Our Love (part 1)

Image

Author : Arra

Rating : PG

Genre : Romance

Cast : Kim Kibum (shinee), Lee Jieun (IU), Kim Heechul (SJ), Choi Siwon (SJ), Ahn Sohee (wondergirl).

NB: kamsamidaaaa udah mau baca. ^^, mudah-mudahan tertarik untuk baca part ke2nya… *kasih kemenyan di blog. hhahahhaa..

 jieun pov. 

Tok…tok…tok…

“hakim sudah memtuskan bahwa Kim Heechul dinyatakan bersalah karena terlibat penyuapan pajak pada Perusahaan Hyundai sebesar 2,5 milyar dalam satu tahun !!!”

Appa hanya menunduk malu mendengarnya. Aku yang duduk di sebelah oemma hanya bisa melihatinya yang sama sekali tidak menoleh kearah ku.

“dendaan atasnya sebesar  50 juta  dan menyita rumah, mobil berserta fasilitas mewah yang Kim Heechul miliki. Dan hukuman yang harus saudara Kim Heechul jalani selama 10 tahun..”

Seperti di sambar petir. Mulai hari ini sampai 10 tahun yang akan datang aku tidak bisa melewati hari-hari ku bersama appa lagi. dia menghilang di balik jeruji-jeruji besi yang kokoh dan terhenti di sana. Aku yang menahan air mata hanya mampu memandanginya, dan oemma dia sudah larut dalam tangisannya setelah mendengar hukuman yang di berikan pada appa.

“jieun …” lirih oemma  sambil menggenggam tangan kecil ku, erat. Sepertinya dia pun menyadari bahwa yang dia miliki kini hanya aku.

“appa…!!” Bisikku kecil dibarengi linangan air mata.

Seperti mendengar bisikan ku, appa menoleh ke arahku lalu tersenyum kecil. Senyuman kecil itu menjadi yang terakhir dari hidup ku bersamanya.

*****

Jieun pov.

“nan neun kim__” terhenti. Aku teringat bahwa nama keluarga ku sekarang adalah Choi, bukan Kim. Walau sebenarnya aku terlahir sebagai seorang yang menyandang marga ‘Kim’ –tentunya karena appa asliku bermarga Kim-, tetapi oemma melarang aku menggunakan marga itu lagi. dia terlalu sakit hati dengan kelakuan appa asli ku itu. yaitu Kim Heechul.

“nan neun Choi jieun imnida…” senyumku pun menyeringai.

“ne, chebal..”

Aku membungkuk kan badanku lalu mulai bernyanyi. Bermain dengan nada dan lirik perlirik yang aku lantunkan. Aku sangat berusaha menujukan kemampuan ku untuk bernyanyi dan mereka -2 namja dan 1 yeoja- memperhatikan *perfome*ku dengan sangat tentunya. Aku berharap aku mampu bersekolah di sekolah artis ini .‘Kirin’. Hanya ingin memenuhi keinginan appa tiri ku, Choi Siwon. Dia donatur terbesar di sekolah ini, mungkin karena itu dia menyekolah kan aku di sini. Atau mungkin aku memang mempunyai bakat bernyanyi. Mungkin..

“kamsamida…” usai ku bernyanyi.

“Choi Jieun.. sepertinya kau mempunyai bakat untuk bernyanyi..” kata salah satu namja di belakang meja panjang, beberapa langkah di hadapan ku. aku dapat mengetahui siapa namanya dari papan nama yang terletak di atas meja panjang tersebut ‘Cho Kyuhyun’. Tentu dia juri di sini, jadi dia yang  menentukan aku berhak sekolah di sini atau tidak.

“ne, kamsamida..” jawabku sambil tersenyum padanya.

“heem, jieun bisakah kau menari?? Jika bisa tolong tunjukan sedikit saja pada kami.” Sekarang giliran yeoja cantik yang berpapan nama ‘Kim Hyoyeon’ itu memintaku menari.

“atau seperti mencampur kreografi dengan lagu mu tadi, lagu apa tadi??” park jungsoo pun tidak ingin ketinggalan menguji kemampuan ku. aku sangat mengenalinya bagaimana tidak, dia chingu appa   tanpa melihat papan namanya saja aku sudah mengenalinya.

