biasanya tidak seperti ini ketika aku di nilai yeoppo oleh seorang namja tepat nya appa. Mengapa yang ini rasanya seperti.. seperti, entah seperti apa tapi ini sukses membuat ku ingin berlari lalu menenggelam kan muka ku kedalam sungai Han. Malu bercampur… entah apa perasaan itu.

“yya.. !! minzzy-yya ,,?! Mengapa dengan diri mu..” aku masih tidak menghiraukan pangilan nya. Aku masih tidak mampu mengendalikan diriku. Yang aku lakukan hanya memikirkan respon apa yang harus aku lakukan.

“aaaah.. kau aneh sekali.. kajja kita bersenang2. Kau datang kesini bukan untuk melamun bukan..” sembil menggenggam tangan ku lalu menarik ku kearah yang dia kehendaki.

Kami saling menggenggam kembali. Dan rasa nyaman  itu pun  kembali. Aku tak mampu menolak nya karena aku tidak mau. Aku biarkan tangan ku di genggam oleh namja yang bernama Lee Jinki itu. Namja yang menurut ku kuno dan lembek. Dan sekarang aku tak mampu menahan tawaku beriringan dengan tawanya. Rasanya menyenangkan sekali.

****

“dia siapa nunna?? Jangan katakana dia adalah namja chingu nunna..??” youngmin masih terlihat shok ketika menemuka aku bersenang2 dengan Lee Jinki hari ini. Dia terus bertanya tentang siapa dia, dan apa hubungan kami. Tapi aku tetap saja tidak menjawabnya.

“yya, nunna jawab, jangan pura2 tidak mendengarnya..” youngmin tampak nya mulai kesal dengan sikap ku kali ini.

“yya!! Youngmin, biarkan saja. Mungkin nunna sedang sibuk memerhatikan jalan. Dia harus menyetir dengan benar jika tidak kita bertiga akan mati. Hhahha..” kata kwangmin lebih tenang dari pada saudara kembarnya yang satu ini.

Kami bertiga memang sedang berada di dalam monster ku. Hari sudah mulai sore, dan aku rasa hari ini sudah cukup sangat menyenangkan. Bagi mereka mau pun bagi diriku. –gomawo jinki oppa..- lalu sesekali tersenyum ketika membayangkan saat2 hari ini.

“lihat!! Lihat dia kwangmin.. nunna tersenyum sendiri.!! Jangan bilang kau menyukai namja kuno itu!!”

“yya !! biarkan saja. Jika nunna menyukainya, mengapa tidak?? Hhahhaha. Namja itu terlihat tidak begitu buruk. Aku rasa kau jauh terlihat buruk ketika bersebelahan dengan nya..”

“apa katamu !! jelas aku lebih baik dari nya…”

Celotehan kedua adik ku mengiringi perjalanan pulang kami. Di sepanjang jalan aku hanya menyetir dengan baik dengan sesekali membayangkan senyuman manis yang di buat Lee Jinki. Tanpa mendengarkan entah komentar apa yang di lontarkan kedua adik ku, aku terus tenggelam dalam pikiran ku sendiri.

“NUNNAA! APA KAH KAU SUDAH GILAAA!!!” teriak youngmin frustasi ketika melihat ku yang sesekali tersenyum sendiri sambil menyetir.

****

Hari yang cukup panas untuk berdiam diri di taman belakang kampus. Aku lebih memilih caffe langganan kami, aku dan unni deul. Walau saat ini mereka tidak sedang bersama ku, tetapi tidak ada salahnya aku berdiam diri di sini. Sambil di temani secangkir capucino dingin aku menyelesai kan tugas papper ku. Besok adalah hari terakhir untuk menyerahkan tugas ini. Yya.. walau tanpa bantuan Lee jinki aku tetap harus menyelesaikan tugas ini dan menyerahkan pada dosen menyebalkan itu.

Cukup di sesali hari ini Lee Jinki tidak duduk di sampingku. Yyah, walau tidak di samping ku, setidak nya dia bisa duduk di hadapan ku. Sambil tersenyum  manis memberikan rasa nyaman pada diri ku yang memandang nya. Tapi tidak. Entah dia tidak tahu di mana. Selama hari ini berjalan, aku tidak menemuinya. Alasan nya mengapa aku tidak tahu. Mungkin hari ini dia sedang libur atau tidak ada jam kelas jadi aku sama sekali tidak menemukan nya. Mencium kekunoan nya pun tidak sama sekali. Sangat disayang kan, padahal kemarin kita sudah berbaikan. Dan hari kemarin begitu menyenangkan menurut ku. Terlebih lagi dia mengatakan bahwa dia sangat menyukai ketika aku sedang tersenyum. “tak ku sangka yeoja sekasar diri mu ini mampu tersenyum sebegitu manis nya. Mengapa kau tidak tersenyum saja setiap hari agar mengurangi jumlah musuh mu di kampus…” . kata nya seperti itu. Tetapi mengapa dia harus mengatakan hal2 yang tidak menyenangkan ketika sedang memuji ku. Sungguh menyebal kan.

