Better spend with you (part 3) -end-

“aneyohaseyoo ajhuma..” aku memberi hormat pada ajhuman yang membukakan pintu untuk ku. Aku sudah berdiri tepat di depan rumah si kuno Jinki. Hal ini asing. Seperti bukan diri ku. Mengunjungi rumah seseorang yang sebenarnya aku mempunyai hubungan dengan nya hanya sebatas patner saja. Aku seperti kehilangan harga diri ku.

“ah, aneyonghaseyoo. Kau minji bukan?? Masuk lah, tadi jinki sudah memberi pesan pada ku bahwa ada seorang yeoja tembem akan mencari nya..” mendengar apa yang dikatakan ajhuma tiba2 aku menghembuskan nafas kebencian. -Ddo!! LEE JINKI-yya!!!-. Apa maksud dia mengatai aku tembeeem!!.

“ah, ne.. bisa kah aku bertemu dengan nya ajhuma??” sambil menahan kekesalan ku yang mulai memuncak.

“ne, arosso.. lewat sini..”

Aku di antarnya menuju ruang tamu. Mata ku pun mulai berrekreasi meneliti sudut persudut dari ruangan ini. Begitu banyak benda2 seni di ruangan ini. Patung2 yang terbentuk dari tanah liat, dan ada juga guci2 yang berlekuk2 indah di setiap sudut ruangan ini. Seperti nya keluarga ini sangat memuja seni yya… tapi mengapa si kuno itu terlihat sama sekali tidak berseni. Aku lebih suka melihat penampilan ibu nya dari pada penampilan si Lee itu. Bau dan basi.

“aneyooong minzzy…” si bau dan basi itu pun datang.

“yya !! kau mengatakan apa pada oemma mu tentang diri ku..??!! yeoja tembem !!!  aish… tidak cukup kah kau menyebut ku yeoja kasar??” dia datang, dan aku pun langsung melampias kan kemarahan ku yang sempat tertahan beberapa menit.

“hhahhaha… kau cepat sekali marah yya. Sudahlah.. apa yang bisa aku bantu?? Aku tidak mempunyai banyak waktu sekarang..” kali ini aku melihat nya seperti namja. Mungkin kemarin juga, tidak. Mungkin kemarin nya lagi, atau tidak… mungkin dari awal dia datang kepada ku sebagai namja tetapi mengapa baru aku rasakan sekarang. Merasakan seperti… dia begitu tampan.

“aiiissh bisa2 nya..!! sudah lah, aku hanya ingin kau mengoreksi tugas ku kembali.. aku mengerjakan nya sendiri. Yyah, apa boleh buat??” sambil menyodorkan laptop ku yang sudah aku nyalakan sedari tadi.

“aigoo, tak ku sangka kau yeoja yang mandiri juga. Ketika aku tidak mau membantu mu, kau mengerjakan nya sendiri. Atau tidak, kau hanya mengutamakan ego mu untuk tidak meminta ku membantu mu kembali. ..??”  celoteh nya sambil melihat2 tulisan ku, yang sedari kemarin aku mengetik nya sendiri tanpa bantuan nya.

“kau ini, sangat senang sekali menilai seseorang.. hentikan celotehan mu. Cukup kerjakan saja tugas mu jinki o.. oop..oopp_”. “yya!! Ini sungguh tidak singkron dengan kalimat selanjut nya.. dan ini, kau ini bukan pengarang yang handal. Bagaimana bisa kau mengarang sesuatu yang tidak mungkin seperti ini.. atas nama ku lagi. Kau selalu saja semena2 kepada orang lain..” dia mengomel kembali. Mengomentari semua tulisan ku yang menurutnya cacat. Mungkin sangat cacat. Tapi mengapa dia tidak membiarkan aku menyelesaikan perkataan ku. Aku sedang berusaha memanggil nya oppa.

“YYA!! Berhenti berkomentar!! Hanya membetul kan saja apa yang salah.. selebih itu tidak seharus nya kau utarakan..” aku membentak nya. Memarahinya lagi. Tetapi kini dengan sangat hati2. Aku tidak mau tittel yeoja kasar itu selalu bersanding dengan diri ku. Gong minji.

“geudhe… geudhe aku lakukan…” sambil terus mengoreksi tugas ku. Tidak butuh waktu satu jam dia melakukan tugas nya dengan sangat baik. Aku kagum pada cara kerjanya yang cepat dan memuaskan. –Lee Jinki oppa?? daebaaak..!!-

“lama sekali kau memproses tugas ku ini..” aku berbohong.

“ini saja sudah aku percepat..!! aku akan melakukan tugas ku yang lebih penting dari ini.. “ lalu meneguk kan segelas air putih yang di sediakan sedari tadi.

“memang kau mempunyai tugas apa?? Sebegitu penting kah??” kali ini aku yang mewawancarai nya. Tidak biasanya aku mencampuri urusan orang lain. Dengan ini aku sudah dua kali mencampuri urusan orang lain. Kemarin dan hari ini. Sungguh bukan Gong Minji yang aku kenal.

“tugas ini penting, karena tugas ini sudah seperti sebagian dari jiwa ku.. ketika aku tidak melakukan tugas ini, rasanya seperti jiwa ku separuh hilang. Hhahaahha. Mungkin terlalu berlebihan tetapi memang ini yang aku rasakan….” Jelas nya yang sama sekali tidal membuat aku mengerti.

“kau banyak bicara, tetapi sama sekali aku tidak mengerti apa maksud mu. ..” komentar ku pedas. Semoga saja dia tidak terlalu memperdulikan kata2 ku tadi.

“kau ingin mengetahui nya??”. “ne, arosoo..!!” kata ku menantang. Sangat tidak sabra untuk mengetahui apa yang jinki maksud.
“kalau begitu ikut aku..” lalu bangkit dari duduk nya. Aku pun mengikutinya.

Aku mengikuti kemana langkahnya. Dia melangkah masuk ke lebih dalam dari rumah nya, dengan ini aku lebih mampu melihat seisi rumah nya. Sama seperti ruang tamu nya, begitu banyak patung2 seni, guci2, dan berbagai perabotan seni yang di buat dari tanah liat. Seperti nya keluarga ini menyukai seni bentuk keramik. Menakjubkan dengan rumah sebegitu besar ini banyak sekali seni keramik yang keluarga ini punyai, pasti harganya sangat mahal. –daebaaaaak…-

Langkahnya terhenti di depan tangga yang menurun. Dia berbalik badan sampai aku mampu melihat wajah nya kembali. “apakah kau takut kegelapan..??” aneh sekali, mengapa dia tiba2 bertyanya seperti itu. Apakah dia mau mengubur ku di dalam tanah secara tiba2??

“ani-yo.. wae??” Tanya ku penasaran. “geurom, ini adalah ruang bawah tanah ku, cukup gelap tetapi tenang saja aku mempunyai lampu di dalam nya jadi kau tidak perlu khawatir..”

“oh, ne..”  pantas saja ada tangga menurun di sini, rupanya dia mempunyai ruang bawah tanah. Wow, ternyata si kuno ini mempunyai hal yang keren juga.

Aku pun mulai melangkah lagi menyusuri anak tangga yang menurun itu. Aku melangkah penuh hati2 karena cukup gelap lorong bertangga ini. Sedikit menyeram kan. “yya !! mengapa kau tidak memberi beberapa lampu di lorong bertangga ini..” sambil meraba2 dingding sekitar.
“lampunya rusak, wae-yo?? Kau takut?? Tenang saja lorong ini tidak begitu panjang ..” suara jinki sedikit bergema. Seperti nya dia berada jauh di depan aku.
“jinki yya !!! kau meninggal kan ku…!!! Kyaaaaaaa…… !!!”

BRUUUUK…

Aku terjatuh karena panic jinki tidak ada di depan ku, bagaimana tidak lorong ini begitu gelap walau hari di luar masih sore aku tetap saja merasa takut karena tidak sedikit pun aku mampu melihat sesuatu di sini. Jika iya, aku takut melihat sesuatu yang non-materi. Keadaan ini sungguh menyeramkan.

Aku terduduk di anak tangga kecil ini. Menenggelam kan wajah ku di lutut kaki, dan tanpa sadar aku membasahi lutut ku dengan air mata ku.  “apa-yo…”
“minzy-ya..?? gwenchana-yo??” jinki datang. Suaranya tampak lebih dekat dibandingkan tadi. Aku mengangkat kepala ku lalu mendapatkan nya sedang menyoroti wajah ku dengan sinar dari phone nya. “apa-yo…” jawab ku.
“hem.. pegang dengan erat…” dia membalikan badannya lalu menyodorkan punggung nya. Dia menggendong ku di tengah2 kegelapan ini. Aku membelitkan tangan ku di antara tulang belikat nya. Seperti nya ini jarak terdekat antara aku dan jinki. Sangat dekat aku rasa,  aku sampai mampu mencium aroma tubuh nya. nyaman itu pun kembali aku rasakan.

“yya !!jinki babbo!!!” sambil mendaratkan pukulan di kepala nya. “aish apa-yo..!!” teriak nya.
“mengapa kau meninggal kan aku jauh di belakang mu, aku mendadak panic!! Kata mu lorong ini tidak panjang, kau berbohong…” dan sekarang aku meremas2 kepala nya sambil mengguncang2 kan nya ke kiri lalu ke kanan. Sungguh tindakan nya tadi sangat menyebal kan.

