Oppa (one Shot)

Image

Title : Oppa

Author : Arra 

Cast :

  • Lee Donghae
  • Kim Taeyon

Genre : Romance, sad.

Rating : PG 16

Length : one shot

NB: tulisan ini terinspirasi dari lagu ‘First Love’ nya Donghae, romantis banget lagunya. jadi kalau bisa yang mau baca, bacanya sambil dengerin lagu nya ‘Firts Love’ nya Donghae supaya semakin menyentuh. kamsamidaaaaaaa ^^

Oppa…

Entah bagaimana caranya aku mampu merasa dekat denganmu. Merasa kau membingkai segala aktifitas yang aku lakukan. Di hari-hari yang aku lewati tak terasa sepi sekalipun. Semuanya terasa hangat seperti dulu, seperti masih berdetakkan denyut nadi bersama mu.

Kakiku melambai-lambai ke udara dingin malam hari di korea. Aku masih duduk di sini oppa, masih di tempat yang sama. Ayunan yang berada di puncak apatermen kita. Aku pun masih menduduki bagian ku.

“dengar Taeyon, kau tidak boleh melewati garis ini. aku sudah membagi  tempat duduk ini menjadi dua, sebelah kiri milik mu dan sebelah kanan milik mu… di sini kita bisa duduk berdampingan tanpa ada yang mampu menengahi..”  kata-kata mu yang konyol itu masih terdengar jelas seperti baru sedetik tadi aku dengar. Dan walau  hanya dengan  mengingatnya, aku mampu tertawa kembali.  Sudah ku bilang aku masih terasa dekat denganmu.

Terpaan angin malam yang membekukan helaan nafas ini, menyelimuti tubuhku tanpa melewatkan satu inci pun. Wajahku memerah karena dingin yang aku rasakan begitu menyiksa. Kau pun segera memahaminya, aku tahu kau akan selalu memahamiku..

“Kim Taeyon, sudah aku bilang belilah jaket yang sangat tebal.  Lihat tubuhmu itu, sudah kurus  hampir membeku pula, untung saja aku Lee Donghae si namja baik hati ini mau berbagi kehangatan dengan mu kemarilah…!” kau pun mulai membuka jas tebalmu dan berbaginya dengan ku. tetapi tidak semua bagian kau berikan pada ku, kau hanya memberikan bagian kiri dan kau mendapatkan bagian kanan. Kami pun berada di dalam jas tebal yang satu. Rasanya hangat, sangat hangat tetapi bukan karena jas nya aku rasa. Tetapi… karena oppa..

Untuk kesekian kalinya aku tersenyum sendiri, mengingat akan sesuatu hal yang kau lakukan dulu. Sudah berapa kali aku mengenang mu oppa, dan sudah berapa kali aku selalu  tersenyum? 100 kali?? 1000 kali?? Atau berapa?? Aku yang melakukannya pun tak mampu menghitungnya, terlalu banyak jumlah itu. Terlalu banyak jumlah aku mengingatmu. Terlalu banyak jumlah aku mengenang mu. Terlalu banyak jumlah aku membayangkanmu. Ini tak membuat aku lelah, sebaliknya ini membuat ku hidup. Dengar itu oppa membuat aku hidup…..

“nan geudhe mame oppa, geudhe nan mame yoeja, hangsang nega____” terhenti. Mian oppa, aku hanya mampu menyanyikan beberapa lirik lagu yang kau ciptakan untukku. Aku tidak mampu meneruskan lirik-lirik indah itu lagi, aku takut ada seseorang yang mendengarnya lalu menyanyikannya kembali. Aku tidak ingin oppa, cukup diri mu saja yang menyanyikannya, dan cukup diriku saja yang menjadi yeoja beruntung dinyanyikan lagu itu.

Aku tidak tahu di mana kau menulis lirik-lirik indah itu, di surga kah?? Aku rasa kau menulisnya di tengah taman surga. Kau membuat lirik itu begitu indah dan aku yang mendengarnya, merasakan sesuatu yang nyaman. Sangat nyaman sampai aku merasa seperti di tengah taman surga. Aku mengatakan yang aku rasa di sini oppa… jeongmal..

Jari-jari tangan ku mulai menekan dada kiriku yang sangat amat terasa sesak. Sesak sekali…

Aku melakukan nya lagi oppa mianhae… aku tidak mampu menghindari kelakuanku yang ini oppa. Aku mohon kau mengerti…

Aku tarik kakiku sampai aku mampu memeluknya. Kini aku memeluk keduanya dengan sangat erat karena menahan teriakan yang hendak aku lontarkan.

Kini mataku mulai mencari bintang yang paling terang di malam ini, aku menemukannya. Aku selalu menemukannya, dia tepat di sana, selalu di sana tidak pernah berpindah dan tidak penah redup. Dia selalu memancarkan sinar dan seolah-olah tersenyum padaku.