“ah, tadi.. igot.. ‘Hello’. Lagu yang aku nyanyikan tadi berjudul ‘Hello’.” Kataku ragu. Mungkin karena aku sedikit gugup.

“aah, kalau begitu  bisakah kau menambahkan koreografi dari lagu yang kau bawakan itu, anggap saja kau sedang berada di atas panggung dan kami?? Kami adalah penonton yang hadir saat itu. Hiburlah kami dengan kemampuan mu, jangan ragu..” jelasnya panjang lebar. Mendengarnya rasa gugup ku bertambah, berada di sini saja sudah sukses membuat perut ku mulas apa lagi membayangkan berada di atas panggung. Mungkin bukan perut ku saja yang mulas, jantung ku pun bisa berhenti.

“aaah, eesshhh… geudhe. Aku lakukan..” mau bagaimana lagi, aku harus melakukannya kalau tidak mungkin aku tidak bisa sekolah di sini.

Aku pun mengulangi perfome ku, menyanyikan lagu yang sama tetapi memakai sedikit gerakan-gerakan atau lebih di sebut koreografi sesuai keinginan para juri. Aku tidak terbiasa dengan menari, entah mengapa aku tidak terlalu tertarik dengan hal tersebut. Dan mungkin saja karena itu aku terlihat kaku sekarang. Memalukan.

“geudhe.. cukup. Kau bisa keluar sekarang.. “ Kim hyoyeon sepertinya bosan dengan perfome ku. wajar saja aku tidak lebih baik dari pada ayam yang menggoyangkan bokongnya.

“aah, kamsamida..” membungkukkan badan. Cho kyuhyun memanggil nama perserta selanjutnya dan aku pun harus segera keluar dari ruangan ini. aku pun segera berjalan ke depan pintu yang harus aku lewati, baru saja aku memegang knop pintunya aku..

BRAAAAAK…

“Aaaiiiisshhh… neomu apo…!!” pintu kayu itu menabrak tepat di kening ku. aku terjatuh. Sambil memegangi keningku yang sakit aku menunggu seseorang di balik pintu tersebut. Seseorang yang membuat keningku sakit. Dan, ‘taddaaa’ aku dapati namja berbadan tinggi, berkulit putih, dan bermata sipit. Aku tidak mengetahui siapa dia, tetapi satu yang aku ketahui dari nya yaitu dia orang yang membuat keningku memar karena di tabrak pintu yang dia dorong. Aku menatapnya kesal tanpa terbangun dari jatuhku berharap dia meminta maaf lalu membangunkan aku dari jatuh yang dibuatnya. Tetapi apa, dia malah melewati ku begitu saja. Hanya menatap ku yang terduduk di atas lantai lalu berlalu. Namja macam apa dia?? Apakah dia tidak tahu cara bertata ramah dengan seorang yeoja?? Aiiish.. mengatakan maaf saja tidak.

“jieun, gwenchanayo??” Cho kyuhyun menghampiriku dari belakang. Dia berlutut lalu memegangi kedua lengan ku. “mari aku bantu…” lalu dengan perlahan aku dibantunya untuk berdiri.

Mataku tetap tertuju pada namja sialan itu, dengan sejuta kesal aku mengumpat dalam hati. Munngkin dia sama sekali tidak merasa bersalah, tetapi seharusnya dia menyadari bahwa telah menabrak seseorang di balik pintu. Dia itu tidak punya otak apa?? aiiissshh …

Cho Kyuhyun memapahku sampai aku mampu terduduk di kursi tunggu yang letaknya tepat di depan ruangan audisi. Beberapa orang yang masih menunggu giliran melihati aku, mungkin mereka berpikir aku  gagal audisi lalu mencoba bunuh diri di dalam dengan membenturkan kepala ke meja para juri. Bodoh..

“ddo..” sambil meneliti keningku yang memar. Dia menyingkir kan poniku lembut lalu mencoba untuk menyentuhnya.

“aaaashhh…apo” rontaku spontan. Keningku cedera, namja babbo!!!