“yya minzzy babbo..!!! aku sangat merindu kan mu.. bogoshipo sooo..!!” dari belakang pundak ku di peluk erat oleh salah satu unni deul ku. CL unni. Memang dia yang aku rasa sangat dekat dengan ku.

“ne unni, bogoshipo soo..!!” aku memegangi lengan nya yang melintang di tulang belikat ku.

“heem… ipeun da… !!” sambil mencubiti pipi ku. “tumben sekali kau bersikap manis hari ini..” Boom unni tidak berhenti melepaskan jari2 lentik nya dari pipi ku. Dia terus menybit pipi ku sambil menggoyang2 wajah ku ke kiri dan ke kanan.

“apa-yo unni..!!” kedua tangan ku mencoba untuk melepaskan cubitan nya.

Setelah saling melepas rindu. Mereka duduk di depan ku. Antara kami terhalang laptop ku. CL unni, Park Boom unni. Kurang satu unni ku. Sandara Park unni. Kemana dia?

“kemana Dara unni ?? dia tidak bersama kalian??” belum sempat mereka menjawab nya tiba2 ada seseorang duduk di sebelah ku. Dia sesosok nya aku cari sedari tadi. Dengan senyum nya dia mengkusuk2 kepalaku. “rupanya kau merindukan ku juga…”

“najima unni…!” untuk sekian kalinya aku melindungi bagian tubuh ku. Kali ini unni ku sepertinya bertambah agresif.

“aku melihat perbedaan pada diri mu minzzy… “ apa lagi ini?? Dara unni ingin menghakimi ku lagi??

“mwo ??”  Tanya ku yang sungguh tidak mengerti maksud dari yang Dara unni katakana.

“kau terlihat lebih manis hari ini. Yya !! wae-yo?? “. “ne big WHY for you..!!”. “buut nan neun jowaaa…. !!”

Mereka tidak memberi aku kesempatan untuk menjawab nya. Dara unni di sahut oleh CL unni dan terakhir Boom unni. Aku harus jawab apa ?? pertanyaan nya pun aku tak mengerti bagaimana cara menjawab nya…

“molla.. molayyoo..!!”

“apa maksud mu molla..!! huh.. aku tidak menginginkan jawaban itu.. aiiish..!!” tampak CL unni kecewa.

Di tengah2 kami berbincang2 aku mendapatkan pesan taks dari Lee Jinki. Sedikit shok yang di lanjutkan menjadi gugup. Unni deul ku tak menyadari nya. Untung saja. Kalau tidak mereka bisa saja mendatangi Lee Jinki lalu mengintrogasi lebih lanjut. Sedikit berlebihan, tetapi mungkin saja karena rasa penasaran memuncak mereka di tambah lagi dengan sikap agresif yang mereka miliki.

*minji, bagaimana dengan tugas mu? Kau tidak membutuhkan bantuan ku lagi?? Jika kau membutuhkan nya kau bisa datang ke rumah ku… ini alamat nya bla bla bla..*

Segera aku melihat arloji ku. “jam 2 siang hem… memang ini jadwal nya..” gumam ku pelan.

“jadwal apa??”  Dara unni menyadari nya. Bagaimana tidak dia tepat ada di samping ku.

“aaah.. ani, ani-yo..!!”

mian hamnida kalau ceritanya datar. mungkin ini ff pertama ku setelah sekian lama tidak menulis ff lagi. jadi harap dimaklum dengan tulisan ku ini yang mungkin sedikit membosankan.  yang sudi membaca terimakasih, dan akan lebih berterimakasih lagi yang sudi meng-like atau mengkomen tulisan ku.

kamsamida 😀

Iklan

Satu respons untuk “better spend with you (part 2)

  1. AllRiseJe berkata:

    aku kok ga dapet feel dari ff ini ya, ras?
    gara-gara sensi sama jinki nih. rotflol.
    oh iya, koreksi, kotak hitam itu identik sama tv. jadi agak aneh aja kalo bilang hape itu kotan hitam.^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s