“yya… hajima!!! Ini sudah sampai…!!”

Anak tangga pun habis dan kami berdua masuk ke satu ruangan yang pintu nya tak terkunci. Tangan ku yang membantu jinki untuk memutar knop pintu itu, secara kedua tangan nya menopang berat badan ku di punggung nya.

“masih gelap, di mana saklar nya…” Tanya ku. Jinki berjalan lalu tiba2 berhenti di depan salah satu dingding ruangan ini. “cari lah, kalau tidak salah di dekitar sini..”
“apa maksud mu kalau tidak salah_”

KLIK…

Keadaan nya pun jauh berbeda. Cahaya lampu pun mulai memusnahkan kegelapan yang ada. Kini aku mampu melihat keadaan sekitar, keadaan ruangan ini. Penuh dengan benda2 seni keramik. Ternyata benda2 seni yang menghiasi rumah tersebut asalnya dari sini.

Jinki menurunkan ku dengan sangat hati2 di salah satu kursi yang tersedia. Aku pun duduk manis di kursi kayu itu dengan sempurna.

“bagaimana?? Masih terasa sakit??” kali ini dia berlutut melihat pergelangan kaki ku. “sudah tidak terlalu, aku membaik. Gomawo..” kata ku menenangkan nya.

“kalau seperti ini..??” tangan nya memutar pergelangan kaki kiri ku. Dan rasa nya begitu…

“APA-YO !!! KYAAAAA…!!!! HAJIMAAA…!!!” aku berteriak menahan sakit dari apa yang dilakukan jinki. Spontan aku menendang nya dengan kaki kiri ku yang mungkin sekarang sudah cedera.
“yya..!! mengapa kau menendang ku, aku hanya ingin mengetahui kau cedera atau tidak.. dan sepertinya kau sedikit cedera..” jinki terduduk dilantai karena tendangan ku tadi. Seperti nya sedikit menyakit kan, -hhaha, mianhae oppa..-

“apa maksud mu sedikit??”

“ketika tadi pergelangan mu aku putar terasa sakit bukan?? Itu bertanda kaki mu cedera, tetapi tidak parah jika di pijat sedikit mungkin akan segera sembuh..” dia mulai mendekati kaki kiri ku lagi. Aku menarik kedua kaki ku sampai aku mampu memeluka nya di atas kursi ini.
“hajim!!!! Shiro..!! shiro-yo!!!” teriak ku menghalangi maksud nya.
“baiklah.. igot, hapus ingus mu itu.. mengapa seperti itu saja bisa menangis..” sambil memberikan sapu tangan coklat bermotif kotak2 sama seperti kemeja yang dia pakai sekarang. Ada apa ini?? Dia sangat mempunyai selera kuno, style seperti ini lebih cocok di pakai oleh seorang ajushi yang sudah berumur. Sebentar, dari mana dia bisa tahu aku menangis, keadaan nya kan sangat gelap.

“bagaimana tidak, keadaan nya sangat gelap dan kau meninggal kan ku, napeun !!!! .. hem, aku hanya sedikit menangis. Nomu chogem !!!”  sambil mengerucut kan bibir ku lalu mengambil sapu tangan itu. Kali ini aku sungguh sangat malu, seorang Gong minzy terlihat lembek di depan namja lembek.

“sedikit atau banyak, yang nama nya menangis yya tetap saja menangis.. “ dia mulai berdiri lalu berjalan mendekati hem.. seperti nya kursi kerja nya. Sebuah kursi kayu yang di hadapan nya terdapat silinder pejal yg mampu berputar ketika di injak pedalnya. Dia duduk lalu mengambil gumpalan tanah liat yang berada di sampingnya. Lee jinki yang kuno sekarang lebih terlihat seperti seorang seniman yang handal. Atau mungkin memang handal.

“ini karena aku panic saja..!! …..hem semua benda2 seni keramik ini kau yang membuat nya??” aku memastikan hal2 yang aku lihat di sekitar ini adalah hasil karya nya.
“ne, arosso.. wae-yo??” dia memulai berkerja. Tangan nya dengan lihai membentuk gumpalan tanah liat itu menjadi benda yang berseni nantinya.

“wow, daebak…!! aku kira bukan kau yang membuatnya. Lalu sekarang kau akan menciptakan apa ?? sebuah patung?? Atau guci?? Atau juga sebuah benda2 seni keramik lain nya…?” aku terus menanyainya, karena aku rasa aku sudah mulai asyik berbincang2 dengannya. Dia yang duduk beberapa langkah didepan ku masih saja terdiam karena sedang memfokuskan konsentrasi  pada pekerjaan seninya itu. Ekspresi nya terlihat lucu terlebih lagi dengan kaca mata bulatnya. Seperti seniman kuno yang mempunyai masalah dengan selera berpenampilannya. Hahhahah ..

“kali ini aku akan membuat patung, tetapi kepalanya saja…” dan akhirnya dia menjawab nya.
“patung kepala?? Patung kepala nya menyerupai siapa??..”

“tentu saja patung kepala yang aku buat menyerupai kau. Maka dari itu jangan cerewat…!!! diamlah sejenak sampai aku mampu membentuk tanah liat ini menyerupai wajah mu…” jelas nya yang sepertinya sedikit terdengar memarahi ku.

“AROSSOO!!” jawabku sewot.

Changkeman. Dia bilang menyerupai wajah ku, apa yang dia lakukan seenak nya saja menentukan siapa model atas patung yang dia buat tanpa meminta persetujuan dari sang model. Bisa2nya. tetapi berhubung aku sedang berbaik hati hari ini tak jadi aku hajar si Lee itu.

Dia membisu tanpa kata dan tangan nya terus saja membuat bentuk dari tanah liat itu. Sesekali dia melihat kearah ku lalu kembali lagi dia memfokus kan mata nya pada tanah liat itu. Aku pun diam tanpa kata. Yang aku laku kan hanya memandangi nya yang sedang berkerja. Melihati nya tanpa melakukan apa pun tidak membuat aku bosan. Walau dia memang terlihat basi dan kuno tetapi tidak tahu mengapa mata ku begitu nyaman memandanginya. Menit berlalu menjadi jam, dan entah berapa lama kami habis kan di dalam ruangan ini. tatapi walau begitu lama rasa nya tetap sama, tidak bosan dan nyaman selalu rasa nya.

****

“yya minzy-ya, irona.. aish bisa2 nya kau tertidur ketika sedang menjadi model ku..” suara itu pun mulai membuat kesadaran dari mimpi ku.

“heem… mwo?? Huaaaam..” aku masih merasakan ngantuk, sesekali aku pun menguap untuk melepas kantuk ku.

“yya irona..!! aku sudah menyelesaikan nya, dan sekarang waktu nya makan malam…”

“geudhe..?? aaaah, lama sekali. Membuat ku bosan, mana hasil nya aku ingin lihat??”  aku pun memaksa berdiri dengan pergelangan kaki kiri ku yang terasa sakit. Walau sedikit meringis kesakitan aku tetap memaksakan kaki ku untuk berdiri. Melangkahkan beberapa langkah melewati tubuh jinki yang berdiri di depan ku.

“yya, hati2 kaki mu itu sedikit cedera..” jinki segera memegangi pundak ku lalu memapah ku ke tempat yang aku kehendaki.

“ini hasil nya?? waaaaah…!! chalantaaa..!!hem.. changkeman, mengapa pipi ku begitu tembem di situ?? Ini terlalu tebal, kau berlebihan. Kurangi tanah liat nya di bagian itu..!!!”  hasil nya bagus tapi mengapa menjadi sangat menyebalkan jadinya.

“ini aku buat sesuai kenyataan nya… kau tidak tahu?? karena pipi mu yang tembem itu  menghabiskan banyak tanah liat … sangat merugikan ckckck” lalu menggeleng2kan kepalanya. Apa maksud nya?? dia ini begitu menyebal kan…

“Aiiisshhh kau ini !!!!!”  aku mulai menahan kekesalan ku lagi. Menatap nya penuh dengan kebencian dan menghembus kan nafas membunuh ku kencang2.

“minzy, gwenchana?? Mengapa lubang hidung mu membesar..??”

“KYAAAAA…!!!! JINKI-YA!!!!!!!!!!!!”

****

“khamsamida atas makan malamnya. Sungguh sangat lezat…”

Malam ini aku makan malam di antara keluarga Lee. Keadaan mereka lengkap. Appa Lee, Oemma Lee, dan kedua anak nya. Lee hyuk jae dan Lee Jin ki. Aku tidak menyangka jinki mempunyai kakak namja. Dia  terlihat begitu *borju*. Style nya bagus dan sama sekali tidak seperti jinki. Hanya saja lebih menyebal kan dari pada jinki. Aku yang tidak sengaja makan makan bersama mereka merasa sangat iri. Bagaimana tidak?? Keluarga Lee ini sangat harmonis menurut ku. Jinki yang masih saja terlihat manja dengan oemma nya dan ketika itu spontan Appa nya berceloteh memarahi sikap anak terakhir nya itu, dan tak jarang Jinki dan Hyuk jae berebut makanan walau masih banyak stok makanan serupa di piring lain. mereka tidak mau mengalah antara satu dengan yang lain. Ini begitu aneh. Dan satu lagi yang aku ketahui dari seorang Lee Jinki selain keadaan keluarganya yaitu rupanya seorang Lee Jinki mempunyai porsi makan begitu banyak. Lebih banyak dari pada Hyungnya. Pantas saja ketika di lihat dari perawakan nya, Jinki jauh lebih besar dari pada Hyung nya, Hyuk jae.