“sepertinya benturan itu keras. Keningmu memar.. aku antar kau ke ruang kesehatan??” Cho Kyuhyun pun menyadarinya, mengapa namja itu tidak?? Memikirkannya membuat darah ku mendidih saj, wajahnya, tatapan matanya yang tidak bersalah. Sebenarnya dia itu sakit atau apa??!!

“yya, kau melamun?? Sudahlah aku antar kajja…” Cho Kyuhyun pun segera menyelamatkan keningku, untung saja masih ada manusia yang peduli kepadaku.

*****

Sekitar setengah jam yang lalu aku masih berada di ruang kesehatan. Tetapi sekarang aku sudah duduk di kursi tunggu itu lagi. sambil mengkompres keningku dengan sekantung es batu aku duduk gelisah di ruang tunggu itu. Mungkin bukan hanya aku saja yang merasakan kegelisahan ini, para perserta yang lain pun sepertinya merasa gelisah juga. Tentunya karena menunggu keputusan terakhir juri kirin. Siapa saja yang berhak sekolah di sini dan siapa saja yang kurang beruntung. Aku melihat raut wajah mereka satu persatu, semuanya sepertinya tegang dan gelisah kecuali satu orang. Dari raut wajahnya tidak sama sekali menujukan gelisah atau pun cemas. Orang itu adalah si namja yang membuat keningku memar, dia… aiiisshh, sepertnya dia tidak mempunyai emosi. Exspresi wajahnya datar dan matanya?? Terlalu sipit, karena itu mungkin dia terlihat sangat jutek.

Aku terus melihatinya dari tempatku tetapi dia tetap tidak merasa sedang dilihati. Dia begitu tidak peduli pada keadaan sekitar. Tahu cara ini tidak berhasil, aku memutuskan untuk duduk tepat di sampingnya.

“aaiiggooo… neomu  apa..!!” teriakku di sampingnya sambil memamerkan sekantung es batuku. Berusaha untuk mencuri perhatiannya, tetapi tetap saja. Dia tidak berkutik sama sekali, tetap dengan posisi duduk bersandar pada punggung kursi dan meluruskan kedua kakinya kedepan. Dia goyang-goyangkan telapak kaki kanannya yang bertompang dengan kaki kirinya, lalu tangannya. Dia lipat rapi di depan dadanya.

“aiiiissh… dia sedang memakai *hetset. Sepertinya sedang mendengarkan musik, asik sekali.. dan dan.. matanya terpejam. Aiiissh jieun babbo!! mengapa aku tidak menyadari dia sedang memejamkan mata, kalau begitu pantas saja dia tidak menyadari kedatangan ku. habis matanya terlalu sipit jadi aku tidak menyadarinya…” gerutuku yang tetap terduduk di sampingnya.

Misiku gagal untuk mendapatkan perhatianya. Tetapi aku jieun tidak akan menyerah. Aku akan membuat dia menyadari apa yang telah dia perbuat dan berlutut meminta maaf padaku. Hahhahha… tiba-tiba pandanganku tertuju pada Iphone hitam yang berada di saku jaketnya. Ide brilianku pun muncul, segera aku mencabut *hetset yang berhubung dengan Iphone nya.   Lagu yang sedang dia dengarkan pun terhenti dan hal ini menimbulkan respon. Matanya terbuka dan segera mendapati aku dengan Iphone nya di tanganku. Aku menatap ke arahnya dan dia pun menatapku tajam, menyeramkan.

“bagaimana?? Kesal bukan rasanya, kalau begitu cepat__”

“menggagu saja..” dia bergumam lalu merampas kembali Iphone nya dari tanganku. Tanpa menghiraukan apa yang aku katakana dia berpindah tempat duduk 3 langkah di sampingku.

Kegiatan yang tadi terhenti pun terulangi kembali, mendengarkan music dan bersantai sambil memejamkan matanya. Mulutku mengangah dan mataku membulat, aku tidak percaya ada manusia semenyebalkan itu. Sama sekali tidak menggubris aku Choi Jieun, yeoja cantik ini.

