Hello Goodbye (Part 3)

cover II hello goodbye

Part 3

28/07/2005

Apa-apaan ini? mengapa orang tua ku sama sekali tidak ingat dengan hari ulang tahun ku. tega sekali padahal eomma yang melahirkan ku, tetapi mengapa dia lupa. Tidak ada sup rumput laut, tidak ada ucapan “selamat ulang tahun”, tidak ada yang special tadi pagi. Berjalan sama seperti biasa, appa bungkam eomma berceramah.. haiiish, menyebalkan sekali.

Aku bersinggah di sekitar taman sekolah. Di bawah pohon yang rindang, siang ini aku menggerutu tak karuang. Bagaimana aku tidak, kedua orang tua ku melupakan hari ulang tahun ku. entah… mungkin terlalu banyak yang mereka harus pikirkan, sampai-sampai aku terlupakan.

Aku melambai-lambaikan kaki ku pelan mengusir bosan sendiri, duduk sendiri di atas kursi kayu panjang taman sekolah. Memang hanya sendiri Suli tak aku ajak bersama ku, karena aku tak suka membagi kesedihan pada orang lain. Cukup aku saja, cukup wajah cemberut ini aku tampakkan pada matahari siang ini. tidak untuk yang lain, yah.. bukan masalah yang terlalu genting.

“huuuuuft..” aku menghela nafas panjang sambil melihat ke sekitar. Keadaan di taman sekolah ini tidak cukup ramai, tidak banyak siswa yang bersinggah di sini. Entah mengapa, padahal taman ini cukup menarik untuk sekedar duduk dan bersinggah di dalamnya.

“bagaimana kalau aku menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk ku sendiri…” aku mulai menemukan cara untuk menghibur diri. “aku rasa itu ide yang bagus.. ok” aku mengambil kotak bersegi empat  tipis yang berisi cermin kecil. Aku menatap bayangan wajah ku di dalamnya, sedikit kusut wajah ku tetapi tak apa walau seperti ini Luna masih terlihat yeoppo.

“ya!! Park Sun Yeong jangan khawatir aku akan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk mu..!!” kata ku sendiri kepada bayangan ku yang terpantul dari cermin bening di hadapan ku ini. “ok, hana deul set… saenggil chuka hamnida…” aku pun bernyanyi sendiri, menghibur diri dan meringankan beban kecewa dalam hati.

“kau sebut hal itu bernyanyi..” kata-kata yang tiba-tiba terdengar itu membuat aku berhenti melantun bernyanyi.

“mwo??” aku pun mencari dari mana sumber suara yang mengganggu kesenangan ku. “oh, Doo Kyung Soo-ssii..” dan aku pun segera menemukannya. Dia berdiri tepat di belakang ku. entah sejak kapan dia berdiri di sana, tetapi yang jelas cukup  lama karena dia sudah mengeritik aku bernyanyi.

“ddo! Haiisshh.. kau sebut hal tadi sebagai bernyanyi? Bagaimana bisa?” dia memperjelas ejekannya.

“Gheude! Aku sebut hal ini bernyanyi. Wae? Kau tak suka? Pergi sana.. !!” gerutku kesal.

Aku dan Kyung Soo kini berteman. Tetapi tetap saja walau berteman sifat arogannya yang aku ketahui sejak awal tidak hilang. Dia lebih sering mengejekku dari pada memujiku. Sudah beberapa kali aku berteriak di depan mukanya dan menghardiknya kesal, tetapi setelah itu dia akan datang kembali dan menemani ku lagi. Seperti tidak mempunyai hati saja, dia mengaggap hal tersebut sangat biasa.

Mungkin dia nyaman berteman dengan aku, tetapi mengapa caranya untuk berteman sangat menyebalkan. Membuat darahku selalu mendidih saja.

“ya..!! Luna, wae-yo??” sambil bersinggah tepat di sebelah ku. dia duduk membelakangi matahari siang hari, dan tentunya berlawanan arah dengan ku. kami bersebelahan tetapi menghadap arah yang beda. Dia selalu seperti itu jika sedang bersama ku, mungkin seperti ini caranya untuk berada di samping ku.

“hari ini sangat menyebalkan. Appa dan eomma melupakan hari ulang tahun ku. hari ini… tidak ada sup rumput laut, bahkan sekedar mengucapkan ‘saengghil Chukaeyo.. uri Luna’ pun tidak.. mereka benar-benar melupakannya.. “ aku menceritakan apa yang mengganjal di hatiku. Dia datang untuk meringankan beban ku, benar.. dia adalah temanku tentu dia datang untuk meringankan beban di hati ini. –gomawo.. Kyung Soo, kau tidak seburuk yang kupikirkan..-

“ah, Ani.. maksudku. Mengapa dengan suara mu itu? begitu tidak enak didengar. Biasanya disebut ‘fales’ oleh beberapa ahli_”

PLAK..