“aaaah, cheonman-imnida… tidak perlu sungkan. Kami sangat senang dengan kedatangan minji di makan malam hari ini…” Oemma Lee memang begitu baik. Dia mengatakan nya sambil memegang tangan kanan ku, memang jarak kami dekat. Beliau duduk tepat di samping ku.

“jika kau mau, kapan saja kau bisa datang kemari lagi walau hanya untuk sekedar makan malam…” kali ini Appa Lee angkat bicara.

“Appa ! itu namanya tidak tahu malu… “ celetuk Hyuk jae yang mendatang kan polesan keras di kepala nya. tentu saja Appa nya yang melakukan nya, mereka duduk bersebelahan tepat di depan ku. Aku yang melihat nya hanya bisa tertawa kecil. –rasa kan itu Hyuk jae…!!!-

“bagaimana yeobong ?? dia begitu mirip dengan aku bukan ketika muda dulu..??” kata Oemma Lee dengan masih memegangi tangan kanan ku. Tanggapan ku hanya tersenyum saja. Entah mengapa beliau berbicara seperti itu.

“hhahahhaha… aku lupa wajah mu ketika muda dulu seperti apa??” jawab sang Appa yang sangat tidak memuaskan bagi sang Oemma. “bagaimana kau ini.. jahat sekali melupakan bagaimana aku ketika muda..” gerutu Oemma Lee kesal. Dan tetap aku hanya bisa tersenyum melihat keadaan ini.

“hem, menurut ku kahi yang dulu atau kahi yang sekarang kau tetap kahi ku yang aku kenal…” lalu tersenyum manis.

“ooh, yeobong …” senyuman nya pun di balas dengan senyuman lagi dari bibir indah sang Oemma Lee.

“ayolaaaah Oemma Appa..!!! apa yang sedang kalian lakukan..” jinki berteriak sambil mengusap keningnya dengan tangan kanan nya.

“aku baru saja makan, mengapa harus di paksa untuk muntah??!!” komen Hyuk jae yang terdengar sangat pedas. Bisa2 nya dia berbicara seperti itu pada orang tuanya. Tetapi aku hanya bisa tertawa kecil melihat keadaan ini. perbedaan karakter yang kontras antara saudara membuat suasana lebih menyenangkan.

Sekali lagi Jinki mengukir senyuman di bibir ku. Kemarin dan hari ini. –gomawo oppa…-

****

*Appa pulang hari ini, kau senang??*

Aku menrima massage dari Appa, isi nya membuat guratan senyuman di wajah ku. Sudah hampir 2 minggu Appa meninggalkan aku sendiri di rumah. Aku sangat merasa kesepian walau biasa nya aku memang kesepian tetapi yang ini berbeda. Appa pergi ke new york untuk mengurusi pekerjaannya, jika hanya di korea saja aku masih tidak begitu kesepian. Ini sangat jauh dari rumah, dan beliau tidak sama sekali pulang ke rumah untuk beristirahat. Maka dari itu aku sangat kesepian jika harus di tinggal ke luar negri.

*Tentu saja aku merasa senang !! Appa tunggu aku di rumah, jangan pergi lagi. Beristirahat lah.. arachi??*. Aku pun membalas massage nya dengan rasa riang. Pagi2 seperti ini sudah mendapatkan berita baik, mood ku menjadi bagus.

BRAAAAAAK..

Aku menuruni monster ku, lalu menyapa matahari pagi yang berada di atas gedung kampus. Karena matahari pagi ini begitu bersemangat untuk bersinar, aku pun memutuskan memakai kaca mata hitam. Mata ku yang berpoles airliner pun tak terlihat, tertutupi kaca mata hitam. Aku melangkah pasti menuju area kampus, perlahan tanpa memerhatikan keadaan sekitar. Seperti biasa seorang Minzy jika sedang berjalan, seperti dunia milik sendiri. Siapa kamu? Aku tidak peduli…

Aku berjalan. Dan ketika aku memasuki pintu gedung kelas  kampus ku, aku dihalangi grombolan orang2. Mereka bergerombol melihati sesuatu. Madding kampus tepatnya. Mereka rela berdesak2 an untuk melihat sesuatu yang tertempel di madding tersebut. Seperti biasa, aku pun tidak peduli. Malas untuk berdesak2 an dan melihat nya. jika ada pengumum an pasti akan muncul di web kampus, jadi aku tidak perlu khawatir ketinggalan pengumuman tanpa harus berdesak2an.

“WOW..!! SEORANG MINZY MEMPUNYAI SELERA NAMJA YANG UNIK BUKAN SUNNY??”
“NE JESSICA, DIA MENOLAK LEE DONGHAE OPPA DAN TERNYATA LEBIH MEMILIH LEE YANG LAIN.. YANG TENTU NYA TIDAK LEBIH BAIK DARI LEE DONGHAE..”

Aku di hadang oleh 2 yeoja pengganggu. Sunny dan Jessica berteriak di depan muka ku, seperti nya mereka berdua ingin mencari sensasi kembali dengan ku. Sungguh menyebalkan sekali.

“ apa yang kalian inginkan dari ku??” jawabku malas. Mood ku sedikit memburuk ketika berhadapan dengan 2 sanbae ku ini.

“apa yang kau ingin kan katanya… hhahaha, tidak banyak hanya ini “kata Jessica  sambil menunjukan sebuah selembaran poster gambar dengan artikel di sampingnya.

“tolong jelaskan perihal ini…” Sunny yang berada di samping nya pun ikut bersuara. Aku membuka kaca mata hitam ku, lalu melihat poster apa yang mereka tunjukan.

Mataku terbelalak ketika melihat gambar yang berartikel itu.

“Minzzy dan Jinki adalah pasangan yang babbo… apa ini ??!!! siapa yang membuat tulisan sampah ini??” aku seperti di sambar petir pagi2. Mereka mempermainkan ku dengan Jinki sekarang. Tapi mengapa harus dengan Jinki. Dia hanya sekedar namja sanbae ku yang berbaik hati untuk membantuku.

“baca yang lengkap Minzzy sayaaaang… di sini di tuliskan, kau Gong Minji bermain ke rumah nya Jinki lalu makan malam bersama dengan keluarga Lee.. waaaagh manis sekali kamu..” Jessica terus mengolok2 aku dengan Jinki.

“siapa yang membuat artikel babbo ini??!!” tanyaku yang mulai terlihat bahwa aku kesal.

“tunggu2 ada lagi, ini adalah foto ketika Jinki mengantarkan Minzzy masuk kedalam monster merah nya. lihat Minzzy lihaaat!! Kau ini begitu cocok dengan nya…” Sunny menujuk2 foto ku dan Jinki. Aku hanya bisa melihatnya kesal. Apa yang harus aku lakukan pun aku tidak tahu.

“aku tak menyangka, kau lebih memilih Jinki bau dari pada Donghae oppa.. itu tidak lebih baik!!” Jessica mulai berceloteh kembali. Dia mencoba membanding2 kan Jinki dengan Donghae, dan perbandingnya aku rasa salah. Jinki jauh lebih baik dari pada Donghae, namja yang pernah memaksa ku untuk menjadi kekasih nya.

“apa urusan mu dengan itu semua?? Apa kah kau merasa kesal karena aku menyia2 kan Donghae, sedangkan kau sangat menginginkan nya.. kau iri lagi bukan?? Aigoo kau ini yeoja macam apa?? Selalu iri kepada orang lain..” celetuk ku pedas padanya. Aku harap dengan ini dia bisa membungkam mulut nya kali ini.

“apa yang kau katakana ..!! aish..!!” Jessica bungkam. Dia tidak bisa berkomentar lagi karena mengkin memang benar apa yang aku katakan.

“Minzzy-ya ??!!!” dari arah yang sama seorang namja pujaan setiap yeoja di sini mulai menghampiri ku. Dia memang harus menghampiri ku  karena dia memang akan berkomentar atas kejadian ini. dia pasti menghabisi aku dan Jinki. Yang pasti sekarang dia akan meminta penjelasan dari ku dan mulai memberi pelajaran pada Jinki. Mengapa hal ini menjadi rumit seperti ini.

“kau dengan Jinki?? Apa maksud mu?? Kau tidak sedang bercanda dengan public bukan??”Donghae mulai mengintrogasi ku.

“memang apa lagi mau mu?? Mengapa perlu meminta penjelasan dari ku??” sungguh aku sangat tidak menyukainya. Dia selalu mencampuri urusan ku, berlaga seperti aku adalah kekasihnya. Mengancam akan memberi pelajaran pada setiap namja yang mendekati ku. Apa2 ini?? memang siapa dia?? Bahkan aku tidak menerima cinta nya. aku sangat tidak menyukai nya, sangat bahkan dari apapun yang dia miliki.

“perlu !! kau perlu menjelaskan semuanya pada ku karena aku sangat menyukai mu. Aku tidak menyukai berita ini, aku akan membuat pelajaran pada Jinki…” kata nya sambil mengelus-elus dagunya. Jessica dan Sunny masih berada di sekitar. Mereka mendengarkan percakapan kami. Baguslah, walau mereka hanya menjadi penonton tetapi setidak nya Jessica mendengar semua perkataan Donghae. Aku yakin sakit hati nya akan terus bertambah. Cinta yang tak terbalas itu menyakit kan bukan??