“Aiiish, manusia ini…” gerutuku kesal.

Aku masih di kursiku, memandanginya dengan telliti. Mataku meratapinya dari atas sampai bawah. Dia memakai sepatu tali berleher  berwarna hitam polos, celana jeans berwarna abu-abu, T-shirt hitam dengan gravity abu-abu di dalamnya. Entah gravity itu tertulis apa, aku tidak mampu membacanya dengan jelas, dan sentuhan terakhir dari penampilanya, jaket hitam yang menurutku terlihat keren. Dia begitu modis, tidak seperti diriku. Berpakaian seperti apa saja yang terpenting adalah jaket yang sangat sangat sangat tebal tentunya. Udara di Seuol membuat darah di dalam tubuh bisa membeku.

Aku mengenduskan nafasku panjang, masih dengan mata yang melihati namja aneh itu. Kali ini sasaran pandanganku bearah kepada wajahnya. Dia berhidung kecil dan mancung, bibirnya pun tidak tebal, matanya? Aku sangat tidak menyukai matanya, sipit dan kejam ketika sedang menatap seseorang. Sebenarnya bentuk mata sipit seperti itu sudah familiar di korea, tetapi mengapa miliknya begitu berbeda. Maksudku begitu terlihat menyeramkan dari pada yang ada di korea. Alisnya pun mendukung mata sipit itu. Tipis dan menukik ketengah, huuuft menambah keseramannya saja…

“para perserta bisa mulai melihat keputusan kami, pihak sekolah di madding sekolah atau pun di web sekolah. Bagi para peserta yang tidak diterima jangan putus asa, tahun depan kami masih bisa menerima anda. Sekian, kamsamida..”

Mendengarnya aku spontan berdiri dan menahan lututku yang bergetar. Perserta yang lainya mulai berhamburan untuk segera melihat madding, ada juga yang segera membuka web sekolah melalui Phone nya masing-masing. Aku yang masih berdiri bingung apa yang hendak aku lakuan. Melihat langsung dari madding atau membuka web. Hah, aku gugup.. bagaimana ini??…ottokae?? aku terlalu gugup.

“yya..!! ddo!! Khusus untuk donatur sudah pasti menjadi murid di sekolah ini..”.

“mwo??” di tengah-tengah kegugupanku, si namja aneh itu bersuara. Sambil mengutak-atik Iphone nya dia berbicara denganku. Apakah ini cara berbicara yang baik dan benar?? Hello..??

“appa mu Choi Siwon bukan??” masih dengan sikapnya yang mengacuhkan lawan bicaranya. Tentu dengan lebih memilih menatap layar Iphone nya dari pada melihat ke arah lawan bicaranya.

“ne, appa mu__”. “Kim Youngjong, donatur terbesar pertama di sekolah ini..” jawabnya dengan memotong perkataan ku yang belum selesai.

Mendengar komentarnya aku tidak tahu harus merespon apa? karena hal tersebut sungguh tidak penting. Aku tidak peduli pada donatur-donatur di sekolah ini. memang hal ini perlu dibicarakan ketika bertemu dengan orang baru?. Konyol… aku hanya bisa terdiam dan melihatinya dengan merenyitkan dahiku menunjukan kebingunganku atas apa yang dia utarakan tadi.

“aigoo..percuma berbicara dengan mu, lupakan saja..” sambil berlalu dari hadapanku.

Aku berdiri menghadap punggungnya yang semakin menjauh. Kini yang ada di otakku hanya pertanyaan “siapa namja itu?”. Dia begitu sombong tidak memperkenalkan dirinya padaku. Tetapi satu yang aneh, dia memberitahu siapa appa nya tanpa memberitahu siapa dia. Dan bagaimana bisa dia mengenali appa ku?. atau jangan-jangan dia pun mengetahui siapa aku?? Heeem, dia itu terlalu aneh bagi ukuran manusia.

“aaaaaagh!! Lupakan..lupakan!!!” gerutuku sendiri seperti orang gila.

****

“bagaimana dengan audisinya tadi?? Berjalan dengan lancar??” Tanya appa ku sambil melahapkan sesendok  bubur tim pada bibir mungil yogeun.

