Hello Goodbye (Part 2)

Image

“kau mau mempercepat ajalnya kah?”

“mwo..??”

“lihat wajah mu itu, tidak sama sekali bersemangat. Kau ingin menjenguknya dengan keadaan jelek seperti ini? Sebaiknya jangan.. berikan wajah yang penuh semangat agar dia pun melawan penyakitnya dengan semangat..” kata Park memecahkan keheningan di mobil.

Hari ini kami berdua berencana menjenguk Doo Kyung Soo. Sebenarnya aku berencana hanya sendiri menjenguknya, tetapi tadi pagi Park datang ke rumah ku dan memaksa ingin mengantar ku untuk menjenguk Doo Kyung Soo.

“geudhe..? memang bisa seperti itu?? “ jawabku lesu.

“memang seperti itu.. nanti sebelum ke kamarnya, cuci muka dan berdandanlah. Jangan terlihat lesu seperti itu. Aku yakin.. dia pasti sangat senang.” Katanya panjang lebar tanpa menoleh ke arah ku.

Park.. mungkin dengan keadaan seperti ini membuat aku tambah berdosa kepadanya. Dia.. dia selalu ada ketika apa pun yang terjadi dengan ku. Dia tidak pernah sedikit pun tidak tersenyum kepada ku, dan dia pun selalu berusaha membuat ku tersenyum. Walau kami bertemu karena perjodohan antara kedua orang tua kami, namun dia selalu berbuat baik kepada ku. Sekali pun dia tidak pernah mengacuhkan, ku terlebih lagi membuatku sedih.  Tetapi mengapa… ketika dia sedang tersenyum, menatapku, memarahi ku dan bahkan duduk di samping ku yang terlihat hanya Doo Kyung Soo. Bukan seorang Park Chan Yeol, ini yang membuat aku merasa seperti manusia paling berdosa sedunia.  –mianhae oppa…-

“tadaaaa.. kita sudah sampai.. Luna, ubahlah expresi wajah mu itu.. ayo tersenyumlah..”

Bahkan di depan gedung rumah sakit mantan kekasih ku dia kuat kan untuk tersenyum kepada ku. Mengapa kau begitu tulus mengiringi perjalanan hidup ku Park?

***

3/07/2005

“aku lelaaaah.. hahahha, permainan mu bagus tadi, Sulli-shi!”

“jowa?”

“ne, neomu jowa.. hahhaha, karena kamu tinggi melebihi net-nya kita menang!! Hahahhaha..” tawa ku lepas dengan teman baru ku Sulli. Dia seorang yeoja berperawakan tinggi yang baik hati, dia pun terlihat sangat cantik ketika tertawa coba aku adalah seorang namja aku akan menyukainya.

“hahahaha, benarkah karena aku? Kalau begitu aku akan menyukai olah raga volli mulai saat ini..hahhaha..” katanya sambil terus tertawa lepas dengan ku. Aku merasa nyaman di sampingnya.

Udara panas disekitar kami pun mencekik tenggorokan, terlebih lagi setelah banyak mengeluarkan keringat hari ini. Rasa hausnya bagai menumpuk di pangkal tenggorokan. Hari ini memang jadwalnya untuk pelajaran olah raga, aku pun sudah mempersiapkan botol air minum. Tidak hanya sebotol, aku membawa 2 !! mungkin terdengar aneh aku membawa 2 botol minum, tetapi hal tersebut berguna.

“sulli-shi.. aku haus, aku akan mengambil air minumku dulu. Mau ikut?”

“ah, ani.. kamu saja. Aku sebentar lagi mau mengikuti babak ke-2. Karena ucapan mu tadi aku bersemangat kembali bermain volli..!!” katanya riang.

“waaaah.. kalau begitu fighting sulli-shiiiii!!!!”

“neee… fightiiing !!!! hahahaha..” lagi-lagi tawa lepas kami memenuhi atsmofer di antara kita. Sungguh menyenangkan.

Aku berjalan menjauhi lapangan volli tersebut, tentu menuju aku meletakan tas ku. Memang aku meletakkannya sedikit berjauhan dengan lapangan karena ada beberapa kursi panjang yang di naungi pohon rindang yang letaknya terpisah dengan lapangan. Aku meletakan tas ku di sana, membuat tas ku tidak memusi karena kepanasan, atau mungkin itu hanya hayalan ku saja .