“kau ini seenak nya saja memberi pelajaran pada seseorang. Dengar Donghae, aku dan Jinki tidak ada hubungan apa2. Aku hanya meminta bantuaan mengerjakan papper ku saja, selebih itu tidak ada. Kau puas??” jelas ku panjang. Sambil terengah aku menahan kekesalan ku. Mood ku rusak sempurna.

“geudhe?? Hhahhaa, aku sangat puas. Tetapi jika Jinki melakukan sesuatu yang aku tidak suka. Aku tidak akan segan memberi pelajaran kepada nya… mungkin aku harus memberi nya peringatan dini..” Donghae berceloteh. Dia memang begitu memuakkan.

“Donghae !! kau tidak perlu melakukannya. Kau terlalu merlebihan, Jinki hanya membantu saja !! itu pun aku yang memintanya. Dengar Donghae jika terjadi sesuatu yang buruk pada Jinki karena mu, aku tidak akan sungkan untuk membalasnya…!!” aku mengancam nya. aku berharap ancaman ini berguna, karena aku tidak ingin Jinki terluka. Tepat nya terluka di karenakan perlakuan Donghae yang babbo ini.

“ciiih lihat ini, kau begitu membelanya… aku semakin curiga ada sesuatu di antara kalian!!!”

“cukup Donghae..!!!! aku sudah muak berurusan dengan mu. Biarkan aku pergi…”

Aku pun berlalu melewatinya. Donghae memanggil ku, tapi sekali pun aku tidak menghiraukannya. Aku terus berjalan cepat menelusuri lorong gedung ini. mencari sesosok Lee kuno itu. Aku harus segera berbicara dengan nya sebelum dia di beri pelajaran oleh Donghae. Mengapa hal ini menjadi begitu rumit. Aku kira akan baik2 saja.  Bagaimana aku akan menerima namja di dalam kehidupan ku?? Jika begini saja harus sebegitu rumit.

“LEE JINKI-YYA..!!!”  aku menemukannya. Dia sedang berdiri di ujung lorong. Dia mendengar panggilan ku, lalu menoleh kepada ku. “hei Minzzy-ya..!!” sambil tersenyum. Aku melihat senyuman itu kembali dan berharap senyuman itu tidak pudar karena aku. Jelas nya karena aku dia harus berurusan dengan namja sialan itu, Lee Donghae.

“Minzzy apakah kau melihat madding hari ini?? ada artikel tentang kita. Menurut mu siapa yang membuat nya yya?? Menga_”. “jinki dengar, gomawo atas semua nya.. jangan temui atau berbicara dengan aku lagi. walau hanya untuk menyapa ku.. berpura2 lah  saja kita tidak saling mengenal…” aku memotong pembicaraan nya.

Dia diam. Dan aku masih terengah2 dengan nafas ku.

“hah, wae-yo?? Bukan nya kita teman..??”  kali ini senyum nya hilang. Sepertinya ini sedikit menyakitkan bagi ku dan baginya.

“mungkin bu.. bukan.. sudah turuti saja apa mau ku !!!!!”  aku tidak mampu untuk menjelaskan nya. aku tidak ingin Jinki mengetahuinya. Masalah yang sebenar nya terjadi.

“mwo?? kau malu mempunyai teman kuno seperti aku ini?? kau.. kau takut reputasi mu jatuh karena artikel babbo ini menyebar?? Minzzy yang popular berteman dengan Jinki yang kuno dan_”

“JINKI-YYA!! Hajima, Kau merasa kita berteman?? Babbo!! Kita hanya sekedar patner, sebatas kau membantu tugas ku selebih itu sudah. Tidak ada lagi.. tugas ku sudah selesai dan  kau tau apa artinya? ..” aku melihat Jinki dalam. Aku mendapatkan kekecewaan di dalam matanya. Dan Jinki  hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepertinya dia sangat shok dengan apa yang aku katakana. Ini memang tidak singkron dengan kelakuan ku pada nya, dan tidak sangat singkron dengan apa yang aku rasakan terhadap nya.

“artinya aku sudah tidak membutuhkan mu lagi… “

Beberapa detik hening. Jinki tanpa henti menatap ku, aku yang berlaku kejam padanya tidak mampu memandangnya sedikit pun. –mianhae jinki … jeongmal mianhae, hanya saja aku tidak ingin kau berurusan dengan Donghae karena aku…-

“Gomawo oppa, yuguseyo…” aku berbalik badan. membelakanginya lalu melangkah menjauh.

“jika kau menyesal denga perkataan mu tadi, aku akan memaafkan nya. aku akan menganggap kau tidak mengatakan hal tersebut pada ku. Jadi aku harap kau mau tertawa dengan ku lagi…” kata2 nya itu membuat aku menghentikan langkah ku untuk beberapa detik. Tapi tetap aku tidak berani melihat nya kembali.

“oh ya 1 lagi, aku harap panggilan ‘oppa’ tadi tidak menjadi yang terakhir untuk ku. ..” dia melanjutkan nya.  mendengarnya aku hanya mampu menghela nafas dalam2. Sesak sekali rasanya ketika mendengar Jinki berkata seperti itu.

Aku pun meneruskan langkah ku yang tadi terhenti. Kini aku meninggalkan jinki dengan sempurna. Mianata…

****

Jinki pov.

“oh ya 1 lagi, aku harap panggilan ‘oppa’ tadi tidak menjadi yang terakhir untuk ku..” aku mencoba untuk menahan nya, tetapi percuma saja dia melanjutkan langkah nya walau sempat terhenti. Dia benar2 meninggal kan ku sekarang.

Aku kira dia suka tertawa dengan ku, dan aku kira dia menganggap ku sebagai chingu nya. ternyata dia hanya menganggap ku patnernya saja. Mungkin lebih jelasnya aku bukan siapa2 bagi sesosok Minzy, hanya orang lain yang sekedar membantunya. Tapi ini tidak mungkin, sikap nya kemarin mungkin kemarin nya lagi sangat lah tidak menunjukan hal tersebut. Bahkan jika hal tersebut hanya sebagai kepura2 an saja, untuk apa dia lakukan hal tersebut. Aiiish …. Mengapa ini begitu sangat membingungkan. Minzzy, dia benar2 yeoja aneh. Apa yang dia lakukan, apa yang dia katakana sungguh tidak bisa aku tebak.

“ottokae ?? bahkan aku belum mengatakan cheonmane-yo dia sudah pergi. ..” gumam ku kecil sambil memasuki kelas ku. Walau dada ku mulai merasa gelisah dan sesak aku harus tetap mengikuti kelas hari ini. kehidupan harus tetap berjalan walau sesuatu yang mengecewakan telah  terjadi. Figthiiing Lee Jinki.

****

Aku melihat arloji ku yang menunjukan pukul 2 siang. Waktunya aku pulang kerumah dan melanjutkan pekerjaan ku sebagai seniman keramik. Aiisshh.. andai saja aku mampu mengajak Minzzy lagi seperti kemarin mungkin rasa nya akan lebih menyenangkan lagi.

Aku jadi teringat sepotong kejadian kemarin, dia menangis ketika terjatuh di tangga. Hhahahha, aku tidak menyangka yeoja sekasar itu mampu merasa takut di dalam kegelapan. Heem.. tapi aku masih bingung dia menangis karena apa?? Karena kesakitan, atau karena rasa takut nya di dalam kegelapan. Entahlah, tapi aku tidak pernah melihat Minzzy se-gyowo kemarin. Memikirkan nya membuat senyuman kecil di bibir ku. Walau rasa nya sedikit sesak karena keaadanya sudah berbeda sekarang, tapi otak ku selalu saja mengulang memory tentang nya.

“Gong Minzzy, mengapa dia melakukan ini?? aiiish sungguh aku tidak mengerti…” sambil memegangi stang sepedahku. Sebelum mengayuh pergi dari kampus ini, sesekali mata ku memandangi caffe yang biasa nya Minzzy dan unni deul nya berkumpul. Dan biasa nya, dia duduk di kursi dekat jendela sehingga sebelum pulang aku mampu melihat nya terlebih dahulu. Tetapi mengapa hari ini dia tidak di sana?? Hanya unni deul nya saja yang terlihat. Hanya bertiga tanpa Minzzy.

“huuuuuuft.. “ walau menghela nafas dalam2 sesak ku ini tidak mau hilang. Mengapa ?? aku pun tidak memahaminya.

“yya !! Lee Jinki-ssi…!!!” seseorang berteriak dari arah belakang ku. Aku tidak mengenal suaranya. Seketika aku menoleh kearah datang nya suara itu.

“Lee Donghae-ssi..?? “ aku hampir tidak percaya. Selama ini aku tidak pernah berkenalan dengan nya, tapi mengapa dia tau nama ku. Mungkin dari artikel yang menyebar hari ini. aku mendadak popular. Hhahahha …

“ne, kau Lee Jinki bukan?? ..” kali ini jarak nya dekat. Sehingga dia mampu memegangi salah satu pundak ku dengan tangan nya.