“biasa saja appa, tidak ada yang special..”  jawabku malas. Aku memang malas ketika harus mengingat-ingat kejadian tadi pagi di sekolah.  Audisi, membuat koreografi menyedihkan, tertabrak, keningku, namja itu, dan sikap arogannya yang aneh. Jika mengingatnya membuat darahku mendidih lagi.

“kau ini, mengapa terlalu datar jawabannya?? Kau tidak tertarik dengan sekolah itu?? Mau appa carikan sekolah lain untuk kau tempati?? Atau__”. “APPA..!!!” panggilku sedikit berteriak ke arah nya. karena mengingat sesuatu hal yang sedikit bodoh jika di tanyakan.

“WAE-YO?” jawab appa spontan. Mungkin karena terkaget dengan panggilan ku yang bernada tinggi, dia pun menumpahkan segelas air putih yang berada dekat tangannya. “aiiish, kau ini. mengapa berteriak? Lihatlah appa jadi menumpahkan sesuatu.. wae-yo??”

Seperti biasa. Setiap makan malam kami berkumpul di meja makan. Appa, aku dan Yogeun, adik  dari appa tiriku. Tanpa oemma tentunya. Hal ini biasa terjadi di setiap harinya. Malah hal yang tidak biasa jika oemma makan malam bersama kami di rumah. Entah apa alasnya, tetapi hal itu lah yang terjadi. Sepertinya oemma masih belum terbiasa mempunyai suami selain… appa asli ku.

“appa!! Sebenarnya appa donatur terbesar nomer berapa?? Pertama?? Kedua?? Atau.. ketiga??”  sambil menatap appa dengan tatapan yang tajam dan sumpit yang masih menempel di bibir.

“memangnya kenapa?? Itu tidak penting jieun..” tangannya kini mendarat di kepalaku lalu mengusuk-kusuk halus rambutku.

“sudahlah jawab saja appa..” melihat aku memaksa, dia hanya tersenyum.

“kau sama saja dengan adik mu yang balita ini. tidakkah kau merasa?” menyebalkan, bagaimana bisa aku disamakan dengan anak yang baru balita. Mataku segera melihat ke arah yogeun dan di sambut oleh senyuman dari bibir yang belepotan dangan bubur timnya.

“ciih, yang benar saja appa..” gumamku kecil.

“yya, jieun mengapa kau menanyakan hal itu??” tanyanya lembut. Sesekali aku bersyukur mampu memiliki appa tiri sepertinya. Begitu lembut dan penyayang, sesekali aku pernah di marahi karena sikap sembronoku. Sehabis itu dia pasti mengutarakan kasih sayangnya lagi. Andai saja appa asliku… mungkin dia bisa menyayangiku lebih dari pada ini.

“ani appa, hanya saja nae ching__” terhenti. Apa yang hendak aku katakana? Chingu?? Bahkan aku belum mengenalnya, mana bisa aku menyebut si namja aneh nan arogan itu sebagai chingu. Dia pun belum meminta maaf pada ku. benar-benar dia…

“hem, salah satu perserta berkata__”. “bahwa, Choi Siwon selalu berada di urutan setelah Kim. Begitu bukan?” sahutnya berlebihan.

“eh..” aku sedikit kaget akan responnya. “appa terlalu berlebihan..” tambahku.

“huh, memang itu kenyataannya orang-orang selalu__”.”sudalah.. appa, jangan dengarkan apa kata orang. Tau apa mereka tentang appa?” sambil meletakan sepasang sumpitku di sebelah mangkuk kosong yang aku gunakan makan tadi.

“geudhee…” kata appa menyetujui apa yang aku katakana.

Aku menatapi appa yang sedang menyuapi yogeun dengan sabar. Walau baju, tangan dan meja makan menjadi kotor karenanya, appa tetap mengizinkan yogeun untuk makan bersama kami di meja makan.