“aiiisshhh… “

Seseorang berdecak di bangku  setelahku. Aku spontan melihatnya dan.. bingo, aku menemukan namja yang ku tabrak lusa kemarin. Tetapi mengapa wajahnya begitu merah, apakah dia sakit?

“hem.. aneyong..?” aku mencoba untuk menyapanya. Dan seperti yang ku duga, responnya hanya melirik keberadaan ku sebentar.

“geurom.. wae-yo ?? mengapa dengan wajah mu? Begitu merah..”  aku memberanikan diri untuk bertanya dengan harapan mungkin dia akan menjawabnya.

“hah, sinca??” exspresi wajahnya berubah seketika, dari arogan menjadi kebingungan. Terlihat lucu.. “ne, sinca! Aku tidak berbohong..” kata ku meyakinkannya.

“ini karena aku dehidrasi.. aku tidak membawa ai__”

“igot!! Ambilah.. “

“ah, ani. Gwenchana..”

“muka mu semakin memerah seperti apel..!!! cepat minumlah air ini!!” teriak ku seperto orang panik. Spontan dia mengambil botol air ku dan meminumnya. Aku tahu, dia pun panik ketika mengetahui wajahnya memerah, tetapi yang terakhir aku ucapkan itu tidak benar. Aku hanya menggodanya.

“aah, hhahahhaha…” aku pun tak mampu menahan tawa ku.

“yya, wae? Mengapa kau tertawa? Memang ada yang lucu..” tanyanya spontan ketika melihat aku tertawa, untung saja dia tidak tersedak.

“ani, ….”

Lalu hening. Aku bingung harus mengatakan apa lagi, aku takut dia akan bersikap acuh tak acuh lagi seperti pertama kita bertemu. .. ini sulit, andai saja dia berlaku freindly aku akan berlaku seperti Park Sun Yeol.

Di sela-sela keheningan itu, aku memakainya untuk meminum air mineral ku. sambil melihat kearahnya yang terus diam tanpa mengatakan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan tetapi terlihat dari expresi wajahnya dia ingin mengatakan sesuatu.

“jika_” “goma_”

Terhenti dan kembali hening.

Aku yang mau mengatakan sesuatu tetapi terhenti karena di detik yang sama dia pun angkat suara. Di dalam detik yang sama kita berbicara bersamaan, hal ini membuat awkward saja.

“ah, hahhahaha.. kau mau mengatakan apa??” kata ku yang diawali dengan tawa agar suasana awkwrad itu hilang.

“ani, kamu dulu..” dan jawabnya singkat.

“aaah, ani ani ani… kau saja dulu…” kata ku sambil tersenyum berusaha untuk menerapkan kesan freindly padanya.

“shiroo! You first !!”  tegasnya. Gheude.. satu lagi yang aku ketahui tentangnya. Selain dia arogan dia pun keras kepala.

“ne, ne… gheude aku duluan. Tadi aku mau mengatakan ‘jika ada yang ingin kau katakan katakan saja..’ sudah..”  sudah ku katakan, expresnya tetap saja datar.

“sudah ku katakan kau dulu yang mengatakannya, baru aku akan mengatakan apa yang ingin ku katakan tadi..” jawabnya yang kali ini sedikit panjang. Sepertinya dia sudah mulai terbiasa berbicara dengan ku.

“yah, itu yang aku mau katakan tadi. ‘katakan saja yang ingin kau katakan..’..”

“apa maksudmu..? kau jangan mengelabui ku..” mata bulatnya mulai menyipit seakan mengintrogasi ku.

“aku tidak mengelabui mu. memang itu yang hendak aku katakan.. ‘katakan saja..’ aaah membingungkan!! Molla..”  aku mulai tidak memahami percakapan rumit ini. bertamah image di depan mataku. Arogan, Keras kepala, dan rumit. Aaiiggoo.. namja ini komplikasi sekali.

“ne, aku memahaminya..” lalu mengangguk anggukkan kepalanya. “khem..hah..hahhahhhaaha..” dan ternyata dia meneruskannya dengan tertawa.