“ne arosso.. ada yang bisa aku ban_”. “begini saja, aku tidak ingin berlama2 dengan mu.. aku hanya ingin memberi peringatan saja kepada mu bahwa kau ini tidak pantas berkeliaran di dekat Minzzy ku. Dengar ini aku ulangi sekali lagi, MINZZY KU… arachi??”  genggaman nya berubah menjadi mencengkram pundak ku. Keras, menjadi sangat keras sampai tersa sekali rasa sakit nya.

“yya !! Apa-yo..!!” kata ku sambil menghempas kan tangan nya dari pundak ku.

“oooh, mianhae… !! hem, kau ini sangat lemah yya, pantas saja Minzy memperingati ku agar tidak berlaku kasar pada mu.. “ Donghae pun mengejek ku sekarang.

“mwo?? Minzzy memperingati mu agar .. a aagar…” aku semakin tidak mengerti akan hal ini. sebenarnya apa yang sedang terjadi?

“yya Babbo!! Minzzy mencoba untuk melindungi mu dari kelakuan buruk ku yang mungkin akan menimpa pada mu. Huuuh, manis sekali.. yya, jinki-ya!!! Beri tahu sebenar nya kalian berdua ini sudah menjadi sepasang kekasih bukan?? “ raut wajah Donghae menjadi sangat kesal, seperti nya ini tidak bagus.

“apa yang kau katakana??!! Sudahlah aku mau pulang..” tak mau berlama2 berada di depannya. Mungkin akan menimbulkan masalah baru jika aku terus meladeni apa mau nya.

“apa?? Kau mau pulang, yang benar saja.. bahkan kau belum menjawab pertanyaan ku. Kau ini namja atau apa?? Kau takut yya berhadapan dengan ku??” dia mulai meremehkan ku.

“apa maksud mu?? Sedikit pun aku tidak takut dengan mu.. “ celetuk ku kesal.
“kalau begitu coba balas ini..!!” dia meniju ku tepat di bagian pipi kiri ku dan membuat aku terjatuh tersungkur di atas tanah.

“yya!! Apa yang kau lakukan…!!!!!” aku berteriak sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibir ku.

“hanya memberi mu sedikit pelajaran..” tidak puas memberi aku satu pukulan, Donghae pun menaiki dada ku lalu mulai memberi bertubi-tubi pukulan di wajah ku.

“yya..!!!” aku hanya memegangi jaket nya tanpa mampu melakukan apa2. Tapi aku tidak boleh seperti ini. kalau tidak mungkin aku bisa sekarat di pukuli oleh namja sialan ini.

Orang2 mulai menggerumingi kami, mereka berteriak2 tidak jelas. Aku mendengar ada yang menyemangati Donghae agar terus memukili ku. Apa2 an ini?? mereka ingin aku sekarat gara2 dipukuli apa??. Tanpa sadar aku seperti mendengar suara Minzzy. Samar2 tetapi jelas. Sangat jelas, aku mendengar dia berteriak “Babbo..!!” . memang, aku memang babbo. Seperti ini saja aku tidak bisa melawan. Habislah aku.

“namja macam apa kau ini??!! sedikit pun tidak mampu melawan?? Dasar banci..!!” dia sedang lengah, segera aku mengambil kesempatan ini. aku memasukan kedua jari ku kedalam hidungnya dengan kasar. Lalu menariknya ke tanah, sehingga aku mampu menggulingkan nya dari dada ku. Kali ini keadaan berubah, aku menaiki dadanya dan mulai meremas2 wajahnya. Aku kesal, muak, dan marah. Dia telah menghancurkan wajah ku ini.

“kau tau ini pertama kali nya aku berkelahi, dan kau menghabisi wajah ku begitu saja. LEE DONGHAE!! APA-YO!!!!!” aku membenturkan kepalaku dengan kepalanya dengan keras, sangat keras.

Aku terengah2. Nafas ku begitu memburu. Rasa sakit ku sudah menyebar ke seluruh permukaan kepalaku, terlebih lagi aku mengadukan kepalaku dengan kepala si bajingan itu. Rasa nya begitu pusing, tetapi ini membuahkan hasil. Donghae pingsan. Dan secara mutlak aku yang memenangkan perkelahian ini.

Aku bangun dari duduk ku di atas dada si Donghae yang kini sudah pingsan. Mata ku yang memar mulai merekam keadaan di sekitar. Mereka tampaknya tidak mempercayai aku yang memenangkan duel ini. tampak dari raut wajah mereka yang sangat terkejut. Keadaan hening. Aku tidak mau berlama2 membiarkan darah memenuhi wajah ku ini. aku pun langsung menaiki sepedah ku lalu mengayuh menjauhi kerumunan itu.

Minzy?? Aku tidak melihatnya. Mungkin suaranya tadi hanya imajinasi ku saja.

“aiiish… rasa sakitnya kini bukan hanya di hati ku saja, bahkan di wajah juga.. oemma, khiz..khiz.. apa-yo…”

*****

“oemma, pelan2 lah sedikit.. neomu apa..” sambil meringis kesakitan.

“sabarlah sedikit, jika luka2 ini tidak dikompres tidak akan sembuh.. kau ini sebenarnya berkelahi atau dipukuli??” memang luka2 di wajah ku ini harus segera dikompers jika tidak, mungkin esok hari aku tidak akan bisa membuka mata sipit ku karena muka ku terlalu memar dan mendorong kelopak mataku agar tidak mampu membuka mata.

“aku ini berkelahi oemma, dan aku yang memenangkan perkelahian itu…” kataku meyakinkan oemma yang meremehkan aku. Beliau tidak percaya aku mampu berkelahi.

“lalu mengapa luka mu begitu parah… jika bukan dipukuli apa nama nya??” oemma tetap tidak mempercayai perkataan ku. Mentang2 aku anak manjanya. walau begitu aku ini tetap namja oemma..

“terserah oemma saja..”

Aku mulai berbaring dan menenangkan diri ku. Oemma meninggalkan ku di dalam kamar sendirian. Aku mencoba menutup mataku untuk sekedar mampir ke dunia mimpi. Tetapi tidak bisa, bayangan Minzy selalu tercetak didepan mata ku. Ketika tertawa, cemberut, menggrutu bahkan berteriak. Raut wajahnya pun masih terekam ketika dia katakana “kita hanya patner” . dengan raut wajah yang tidak merasa melakukan dosa dia mengatakannya. Dia tidak tahu apa begitu sesak nya dada ini. Dan luka2 lebam ini, dia pikir aku di pukuli karena siapa?? Karena dia. Tidak ada lagi, tidak cukupkah dia membuat hati ku sakit. Masih saja membuat wajah ku lebam2 seperti ini.

Menyadari aku tidak mampu untuk tidur, aku mengambil posisi duduk di atas kasur ku. Memandangi patung kepala Minzy yang terpajang di atas meja yang terletak di sudut kamar ku, baru tadi pagi aku meletak kan nya di sana. Dan sekarang, begitu cepatnya aku akan membuangnya. Aku menunduk dan berusaha untuk tidak memikirkan apa2. Lebih tepatnya berhenti untuk memikirkan Minzy. –untuk apa kau memikirkan nya terus menerus, sudahlah Lee Jinki akhiri semua.. –

“oooh, mianhae… !! hem, kau ini sangat lemah yya, pantas saja Minzy memperingati ku agar tidak berlaku kasar pada mu..”

Tiba2 saja aku teringat perkataan Donghae. Minzy memperingati Donghae agar tidak berlaku kasar padaku. Tetapi untuk apa?? Dia bilang bukan teman?? Mengapa begitu peduli?? Dan seperti nya Minzy sudah tau bahwa aku akan berurusan dengan Donghae. Tapi mengapa dia malah meninggalkan ku dan hanya memperingati Donghae saja. Dan Donghae, dia begitu semena2. Dia bilang Minzy adalah miliknya.. bukan nya Minzy tidak suka pada namja, maksudnya dia sedikit sensitive pada namja. Tetapi mengapa Donghae sebegitu pedulinya dengan hubungan antara kami berdua. Apakah karena Donghae tidak bisa dekat dengan Minzy dan sedangkan aku bisa?? Dan mengapa Donghae tidak bisa sedangkan aku bisa?? Apa karena tugas paper itu Minzy mau dekat dengan ku?? Tidak sepertinya tidak. Dia masih mau menemaniku berkerja sebagai seniman padahal tugas ku untuk membantu nya sudah selesai malam itu. Bahkan dia tidak sempat menolak ajakan makan malam bersama dengan keluarga ku malam itu. Dan satu lagi, dia membelaku ketika di festival. Padahal saat itu aku tidak tahu akan keberadaan dia. Kalau tidak salah sebelum hari itu aku sempat marah padanya dan menolaknya untuk membantunya lagi. dia pun tidak meminta maaf atas kemarahan ku yang itu. Lebih hebatnya sampai sekarang dia belum meminta maaf pada ku…

“sebenarnya apa yang sedang terjadi. Hal ini begitu membingungan .. “ desah ku pelan.

“mempunyai urusan dengan yeoja memang sangat rumit… bersabarlah anak manja!!” hyung tiba2 masuk dan langsung duduk di sebelah ku. Tepat di sisi kasur.

“hyung?? Sejak kapan hyung berada di kamar ini??” tanyaku penasaran. Tiba2 saja datang tanpa terdengar suara langkah kakinya, dia ini manusia atau setan. Begitu menyeramkan.