Appa tampan, kaya, berkepribadian baik dan menurutku dia sangat sangat terlihat keren. Tetapi mengapa dia mau menikahi janda beranak satu seperti oemma?? Padahal oemma lebih tua beberapa tahun dari pada appa. Aku tidak mengerti, terlebih lagi perilaku oemma yang menurutku sedikit mengganyang hati. Aku tidak mengerti mengapa oemma bisa berpelilaku seperti itu. Dia bukan oemma yang aku kenal, atau mungkin oemma masih depresi karena perilaku appa asliku? Atau juga oemma masih belum bisa melupakan appa asliku karena dia masih mencintainya?? Kim Heechul, mana mungkin oemma mampu melupakannya. Aku pun sampai sekarang masih selalu teringat senyumnya. Memfikirkan hal ini tidak ada habisnya… sudahlaah..

BRAAK..BRAKK..

Yogeun memukul-mukulkan tangan mungilnya ke atas meja makan. Dia mulai menghancurkan segalanya seperti gozila besar menghancurkan seisi kota. Appa mencoba untuk menghentikan kelakuan Yogeun yang nakal itu tetapi percuma saja Yogeun terlalu hebat untuk hal seperti ini.

“Yogeunna!! Hajimaaaa..!!” kataku dengan setegas mungkin agar dia merasa takut dan menghentikan kelakuannya. “Nunnaaaa..!!” sambutnya dan…

PLAK.. sepotong daging penuh bumbu mendarat di keningku tepat di atas benjolan yang bersemi sedari pagi. “aaaah, apa-yoo..!!” teriakku sambil memegangi keningku yang terasa sakit ini. rasa sakit dan lengket kini bertaut di keningku.

“hhahhahha…” melihat aku kesakitan karena lemparannya, Yogeun pun tertawa puas. Dia kira aku kesakitan karena lemparannya tetapi kenyataan aku kesakitan karena memang keningku memar sedari pagi.

PLAAK.. lagi, dia melakukannya lagi. kali ini mendarat di tempat yang berbeda, di mata sebelah kananku. Hal ini sukses membuat wajahku di penuhi bumbu merah dari daging yang dia lemparkan. Appa menahan ketawa sambil membersihkan wajahku dengan tissue yang ada.

BRAAAAK…. Tanganku menghantam meja makan dengan keras. Yogeun terdiam melihat nunna nya mulai terlihat marah. Mataku menatap Yogeun dengan tatapan membunuh, dan raut wajahku berubah menjadi begitu menyeramkan.

“aku tidak akan membiarkan kau membuat lemparan yang ketiga, Choi Yogeuuun!!!!!”

PLAK..PLAK…

Gagal, Yogeun terlalu hebat untuk di hentikan. Anak nakal itu sungguh mempunyai mental yang kuat, tidak peduli siapa yang memarahinya, bagaimana dia di marahi. Dia tetap melakukan hal yang dia inginkan.

“appa…!!! Jauhkan yogeun dari meja makaaaaan..!!!! pallliiii..!!!” teriakku meramaikan seisi rumah di malam hari.

****

“heem..” aku menggeliat pelan.

Rasa nyamanku di kasur muai berkurang karena rasa hausku yang tiba-tiba muncul. Seketika aku tersadar dan menghentikan perjalanan mimpiku, walau dengan mata yang masih tertutup tanganku tak terhenti untuk meraba-raba mencari segelas air yang aku letakkan di atas meja kecil dekat kasur. Tidak butuh waktu yang lama aku pun mendapatkanya tetapi sayang gelas itu terlepas dari tanganku tak sengaja.

TIIAARR..

“aiisshh…babbo” aku yang menyadarinya langsung mengambil sikap. Terduduk dan menyalakan lampu tidurku. Dalam keremang-remangan aku mencoba menerawang pecahan gelas itu.

Aku harus segera membersihkan pecahan-pecahan gelas ini, sebelum ada yang menginjaknya. Dengan sangat terpaksa aku harus bangkit untuk menambil sapu dan membersihkannya, mungkin sebelum membersihkannya aku akan pergi kedapur terlebih dahulu. Hausku mulai memuncak sekarang.

Telapak kakiku pun mulai memakai sepasang sandal kamarku, si bunny. Berbulu putih dan lembut, dia berupa kelinci yang menurutku terlihat sangat gyowo. Perlahan aku berdiri dan..