“HAAIISSHH.. APA-YO!”

Sebelum dia melanjutkan keritikannya aku memukulnya terlebih dulu.

“ya, pergilah! KKA! Hiish.. kau memang seburuk yang aku fikirkan..” aku-pun menarik kembali kata-kata tadi. Dia memang seburuk yang ku fikirkan, mungkin lebih… haaiissh, kedatangannya membuat keadaan hatiku tambah memburuk saja. Sungguh dia tidak berperasaan.

“ah, wae-yo? Mengapa kau memukulku. Aku mengatakan sesungguhnya, suara mu tidak cukup bagus. Tetapi, mungkin bisa jika dilatih kembali..” dia meneruskan bualannya. -Terbuat dari apa otak mu Kyong Soo-YA!?-

“ah gheudhe.. sepertinya kau sangat mengetahui  tentang caranya bernyanyi.. wow mengaggumkan. Bahkan aku tidak sama sekali tertarik..” kataku tak bersemangat. Bagaimana bisa bersemangat setelah apa yang apa dia lakukan kepada ku.

“jika kau mau. Pulang lah bersamaku hari ini, aku akan mengajari mu bagaimana menyanyi yang benar..” diiringi dengan lirikan bersahabat dan senyum simpulnya menambah kesan aku si jago bernyanyi. Sungguh tidak membuatku kagum sama sekali.

“haruskah..? mian, aku tidak tertarik..” sambil berdiri berniat untuk meninggalkannya.

“Kau harus mau..” katanya singkat.

“ya..! jangan memaksakan kehendak, kau ini selalu…!!”

“Gheudhe.. sampai nanti sepulang sekolah..” dia membelakangiku dan melambaikan tangan dari arah berlawanan, sambil berlenggang dia pergi meninggalkan taman ini.

“aku tidak akan dataaang!!!!” teriakku dari kejauhan.

“Jangan terlalu sengan seperti itu, aku tahu kau berantusias tentang hal ini…”

Aku pun menyerah. Dia begitu menyebalkan, dan aku tak tahan lagi untuk melawannya.

****

Akhirnya pun aku mengalah. Aku menuruti kemauan Kyung Soo untuk menemuinya sepulang sekolah. Ternyata tidak terlalu buruk, dia mengjakku ke toko musik dan menurutku cukup menyenangkan. Walau sesampai di toko kami berpisah karena menemukan hal yang kami sukai masing-masing. Dia tertarik dengan alat musik, dan aku tertarik dengan kaset-kaset yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi populer tahun ini, tetapi ini tetap menyenangkan.

Di toko musik mungil ini cukup banyak menampung kaset-kaset musik terpopuler beberapa tahun ini. banyak sekali, berderet di lemari kayu coklat dan tidak satu pun yang berdebu. Di dalamnya pun di putarkan lagu-lagu populer saat ini, menambah kenyamanan saja bagi para pengunjung.

Namun, beberapa saat kemudian lantunan lagu itu terhenti padahal lagu yang sedang dimainkan belum sampai untuk berakhir. Suasana di toko musik ini pun terlahap oleh sunyi, tetapi tidak lama. Tiba-tiba petikan gitar terdengar indah dari satu sisi toko tersebut. Setiap detik bertambah dan setiap detik itu pun petikan gitar itu menjadi sangat indah. Aku mencari sumber dari suara petikan gitar itu, tidak perlu sulit untuk menemukannya. Suara petikan gitar itu hanya beberapa langkah dari tempat aku berdiri, hanya tertutupi lemari-lemari kayu yang menampung jajaran kaset di dalamnya.

Berdiri membelakangi lemari kaset tersebut, aku menemukan sumber petikan gitar itu. ternyata, Doo Kyung Soo pelakunya. Dia yang membuat suara indah itu keluar dari senar-senar gitar berwarna coklat tua itu. Doo Kyung Soo duduk di kursi bundar tanpa lengan, dia duduk dan memainkan gitar itu bak seorang artis ternama yang sedang menunjukan kebolehannya. Walau tidak banyak yang menontonnya tetapi tetap saja terlihat seperti seniaman musik yang hebat. Dia itu memang..

“happy birth day to you.. Happy “

“eo..??!!” aku terperanjat kaget. Dia.. dia mengapa menyanyikan lagu itu? ‘selamat ulang tahun’? untuk.. untuk siapa? Untuk ku? bagaimana bisa? Wooh, dia … memang tidak seburuk yang aku kira.