“sejak tadi, kau saja yang terlalu sibuk melamun sambil memandangi patung kepala itu sehingga tidak menyadari kedatangan ku… wae-yo?? Kau dipukuli oleh namja yang mengaku kekasihnya??” hyung menebaknya, dan tebakannya tidak meleset. Dia mempunyai bakat menjadi dukun, selamat hyung!!

“aku bukan dipukuli, tetapi berkelahi..!!” mengapa pikiran oemma dan hyung sama. Mereka sama2 meremehkan ku.

“hhahaha, jangan bercanda. Seorang jinki ingusan mampu berkelahi.. suwit melawan ku saja selalu kalah..” katanya yang lagi2 meremehkan aku. Menyebalkan !!.

“Eunhyuk hyung !! aku tidak sedang mau berkelahi dengan mu, jika hanya ingin mengolok2 aku sebaiknya kau pergi saja dari kamar ku..” dikte ku tegas padanya, sambil merebakan badan ku kembali di atas kasur.

“ok2, Ara..!!” dia bangkit dari kasur ku dan berjalan kearah patung kepala Minzy. “jika ada yang tidak beres, kau jangan diam saja seperti pengecut .. katakana saja bahwa kau suka kepadanya, dan walau dia tidak menyukai mu, setidak nya kau tidak akan menyesal karena tidak memberitahu kan rasa mu itu..” dia menasihati aku. Dia begitu bijak dalam masalah ini, mungkin dia pernah merasakan masalah ini dan aku yakin pasti dia patah hati karena suka nya tidak terbalas. Hhahaha kasihan sekali!!

“dia melarang aku berbicara dengan nya..” aku pun mulai berkonsultasi walau sedikit ragu.

“kau ini namja !!! paksa lah dia agar mendengar kan apa yang kau katakana… aiisshh kau ini..!!” sambil melepaskan topi yang melekat di kepalanya lalu memakaikan nya di kepala patung tersebut.

“entahlah.. lagi pula aku tidak begitu membutuhkannya. Yya hyung!! Aku tidak pernah mengatakan aku menyukainya, mengapa kau menyimpulkan seperti itu!! Seenak nya saja..” dia selalu membuat pendapat sendiri. Membuat kesal saja.

“anak Babbo!! hal itu begitu terlihat ketika aku melihat patung kepala itu_”. “yya !! itu karena hanya dia yang ada saat itu..” aku memotong pembicaraan nya yang mulai semena2 pada ku.

“kalau begitu mengapa harus membuat patung, membuat keramik seperti biasanya  saja.  Kau ini begitu keras kepala, sudahlah aku pergi..” sambil berjalan keluar dari kamar ku.

“bagus!! Aku pun mau beristirahat…”  lalu aku pun bergelut kembali dengan pikiran ku sampai pada akhirnya aku mampu tertidur pulas.

*****

Ini hari pertama ku kuliah setelah 3 hari aku mendekam di kamar ku untuk memulihkan wajah  dan mood ku. Lebam di wajah  pun belum pulih seluruhnya, tapi apa boleh buat aku harus segera kuliah. Sepertinya aku banyak ketinggalan materi.

Orang2 di kampus mulai berlaku aneh kepadaku. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan diri ku, mereka sekarang mulai banyak memerhatikan ku. Setiap aku berjalan, pasti saja mereka  berbisik2 dengan sesamanya. Seperti membicarakan aku. Yah, mungkin terlihat seperti itu karena mata nya selalu melirik kearah ku. Apa masalahnya?? Apa karena aku bertengkar dengan Donghae?? Atau karena artikel itu lagi, aku dan Minzy?? Aku mulai muak dan tak nyaman dengan masalah ini. aku merindukan diri ku yang di kenal orang dulu. Walau sesekali dibully, tetapi tidak setiap orang menghardik ku seperti ini. Tidak enak rasa nya.

Hari sabtu, seperti biasa aku akan pulang cepat. Untung saja, aku tidak betah berlama2 lagi di kampus. Sudah sukup untuk hari ini, tapi bagaimana dengan hari2 berikutnya. Aku harus terbiasa dengan ini, hem.. mungkin saja mereka berlaku seperti ini hanya beberapa hari saja. Sehabis itu mereka akan lupa, hal ini akan tergantikan dengan hal2 yang baru yang terjadi. Semoga saja.

Aku berjalan menuju pakiran sepedah. Sendiri di tengah panas matahari siang. Aku melihat dari kejauhan ada sekelompok namja sedang membongkar2 sepedah. 3 orang, dan salah satunya hanya berdiri melihati keadaan sekitar. Aku masih berjalan mendekati mereka, dan semakin dekan semakin terlihat bahwa sepedah malang itu adalah sepedah ku. Dan namja yang melihati sekitar itu adalah Donghae. Tak cukupkah perkelahian kemarin. Aiiish, rupanya dia belum puas dengan ku.

“yya..!! apa yang kalian lakukan!! Donghae-ssi, kau ini..” dengan segera aku berlari kearahnya.

“wow..!! Jinki-goon, apa kabar?_”. “apa yang kau lakukan Donghae-ssi??!!” teriak ku sambil meraih kerah bajunya. Aku kesal karena dia selalu membuat masalah dengan ku. Aiiissh…

“wow.. wow..wow.. tenang lah !! kendalikan diri mu chingu..!!”

“hah? Kau yang kendalikan diri mu!! Seenak nya saja membongkar sepedah ku.. apa maksud mu??” cengkraman di kerahnya semakin keras. Aku meremasnya sambil menahan emosi ku.

“lepaskan tangan mu itu dari baju ku..!!” dia mendorong tubuhku sampai aku terjatuh. Aku tidak menyangka aku begitu lemah, dengan sekali hentakan saja aku terjatuh. Namja apa aku ini?.

“yya!! Lee Donghea-goon.. hajima!!” seseorang berteriak mencoba menghentikan Donghae.

“kau ini begitu menyebalkan yya?? Mengganggu kelinci manis seenak nya saja.. dia itu tidak mempunyai kuku yang tajam seperti kucing. Ara?!!”

“kau mau aku tarik rambut mu!!”

Aku menoleh kearah datangnya suara itu, dan bingo.. aku tidak menyangkanya. Dara nunna, Boom nunna dan CL nunna membela ku berurutan. Syukurlah aku tertolong.

****

Aku dalam perjalanan pulang. Dara nunna mengantar ku dengan mobil nya, bersama dengan nunna yang lain. Aku sangat tidak menyangka bahwa mereka begitu baik  pada ku. Tidak pernah berkenalan atau pun berbuat baik kepada mereka tetapi mereka mau menolongku hari ini. pantas saja Minzy begitu nyaman berteman denan mereka. Tidak sama seperti hal nya dengan diri ku.

“kamsamida Dara nunna sudah mau mengantar kan aku pulang..”  aku yang duduk di sebelah nya  tersenyum semeringah  menanggapi kebaik hatian nya.

“cih, siapa yang akan mengantar kau pulang.. memangnya aku supir taxi..!!”  jawabnya sambil terus menacabkan gas dan mobil pun terus melaju.
“mwo?? Memang mau kemana kita??” aku mulai panic. Karena aku tahu mereka bisa berlaku baik kepada teman mereka dan mereka berlaku buruk pada musuh mereka. Tetapi aku bingung aku termasuk yang mana?? Teman kah?? Atau musuh?? Aiiish, mengapa aku begitu mudah peracaya pada orang lain yang tidak aku kenal. Babbo.

“tidak usah panic!! Kami bukan orang jahat..” Boom nunna sepertinya mengetahui keadaan ku sekarang. Dia mengatakanya sambil tersenyum cantik dari arah tempat duduk belakang. Tepat sebelah nya CL nunna sedang menatap ku tajam. Menyeramkan, dengan mata kucingnya dia sukses membuat aku merinding.

“la.. lalu kita akan kemana??”  Tanya ku gugup karena dipelototi CL nunna. Tuhan tolong segera tolong aku, hanya diri mu yang mampu menyelamatkan aku pada saat ini.

“masih pura2 tidak tahu!! Tentu saja kita akan ke rumah sakit!! Babbo!!!!” CL nunna pun menjadi tidak terkendali, dia menarik2 rambut ku dengan kedua tangannya lalu mengocok-ngocok isi kepala ku. “aaaaaagh!! Nunna, hajima!! Chebal..!!” ronta ku atas apa yang dia lakuakan tanpa memberontak sedikit pun. Aku terlalu takut untuk melawan, 3 lawan 1 di dalam mobil pula. Aku tidak mampu untuk lari.

“kita akan ke rumah sakit parang, Minzy dirawat di sana..” Dara nunna menghentikan teriakkan ku dengan apa yang dia katakana.

“mwo?? Minzy? Dia kenapa??”

“dia harus menjalani oprasi hari ini. benda medis di paru-paru nya sudah mulai tidak berfungsi dengan seharusnya, membuat Minzy sulit untuk bernafas.. jadi mungkin benda medis itu akan di ganti hari ini.. “ jelas singkat Dara nunna pada ku. CL nunna mulai melepaskan cengkramannya dari rambut ku sambil berkata “maka dari itu aku ingin kau datang menemuinya sebelum dia menjalani oprasi, kau kan teman nya…  kau ini keterlaluan, sebagai temannya Minzy seharusnya kau tidak tiba2 hilang ketika Minzy jatuh sakit..”.  mwo?? CL nunna menganggap ku temannya Minzy?? Memang Minzy keterlaluan, orang lain saja menganggap kita berdua itu berteman, mengpa dia tidak.