“mwo? Mengapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu…” aku pun kebingungan, tiba-tiba saja dia tertawa. Tertawa lepas, si arogan yang aneh ini tiba-tiba tertawa. Tanpa ada yang lucu dan perlu ditertawakan, dia tertawa. Dia memang aneh.. “hajimala, cepat katakan apa yang hendak kau katakan tadi..”

“heh..” dia menoleh kearah ku lalu menghentikan tawanya. Walau masih ada serpihan tawanya dia berusaha untuk mengatakan sesuatu. “hem, geuroom.. gomawo..”

“hah, ne?” aku pun mengkonfrimasi lagi apa yang dia katakan. Aku tak menyangka namja se-arogan itu mampu mengucapkan ‘trima kasih’ pada ku. aku kira tidak mungkin, ajakan ku untuk berkenalan saja dia tolak..

“kau mengelabui ku lagi? Kata-kata ku tadi cukup keras. Tidak usah berpura-pura tidak mendengarnya dan berharap aku mengulanginya..”

“eeh..”  

“sudahlah.. aku pergi.” Lalu dia mulai memunggungi ku dan melangkah menjauhi tempat aku berdiri.

Aiissshh.. namja ini sangat membingungkan, aku rasa dia adalah anak yang baik tapi mengapa sampai sekarang aku belum mengetahui namanya. Bahkan dia kelas berapa di sekolah ini pun aku belum tahu. Padahal kami sudah saling sedikit bercanda hari ini. aiigooo… sulit memang.

“oh, aku lupa.. ddo, Park Sun Yeong, nan Doo Kyung Soo.. “ katanya dari kejauhan setelah beberapa langkah menjauhi ku. tetapi aku tetap bisa mendengar apa yang dia katakan.

“hah ne..” jawab ku terkejut. Bagaimana mau tidak terkejut aku kira dia tidak akan mengatakan namanya, terlebih dia pun mengingat nama ku. waah bagaimana bisa. “Senang bisa berkenalan dengan mu!!!!” teriakku, lagi-lagi aku bersikap freindly padanya. Tetap tak apa lah..

“tentu saja, semua orang yang berkenalan dengan ku pasti merasa senang..” sambil berlalu pergi menjauhi ku lagi.

“aigoo.. dia mulai lagi”

*flashback end*

***

“sudahlah, cepat ketuk pintu kamarnya. Mau sampai kapan kau berdiri di depan sana?” kata Park menghaburkan lamunanku.

“aah, ne.. “ aku sedikit terkejut, tetapi tangan ku tetap membeku dan tidak mampu untuk mengetuk pintu kamar Doo Kyung Soo sekali pun.

“aaah, mwo-ya..?? pali-wa..!!” kesabaran Park pun habis. Melihat tangan ku yang membeku, dia pun mengetukkan berapa nada di atas permukaan pintu kamar Doo Kyung Soo. Dia yang mengawali ketukan itu… dia mengetukkannya untuk ku. dia mengantar dan mengetukkan pintu dari mantan kekasihku. Calon suami ku mengantarkan ku pada mantan kekasih ku. Bukan, Doo Kyung Soo belum menjadi mantan ku, dia masih kekasih ku.. hanya kekasih ku yang hilang. Dan kini aku menemukkannya sedang sekarat di balik pintu ini…  –calon suami ku, mempersilahkan ku untuk mencari cinta lama ku… aah, ini gila. Mengapa aku mengabaikan perasaan Park saat ini..-

Tok…tok..tok..

“Nuguse-yo..??”  ada respon. Suara dari dalam kamar pun terdengar. Tapi, jari2 ku hanya menggenggam lemas knop pintu. Entah apa yang aku rasakan saat ini.

“kau ikut masuk Park?” tanyaku yang lebih terdengar seperti berguman.

“aaiisshh..aku lupa, aku ada janji dengan oemma. Mianhae Luna aku tidak bisa lebih lama menemani mu.” katanya yang entah hanya alibi atau memang benar adanya. Jika hal itu benar alibi, alibinya membuat atmosfir di sekitar wajah ku menyerupai serpihan kaca, perih dan tentu tak enak rasanya.

“aaah, ne.” Jawabku singkat.

“kalau begitu. Anneyeong ..” katanya sambil tersenyum lebar. “hem.. changkeman, cobalah seperti ini ketika kau melangkah ke dalam.” Dia memegang pipiku lalu menarik ke-dua sudut bibir ku agar lebih terlihat aku sedang tersenyum.