“Happy birth day to Luna aggasii…” dia pun mengakhiri lagu singkatnya. Aku tersentuh, tak terasa guratan senyum dari bibirku pun nampak. Mata ku menatapnya senang berusaha menyampaikan kata ‘gomawo’ walau tak terucap.

“ya! Luna-ssi, kau lihat begini lah yang disebut dengan bernyanyi. tidak seperti yang kau lakukan tadi siang…”

“YYA!!”

Dia masih membahasnya kembali. Rupanya moment aku tertangkap basa sedang bernyanyi menjadi moment yang pas untuk dia keritik. Sampai kapan dia akan membahas hal itu.

“Luna, kau sudah menemukan kaset yang kau suka??” tanyanya sambil terus mengotak-atik gitarnya.

“aah, ne..” aku pun menghampirinya.

“berikan pada ku..” dia mengambil langsung dari tangan ku tanpa aku mengiyakan permintaanya. Aku memakluminya karena dia memang selalu seperti itu.

“yya! Apa yang kau_”

“aku akan membayarnya terlebih dahulu. Setelah itu kaset ini menjadi milik mu..” katanya memotong omelanku.

“mo..mwo-ya??”

“anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahun mu. lagi pula aku pun membeli gitar ini, jadi tidak perlu tersentuh dengan apa yang aku perbuat barusan.. “ katanya sedetik sebelum dia berjalan ke arah kasir dan tentu meninggalkan ku.

Doo Kyung Soo, seperti yang aku kenal sejauh ini. dia memang selalu bertindak seperti itu, selain arogan dan keras kepala, bersikap kaku.

“Kyung Soo palli kajja, kita pulang!!..” seruku gembira.

“ya, Luna.. kau tidak mau berterimakasih pada ku??”

“untuk apa? Kau sendiri kan yang bilang agar aku tidak usah tersentuh dengan apa yang kau perbuat tadi, kau hanya mencoba gitar yang hendak kau beli bukan??”

“ta..tapi setidaknya. Aiigoo.. kau ini!”

Aku pun pulang dengan rasa senang. Bagaimana tidak? Doo Kyung Soo yang sebegitu  menyebalkan mampu melakukan hal yang membuat aku tersentuh. Walau dia melarang aku untuk tersentuh tetapi apa boleh buat, petikan gitar dan lantunan lagu ‘Happy B’Day’ tadi menggetarkan hati ku. –gomawo kyung soo.. ternyata aku memang dianggap sebagai temannya. –

*flashback end*

****

Aku mencoba mengenedalikan diriku sendiri, tidak mungkin jika seharian aku menjenguk kyungsoo dengan berlinangan air mata. Cukup sampai dia mengatakan bahwa hal itu menyakitkan bahkan lebih sakit dari penyakitnya. Cukup, aku tidak ingin lebih menyiksanya lagi. Aku tahu yang dia hadapi bukan hanya penyakitnya saja, yang dia hadapi adalah air mata keluarganya, temannya dan air mata ku. Sungguh berat yang dia hadapi, aku .. tidak boleh mempersulit keadaan ini.

“mianhae.. aku tidak mampu mengendalikan rasa sedihku ini..” kataku dengan penuh penyesalan.

“tak apa. Aku tahu bagaimana perasaan mu..” terhenti. Dia menghela nafasnya panjang dan sepertinya akan melanjutkan kata-katanya kembali. “Aku tahu. Aku tahu bagaimana reaksi mu jika mendengar bahwa aku sedang sekarat. Sebenarnya, aku tidak ingin kau mengetahui bagaimana kondisi ku saat ini..”

“mwo-ya? Kau ingin meninggalkan ku selamanya tanpa alasan?? Namja macam apa kau ini??” dia tetap saja menyebalkan, tidak berubah. Selama 4 tahun aku tak bersamanya, aku mengkhawatirkan dia berubah, dan ternyata dia tidak sama sekali berubah. Terutama sikap ‘berlaku seenaknya’. Baru saja aku menyadarinya.

“ciih, benar.. aku akan menjadi namja pengecut jika meninggalkan mu selamanya dan tanpa alasan. Hanya menjadi seorang pencundang dihadapan mu bukan hal yang berat dibandingkan melihat mu terus menangisi keadaan ku… ” dia mengatakannya sambil tersenyum manis ke arah ku.

Bola mataku tak henti-hentinya memandangi semua lekuk wajahnya yang memucat. Mengambil sebanyak-banyaknya figure seorang kyungsoo untuk aku simpan sendiri, dan kelak pasti aku akan mengenangnya sendiri.

“lalu, mengapa kau tidak melakukannya??..”

“aku hanya takut menyesal, aku takut menyesal tidak mengisi akhir waktu ku dengan senyumu. Jadi tersenyumlah Luna.. Jebal..”