“wae-yo?? Mengapa dengan paru-paru Minzy sampai harus ditanami benda medis seperti itu??”  Tanya ku. Dara nunna sedikit melirik ku lalu memfokus kan kembali pandangannya pada jalan raya.  Dia pun berkata.

“dia, tidak seperti orang melihat nya dari luar. Begitu kuat, angkuh, sombong dan lain sebagainya. Sebenar nya itu hanya untuk menutupi kelemahan nya saja, dia begitu…………………….”

****

PLAK ..

“aiissshh nunna, apa-yo!!” sambil meringis kesakitan. Kepalaku lagi2 di jadikan sasaran oleh CL nunna, dia sungguh keterlaluan, sudah berapa kali dia membuat aku berteriak kesakitan.

“yya!! Mengapa kau hanya berdiri saja di depan pintu kamar nya?? cepat masuk!! Berbicaralah dengannya, chingu macam apa kau ini…” teriak CL nunna di depan wajah ku. Walau pun CL nunna terus saja memaksa ku agar cepat menemui Minzy, tetapi rasa ragu ku menghalangi untuk mengetuk pintunya. Aku ragu dan mungkin bercampur dengan gugup. Atau takut, atau mungkin… entah rasa apa yang sekarang aku rasakan, yang jelas ini begitu mengganggu tekad ku untuk menemuinya.

“changkemaneyo nunna, aku begitu gugup. Nunna dulu saja yang menemuinya…”

“Jinki, hanya memnemuinya saja. Tidak usah ragu.. “ komentar Dara nunna membuat aku sedikit tenang.

“kelinci jinki, fightiiiiiiiing!!!!!” teriak Boom nunna menyemangati aku. Mengepalkan kedua tangan nya dan memberi aku senyuman cantiknya lagi.  seperti nya dia selalu seperti itu.

“ne arosso.. aku masuk sekarang..” jawab ku hati2. Aku mengetuk pintunya dengan beberapa ketukan. Tetapi tidak ada respon dari dalam kamar.

“seperti nya Minzy sedang tidak ada di kamar, bagaimana kita pulang dulu dan menemuinya ketika sudah selesai oprasi… “ kelak ku halus agar tidak membuat CL nunna melayangkan pukulannya lagi ke kepala ku.

“Lee Jinki-goon, palli-a chebal…” bisik CL nunna menyeramkan. “tapi_”.”KKAAAAA.!!!!!!!!”

BRAAAAK…

Menyeramkan, mengapa ada yeoja begitu menyeramkan seperti dia?? Aiish, untung saja aku segera masuk ke kamar Minzy, kalau saja aku tidak bergerak cepat atau terlambat 1 detik mungkin saja kepalaku akan menjadi sasaran nya lagi.

Aku berdiri membelakangi pintu. Kaki ku tidak mampu untuk melangkah lebih dalam lagi karena Gong Minzy sedang menatap ku dari tempat tidurnya. Exspresi nya tidak bisa aku simpulkan. Aku tidak tahu exspresi wajah nya menunjukan dia senang atau tidak suka bertemu aku lagi.

Sesekali aku menggaruk-garuk tengkuk ku yang memang tidak terasa gatal. Aku begitu gugup untuk bertemu dengannya. Untuk menatapnya saja perlu keberanian apa lagi untuk mengucapkan “apa kabar” atau “hallo”. Sebenarnya aku lebih merasa takut. Aku takut kalau nanti dia akan berteriak dan mengusir ku, cukup dia berikan rasa sesak di dada ku karena yang kemarin. Tidak untuk hari ini. tetapi aku sudah ada di hadapan nya, dan tidak mungkin aku untuk pergi keluar melewati pintu di belakang ku ini. aku belum mau mati.

“a… aa aaneyong ha..haseyo..!” kata ku ragu sambil membungkuk kan badan ku. Aku terus membungkukkan badan ku sampai aku mendengar akan responnya. Semoga saja tidak seperti aku bayangkan.

****

Minzy POV

“aa aaneyong ha haseyo..!” sambil membungkuk kan badannya.

Dan akhirnya aku mampu melihatnya menyapa diri ku lagi. aku mampu melihat semua dari seorang Lee Jinki.  suara berisik itu, wajah kuno  itu, dan kemeja kotak-kotak itu. Ciih… Dia masih memakai motif yang sama untuk kemeja kuliahnya. Dia tidak berubah, aku kira dia akan sedikit merubah penampilan nya untuk bisa menarik perhatian ku. Aku benci mengakui ini tetapi aku memang –bogoshiposo oppa..-.

“kau?? Kemari??” aku merespon keberadaannya di ruangan ini. walau aku pernah memeringatinya agar tidak berbicara lagi dengan ku, tetapi saat ini aku berpura2 tidak pernah berbicara seperti itu.

“ne, bagaimana keadaan mu?? Kata unni deul mu kau akan dioprasi hari ini..” sambil berjalan kearah ku. lalu, Dia menduduki kursi yang berada di sebelah kasur ku. jarak yang cukup untuk aku menatap wajahnya jelas.

“sebenarnya lusa kemarin aku sudah melakukan oprasi itu, hanya tinggal memulihkan keadaan ku saja. Rasa nya masih sakit, jahitannya pun belum kering_”. “woooh, geudhe?? Boleh aku lihat jahitannya??” potong nya.

“ddo!! Bichiniyya!!! Aiiish.. kau ini maniak atau babbo?? tidak mungkin aku menujukan jahitan hasil oprasi ku… apakah kau tidak tahu bagian mana yang dokter oprasi??” dia tetap tidak berubah. Babbonya pun tidak sama sekali berkurang dan untung saja tidak bertambah.

“ah, ara2.. mianhae.. aku terlalu bersemangat..” aku membentaknya, dan kali ini exspresinya mulai tidak enak. Alisnya mengkerut ketengah dan matanya berpaling melihat kesekitar ruangan.

“sebenarnya unni deul ku sengaja membawa mu kesini untuk, untuk … untuk …heeem untuuuk.._”. “aaaaagh palli!! Cepat katakana..!!” dia  memotong pembicaraan ku lagi.

“aaah, changkemaan!! Baru saja aku akan katakana, kau saja yang tidak sabar..” komplen ku akan sikapnya yang tidak mau bersabar. Dia tidak tahu apa aku ini begitu gugup untuk mengatakannya.

“sudahlah cepat katakana saja, aku tidak mempunyai banyak waktu. Tugas ku di rumah sudah menunggu..”

Apa2 an dia, seperti orang sibuk saja. Hanya hobby saja dia bilang pekerjaan, mengulur waktu sebentar saja demi mendengarkan aku berbicara apa tidak bisa?? Kini mulai dia berlaga angkuh di hadapan ku. menyebalkan…

“kau ini benar2 tidak sabar yya.. aiiish, aku melupakan apa yang akan aku katakana… ini karena mu!! Kau itu terlalu cerewet sampai2 aku melupakan apa yang akan aku katakana..!!” celoteh ku penuh dengan emosi. Aku kesal karena hanya untuk beberapa menit saja dia lebih memilih menemui tanah2 liat di rumahnya dari pada aku.

“mwo??!!! Kalau begitu ingat2 lagi..!!” dan sepertinya pun Jinki mulai kesal. Pada akhirnya kami berdua merasa kesal antara satu dengan yang lainya.

“ani, tidak bisa!!” sambil menatapnya kesal. “ah, ne aroso.. kalau begitu aku pergi…!” dia mengendus kesal sambil beranjak berdiri dari tempat duduk nya.

“kau lebih memilih mengerjakan hobby mu dari pada harus menunggu ku untuk berbicara. Sungguh keterlaluan…!! Kau tahu, hal ini begitu berat untuk ku katakan. Tidak bisakah kau mengerti sedikit saja??!!!” aku berteriak kesal. Dan Jinki masih menatap ku dengan kesal juga. Keadaan begitu panas, aku larut dalam kesal ku dan dia larut dalam amarah nya kepada ku yang mungkin dia simpan dari beberapa hari kemarin. Mungkin..

“ya tentu!!! Aku lebih memilih berhadapan dengan benda mati dari pada harus berhadapan dengan benda hidup yang berhati mati..!!!!” dia membentak ku, tatapannya menajam dan raut mukanya menyeram. Terlihat dia sedang menahan amarahnya, aku tahu dia akan begitu marah. Tetapi aku tidak bermaksud seperti itu.

Mulut ku bungkam tidak berbicara satu kata pun, hanya menatap dalam matanya yang penuh kemarahan. Nafas ku tak karuan, keringat ku bercucuran. Aku bingung harus melakukan apa?? dia mengatakan hal yang menyakitkan, dia mengaggap ku tidak mempunyai hati. Tetapi hal itu benar, perkataan ku kemarin seperti manusia yang tidak mempunyai hati. mungkin kali ini Jinki tidak bisa memaafkan perkataan ku yang kemarin.