“aaagh..!!” rupanya pecahan gelas itu masuk kedalam sandal kamarku. Kaki kiriku terluka, dara keluar dan merubah warna si bunny dari putih menjadi merah. “apa-yo..” rontaku kesakitan. Aku biarkan pecahan gelas itu menacab di telapak kaki kiriku, dengan di baluri darah hangat yang menyempurnakan rasa perih itu, aku mencoba bangkit dan berjalan. Aku harus memberitahu ajhuma dan memintanya mengobati lukaku. Langkah yang terbata-bata mengantarkan aku ke ruang tengan lantai dua. Masih meraba-raba dingding untuk membantuku berjalan aku mendengar appa berteriak dari arah lantai bawah.

“YYA!! Chagi-ya..!! dengarkan dulu!!”

“mondeh??!! Sudahlah, kau tidak usah mengurusi urusanku lagi..!!” dan kini aku mendengar oemma yang berteriak. Sepertinya mereka sedang bertengkar.

Sesegera mungkin aku menuruni anak-anak tangga yang membawa aku ke lantai bawah. Sebelum aku menginjak 3 terakhir anak tangga itu, terlihat appa dan oemma sedang saling berteriak antara satu dan yang lainya. Wajah oemma merah padam, dan air matanya masih melekat di pipinya. Dan appa, mencoba meperbaiki keadaan tetapi gagal. Tak terasa kembali, pecahan gelas yang menancap di kaki ku seketika tak terasa lagi. rasa perih itu hilang, tergantikan rasa perih di hatiku. Siapa yang tidak merasa perih ketika kedua dari orang yang kita cintai bertengkar dan saling menyakiti.

Tak terasa, air mataku pun ikut hadir di malam ini. Seperti menemani oemma yang menangis, aku pun ikut menitikan air mata.

“kau, kau mau kemana?? Ini sudah malam Sohee..!!!”

“bukan urusan mu, Choi Siwon!!!” eomma pun pergi meninggalkan appa entah kemana.

Appa menjatuhkan badannya ke sofa. Matanya terpejam dan menghela nafas panjang, sepertinya dada appa sesak. Sesak karena pertengkaran tadi. Mungkin oemma pun begitu, dadanya sesak.

“jika sesak rasanya, aku minta maaf atas kesalahan oemma ku…” kataku pelan tapi masih bisa terdengar.

“jieun?? Kau belum___”. “appa mianhae, jeongmal mianhae..!!” aku membungkukkan badanku dan terus meminta maaf padanya. Walau lututku gemetar aku terus membungkukkan badanku sambil menangis. menangis membayangkan aku kehilangan appa lagi karena kesalahan yang dibuat oemma. Cukup 4 tahun aku lewati tanpa kehadiran seorang appa di sisiku. Aku tidak ingin kehilangan sesosok appa lagi, jeongmal…

“jieun?? Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu___”. “tapi appa, aku tidak ingin karena kalian sering bertengkar aku kehilangan appa lagi… aku ingin appa yang menjadi appaku seterusnya..” Kataku jujur.

Aku meletakan kaki kiriku kelantai tanpa sadar, hal itu membuat pecahan kaca itu masuk lebih dalam dari sebelumnya. Rasa sakit dan ngilu mulai menyebar keseluruh tubuh, membuat aku tidak dapat menompang kembali badanku dengan sebelah kaki. Tak bisa dipungkiri, aku pun terjatuh.

“aaaagh, apa-yo..”. sambil memegangi kaki kiriku. Appa yang melihatku seperti itu baru menyadari bahwa sandal kelinci putihku sekarang berubah menjadi merah darah. Dia terperanjat dan segera menghampiriku.

“jieun, kau terluka.. wae??” dia pun mulai melihat kaki kiriku yang basah akan darah. “kau terluka parah, appa panggilkan dokter. Changkeman..” appa, mengeluarkan phone nya lalu segera menghubungi dokter yang dia kenal. Hal ini, hal ini yang tidak ingin hilang dari hidupku. Seorang appa yang berada di sisiku.

“gomawo…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s