Apa yang si bodoh ini katakan. Dia takut tidak melihat senyum ku, mengapa ..mengapa dia tidak takut kehilangan nyawanya. Kenapa dia tidak takut aku meninggalkannya dan mengubur kenangan bersamanya setelah dia mati. Mengapa .. mengapa dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Si babbo itu hanya takut tidak melihat aku tersenyum pada akhir waktunya. –babbo-ya!!-

“ba..bagaimana bisa, bagaimana bisa aku tersenyum di saat mengisi akhir waktu mu??”

“…..” hening. kyungsoo tak menjawab, dia bungkam tanpa kata yang terlontar.

“yya!! Di mana otak mu, bagaimana aku bisa tersenyum sedangkan kau… kau akan meninggalkan ku selamanya??!!” nada bicara ku mulai aku naikan sedikit  memberi kesan marah. Memang aku marah adanya, aku marah mengapa aku harus kehilangan Kyungsoo.

Kyungsoo masih bungkam. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan dia mematung menyerupai  lilin. Membeku dan tidak bergerak, berkedip saja tidak. Pandangannya kosong menerawang ke arah wajah ku. seperti sedang mencoba untuk menjawab atau mencoba untuk menutupi jawaban yang ada.

“yya! Jawablah.. berikan aku alasan..” aku beranjak dari duduk ku dan menempatkan badan ku tepat di hadapanya.  Jarak kami lebih dekat, dan mata kyungsoo terlihat jelas. Kosong adanya..

“lakukan saja Luna, jebal…” katanya sambil memalingkan wajahnya dari hadapan ku. tentu jawaban itu bukan yang aku inginkan. Dia tetap tidak mengatakan alasan mengapa aku harus tersenyum di penghujung kehidupannya.

“ani-yo, ani.. aku tidak mampu melakukanya. Kau tahu di sini rasanya sangat pedih..” aku menekan dadaku dengan kedua tangan ku.

“ara.. tapi aku mohon lakukan saja..”

“haiiiissh.. wae-yo??!!  Kau tidak tahu betapa sakitnya aku melihat dirimu saat ini. selangkah demi selangkah aku berjalan kemari seperti berjalan di atas bara api, aku menderita walau kau belum pergi__”

“lakukan saja, karena ini permintaanku untuk mu yang terakhir!!”

“……” mendengar alasannya membuat nafasku tersentak berhenti untuk bebebrapa detik. Dia meminta permintaan terakhirnya,dan kini terasa lebih nyata bahwa  waktu memang sedang mencekik leher kami berdua.

“Luna aku mohon mengertilah…”

“haaiiiisshh, apa yang kau katakan!! Tidak perlu kau memintanya, aku akan membuat hari-hari ini menjadi sangat menyenangkan…” kata ku dengan penuh semangat. Tentu dengan alasan aku tidak ingin kelak aku akan menyesal karena membuat kyungsoo lebih sakit.

Tak menyadari apa yang aku perbuat. Aku menarik tubuhnya sampai kedalam pelukan ku. aku memeluknya erat dan tidak memberi celah di antara tubuh kita. Aku melingkarkan tangan ku di bahunya erat memberi isyarat bahwa aku memang tidak ingin ditinggalnya. Aku mempejamkan mata ku dalam, menahan air dan melupakan sisi lain dari kehidupan ku sekarang…

Yaitu… calon Nyonya Park yang terhormat.

Tiba-tba phone ku berdering. Waktu yang tidak tepat, bagaimana bisa di sela-sela aku memeluk  kekasih ku, phone ku.. haiish.. mengganggu saja.

“lepaskan.. cepat angkat phone mu itu, berisik..”

“arasoo..” jawab ku malas. Lalu segera aku raih phone ku dari tas yang aku letakkan tak jauh dari tempat pertama aku duduk di ruangan ini. aku melihat siapa yang memanggil ku saat ini dan ternyata Park Chan Yeol… Park di sisi lain membutuhkan ku.

“kyungsoo.. changkeman..” kata ku sedetik sebelum berlalu menjauhi kyungsoo. “ne, yeoboseyo Park??”

“mari kita pulang, aku sudah menjemputmu. Aku tunggu kau di depan rumah sakit.. jangan membuat aku menunggu. Arrachi?”

****

Iklan

2 respons untuk ‘Hello Goodbye (Part 3)

  1. derphyuk berkata:

    Gundis. Mesti lagi enak-enak baca tiba-tiba putus ngehuehuehue
    Udah bagus ini, tapi kata-katanya lebih dipilih yang menarik lagi. Sama nulisnya agak rapi lagi ~~~ ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s