Sinar itu, mungkin tak seterang bulan tetapi aku mampu merasakan kehangatannya sampai ke sini. Tepat di sini oppa, di dada yang sesak ku ini oppa. Hangat dan nyaman… kau tidak mengingkari janji mu oppa, kau menepati janji mu. Janjimu yang akan selalu memberi kehangatan pada diriku, janjimu yang akan selalu tersenyum pada ku, janjimu yang akan selalu menemaniku… kau tidak melupakannya.

“taeyon, aku akan menjadi bintang untuk mu selamanya.. dengar itu selamanya. Aku akan bersinar dengan seluruh sinar yang aku punya untuk mu, khusus untuk mu, tak peduli siapa saja yang memandang aku di atas sana karena sinarku yang begitu terang, aku akan  selalu bersinar untuk mu… di sana, kelak dari sana aku hanya mampu memberikan senyumanku …” begitu, kata mu begitu ketika kau masih mampu mengenggam tangan ku. saat itu, genggaman mu oppa sangat erat, sangatlah erat. Aku pun menggenggam tangamu dengan sangat erat. Jika mampu aku lakukan aku tidak akan melepaskan genggaman itu walau secerca waktu saja. Tidak akan pernah, aku yakin hendakmu pun begitu… menggenggam tanganku sampai kapan pun. Tetapi, kenyataan yang rasanya pahit tak mampu dikalahkan.

“Donghae oppa, hajima… mal hajima chebal..” aku memintanya kembali. Walau aku tahu apa jawaban yang ada tetapi aku tanpa lelah meminta mu untuk tetap disini. Untuk tetap menggenggam tanganku dan memberi kehangatan.

“jika oppa tidak bisa untuk tidak pergi… ajaklah aku bersamamu… chebal..”

“Taeyon… aku tidak akan pergi, kau tidak perlu mencegah ku pergi dan tidak perlu meminta aku mengajak diri mu karena aku sama sekali tidak akan pergi meninggalkan mu.. kita hanya.. tidak mampu untuk saling memandang satu sama lain, tetapi sebenarnya kita dekat…”

Kau bilang kita dekat, kita hanya tidak mampu memandang satu sama lain.

Andai kau mampu berbagi penyakitmu itu dengan ku, aku pun mampu merasakan sakit yang kau rasakan. dan aku pun mampu ‘berpindah tempat’ dengan mu juga. Aku tidak perlu duduk di sini dan mengenang mu sendirian. Aku tidak perlu mencari bintang itu, bintang yang seperti diri mu itu di sini sendirian. Itu tidak perlu…

Kita mampu menjadi bintang berdua di sana, saling berbagi cahaya dan aku tidak perlu menitikan air mata sendrian.

………………

“nan geudhe mame oppa, geudhe nan mame yoeja, hangsang nega____”

Terhenti kembali. Kali ini lirik itu terhenti karena isakan tangis ku yang mulai hadir. Air mata hangat ku mulai mengguyur wajahku perlahan-lahan. Malam ini, malam kemarin, mungkin malam selanjutnya aku akan menangis sendiri di sini. Sebenarnya aku malu pada mu yang sudah bersinar di sana, tetapi rasa sakit ini lebih besar dari pada rasa  malu ku.

Rasa sakit ketika menyadari kau tidak duduk lagi di tempat yang kau tentukan sendiri. Rasa sakit ketika menyadari lagu ‘firs love’ mu itu tidak akan terlantun lagi dari bibir mu. Rasa sakit ketika menyadari kau telah berbaring dingin di tanah pemakaman.

Ketika itu aku memanggilmu lagi, “oppa, Donghae oppa..!!” sambil menangis. tetapi kau tidak sama sekali membuka matamu lagi. aku teringat kau tidak menyukai yeoja yang menangis, lalu segera aku hapus semua air mata ku dan mencoba memanggil mu kembali. tetapi apa yang aku dapatkan?? Orang-orang malah memadatkan kuburan mu dengan tanah tanpa aku bisa melihat mu untuk membuka mata mu lagi.

“oppa saranghae…” gumamku bersamaan air mata yang sedari tadi membasahi pipi dan lutut ku. aku menenggelamkan wajahku di antara kedua lutut yang aku peluk erat. Menahan pedih, karena kenyataan yang ada.

Aku mengingat sesi yang terindah dengan mu. Yaitu ketika kau bergumam kecil sebelum kita benar-benar tidak bisa menatap satu sama lain.

“nado saranghae Taeyon-ssi…………………”

Setelah itu, aku merasa enggan untuk bernafas lagi.

THE END

Iklan

2 respons untuk ‘Oppa (one Shot)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s