“kau diam? Baiklah aku pergi…”

“hajimala…”

Aku memegang tangannya, dan memintanya untuk tidak pergi.  Genggaman ku mengerat di tangannya berharap Jinki mampu mengerti bahwa aku tidak sangat mengingin kan dia pergi. Langkahnya membeku, perlahan dia pun mulai menatap ku lagi, tatapan nya kosong, tangan nya terasa dingin dan berkeringat. Dan aku?? Aku hanya menahan air mata ku.

“wae??? Kenapa?? Kenapa kau melarang aku pergi?? Bukannya itu yang kau inginkan kemarin??” kali ini nada bicaranya sedikit berbisik.

“karena, karena, karena aku ingin bersama mu!!! Aku ingin kau menemani aku!!!  Aku selalu berharap kau duduk di samping ku, maka dari itu kau jangan pergi…”

“tetapi kemarin?? Mengapa kau begitu mudah untuk menarik ulur kata2 mu itu?? Kau tidat tahu apa, aku ini begitu tersiksa…dan ini, di sini..” dia menepuk-nepuk kencang dada kirinya. “di sini aku begitu merasakan sesak!! Tidak enak rasanya…”

“arasso..!! aku pun merasakan nya, kau pikir mengapa aku meminta mu jangan pergi jika tidak merasa sesak di dada…”

Dia menatap ku. tangan nya perlahan di tarik dari genggaman ku.  sedikit demi sedikit, sampai aku kehilangan tangannya.

“wae?? Bukan nya kau merasakan apa yang aku rasa kan..??” kali ini air mata ku mulai menebal sampai aku tidak mampu menatap wajahnya jelas.

Dia seperti orang tuli, tidak menghiraukan perkataan ku. Langkah nya mulai tertata kembali menjauhi ku. tanpa menoleh sedikit pun ke arah ku, dia mulai meninggal kan ku.

“hajima..!! mal hajima!!” teriak ku yang tidak membuah kan hasil. Dia tetap meninggal kan ku.

“hajimala chebal!! Atas dasar apa kau meninggal kan ku?? apa ?? katakana lah..!!” langkah nya berhenti. Tetapi menetapkan punggungnya sebagai lawan bicara ku. “apakah kau ingin membalas perlakuan ku dulu?? Kau tahu, aku melakukan hal tersebut karena aku tidak ingin kau berurusan dengan Donghae. Aku tidak ingin kau terluka… dan aku rasa dengan meninggalkan mu adalah salah satu jalan keluarnya.. jadi tolong jangan pergi..”

Jelas ku panjang, punggungnya tidak bergerak dan kepalan tangannya seperti mengeras. Mengapa dia begitu menyeramkan hari ini??

“jika kau pergi, aku akan menganggap semuanya tidak ada artinya…” berharap kata2 ini mampu mengurungkan niat nya untuk pergi meninggal kan ku. tetapi ternyata tidak. Dia tetap meneruskan langkah2 nya dan pergi keluar.

Aku tak mampu mempercayainya, dia pergi. walau aku memintanya untuk tidak pergi tetapi dia tetap pergi meninggalkan ku. mata ku tak henti menatap pintu yang Jinki lewati tadi, sambil terus mengeluarkan butiran2 air mata yang mulai membasahi wajah ku.  Sambil  mengigit bibir bawah ku untuk menahan rintihan tangisan ku agar  tidak terdengar terlalu keras, aku terus menatap hampa pintu itu.

“YYA!! LEE JINKI YYA!! Gatun babbo!!! nan neun miwoyo!!! Miwoyoooo!!!!!! Neomu miwoyo!!! Aaaaaagh, aku hampir gila karenanya!!!” teriak ku sambil terus menangis.

Kreeeek….

“aku kan pernah bilang pada mu, jangan menghardik orang jika tidak di hadapannya.. percuma saja kesal mu tidak akan membaik…” Dia, si manusia babbo itu muncul kembali di hadapan ku. dengan senyumannya dia menghapiri ku lagi. aku tidak bisa mengatakan apa2, hanya melihatinya dan menunggu apa yang akan dia lakukan.

“wae?? Kau tidak suka aku kembali ke sini?? Seperti itu  sekali kau menatap ku??” aku memang menatapnya tajam. Bagaimana tidak?? Aku merasa seperti di permainkan olehnya.

“yya!! Kau sedang berpura2 kah?? Apa ini maksudnya??”

“hentikan tangisan mu..” sambil menghapus butiran2 halus di pipi ku dengan tangannya. Darah ku membeku saat dia memegang wajah ku dengan kedua tangannya. Ini begitu membuat aku gugup.

“kau yang membuat aku menangis..!! nan neun dang sing miwoyo!!!!” itu benar, aku menangis karena dia meninggalkan ku tadi, tetapi mengapa dia kembali lagi. sepertinya dia mempermainkan ku, menyebalkan. Aku pun dengan segera membuang muka agar tidak menatap wajah kuno nya. Lee Jinki.

“ geudhe… geurom ssshh… saranghae-yo..”

Kata2 nya barusan mengubah atmosfer di dalam ruangan seketika. Menjadi sangat panas dan rasanya menjadi aneh. Aku tidak berani menoleh kearahnya lagi. ini terlalu membuat perut ku sakit, dan lutut ku lemas. Jantung ku, jantung ku… berdetak lebih cepat dari sebelumnya, mengapa kata2 nya membuat diri ku begitu tidak normal. Aiiisshh… lalu, apa yang aku harus lakukan?? Ottokae?? Ok, aku akan menoleh kepadanya di hitungan ke tiga. 1…2….3

BRAAAAK…

“mwo..??” exspresi ku kaget ketika melihat dia pergi melewati pintu yang sama.

Apa2 an dia. Dia kabur meninggalkan aku dengan perkataannya yang tadi. Apa dia sedang bercanda?? Mengatakan kata2 itu lalu pergi tanpa sempat mendengar jawaban ku. sebenarnya dia itu namja atau apa?? aaaiiiisssh… Lee Jinki, ddo!! Sincha sincha sincha gatun babbo!!!

Tiba2 unni deul ku masuk kedalam kamar ku sambil menyeret si namja babbo itu. Mengapa?? Aiiish, ini begitu memalukan.

“yya..!! Minzy-ya.. jawablah, sebelum si babbo ini aku hajar!!” CL unni yang memegangi telinga Jinki berteriak ke arah ku. Jinki sepertinya sangat kesakitan karena telinganya di tarik oleh CL unni.

“kalian?? Kalian yang menyeretnya kemari??”

“iya Minzy, aku ingin namja kuno ini berbaikan dengan yeoja nya..” Dara unni menjawabnya. Dia berjalan kearah ku lalu duduk di kursi yang baru saja Jinki tinggalkan setelah mengatakan hal itu.

“mwo?!! Apa maksud unni menyebut ku ‘yeojanya’…seenaknya saja..”

“tidak usah berpura2..!!! aku tahu kau menyukainya. Menyukai si kelinci ini bukan??!” kata Boom unni sambil mencubit pipi Jinki. Kasihan sekali Jinki dia di keroyok 2 nunna sekaligus.

“aaaaagh..!! apa-yo nunna!!” dan akhirnya Jinki berteriak kesakitan. Hal tersebut membuat ku…

“hhahahahha…. Sudah cukup unni sepertinya Jinki tersiksa hhahhaha…” kata ku membela Jinki.

“ckckck… dia memang payah..!! bagaimana kau bisa menyukai namja payah seperti ini??!!” teriak mereka bertiga berbarengan. Aku yang mendengarnya hanya bisa tertawa. Aku menyadarinya sekarang, walau Jinki begitu kuno, basi, bau dan tentu menyebalkan tetapi aku tetap menyukainya. mungkin kemarin aku mampu membohongi Jinki dengan mengusirnya dari hidupku, tetapi tetap saja aku tidak mampu membohongi diri ku sendiri sehingga aku memintanya kembali. Ini sedikit konyol, permainan ini membuat aku menjadi Minzy yang baru. Memang tidak seperti aku yang biasanya maka dari itu aku menyebut diri ku yang baru, bukan diri ku yang berbeda atau berubah. Gommawo oppa..

“molla..!! yya, unni.. apakah kalian tidak mempunyai kelas jam segini??” Tanya ku berbasa-basi dengan mereka.

“aaaah, geudhe2.. kita akan segera meninggalkan mu berdua dengan si babbo ini..” Dara unni memahaminya dan langsung menyeret 2 unni ku yang lainya.

“aneyoooooong unni..!!!” kataku sebelum mereka menutup pintu kamar ku.

Jinki berdiri di samping ku sekarang. Senyumnya pun masih menyeringai keberadaan nya di sampingku. Nyaman itu pun kembali lagi, dengan adanya seorang Jinki aku mampu merasakan nyaman itu kembali. –saranghae yo oppa…-

“geurom.. kau merindukan ku, oppa??” kami pun saling melemparkan senyum yang mungkin kami merasa nyaman dengannya.

“tentu tidak. Kau itu yeoja yang datar, tidak ada yang perlu di rindukan dari diri mu..” katanya tanpa beban sedikitpun.

“apa maksud mu, YYA!!!!”

THE END.

aku rasa FF ini penuh dengan kecacatan. aku malu untuk menerbitkanya tetapi aku harus tetap bertanggung jawab denga karangan ff ku, jika sudah di buat harus diselesaikan. mungkin ff yang setelah ini aku harap membuat reades terhibur. Minahae… kamsamida yang sudah sudi membaca. ^^

Iklan

3 respons untuk ‘Better spend with you (part 3) -end-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s