“begini.. lebih baik. Hem, kharagalkae… “

“ne, anneoyong…” lalu Park pun menghilang menyelusuri lorong rumah sakit sendiri.

Kreeaak…

Aku membuka pintu, walau masih belum terlalu siap menerima kenyataan bahwa Kyung Soo-ku sedang sekarat, aku tetap memberanikan diri untuk menatapnya hari ini.

“lama sekali rasanya… nae, phapa..” kata seseorang yang mulai asing di mataku. Dia duduk dan bersandar di tumpukan bantal. Kakinya setengah terselimuti, dan tangannya memegang sebuah buku. Sepertinya dia sedang membaca, kebiasaanya tidak berubah.

“aaah, ne Kyung Soo.. “ sambil melangkahkan kaki lebih dekat dengan-nya. Mata bulatnya menatap ku tak berkedip, bibirnya menggurat tersenyum, dan air wajahnya terlihat senang walau sudah memucat. Bukan hanya memucat, kepalanya pun sudah terbaluti ciput biru tentu karena rambut di kepalanya….

“eh, aneyonghase-yo, Doo Kyung Soo..” kata ku sedikit berbisik. Aku memang sedang menahan air mata.

“aaah, Park Sun Yeong wae-yo? Wajah mu tidak sedikit pun bertambah cantik.. haaiisshh, korea sudah maju dengan teknologinya mengapa kau tidak mengoprasi sedikit pun dari wajah mu­_”

“mwo-ya…!!” gerutu ku kecil. –apa2 an dia, pertama bertemu setelah 4 tahun berpisah, mengapa dia berbicara seperti itu..-

“coba kau kecilkan kembali pipi tembem mu ini..” dan sekarang dia mengomentari satu persatu dari wajah ku. dia mencubit ringan pipi sebelah kanan ku. aku membiarkannya karena tak sakit sedikit pun. Mata ku tetap tertuju pada wajahnya dan mengencamkan dalam2 bahwa aku sebentar lagi akan kehilangannya untuk selamanya.

“Kyung Soo-aah..” panggil ku dengan menahan air mata. Aku memegang tanganya yang masih mencubit pipiku dengan kedua tanganku, menggenggamnya erat dan menenggelamkan wajah ku dalam telapaknya sambil….. terus terisak, menangis.  Tak tertahan kembali, air mata ku terus membasahi telapaknya yang terus aku tenggelamkan wajah ku ke dalamnya. Aku berusaha mencari aroma Kyung Soo-ku ini. aroma yang sudah 4 tahun ini aku tidak menciumnya. Dan… hari ini aku ditakdirkan untuk menghirupnya kembali walau hanya secerca waktu.

Doo Kyung Soo membiarkan keadaan seperti ini bergulir untuk beberapa menit. Entah keadaan hatinya yang merapuh atau memang dia merindukan sentuhan ku walau dengan air mata.

Dia tak sekalipun bergerak, nafasnya pun samar-samar terasa. Sampai pada akhirnya…

“Luna, hajima chebal… “ dia menarik tangannya pelan. Walau pelan aku biarkan pemiliknya mengambilnya, tetapi air mataku tetap menggenangi wajah mungil yang sudah memerah ini. aku menunduk tidak menunjukan wajah sedihku, sesekali terseguk karena menahan tangisan ku. dan Doo Kyung Soo, entah apa yang dia lakukan. Melihati-ku, berusaha menguasai diri, atau entahlah.. aku lupa terakhir kali dia menyikapi aku yang sedang menangis.

“selama 4 tahun aku mengidap penyakit ini, penyakit yang sebentar lagi merengut nyawaku. Tetapi selama 4 tahun ini aku tidak merasakan sakit dari penyakit ku. mengapa rasanya menjadi perih dan sakit ketika melihat air mata mu jatuh di hadapan ku, terlebih lagi kau menangis di karena aku. … “

Nadanya lembut ketika kata2 itu terlontar, spontan aku mengakat kepalaku dan menatapnya.

“a…aa..aaku menyiksa mu?”

“tentu saja, tangisan mu kali ini sangat menyiksa ku…”

**** 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s