Bagai Laut

Image

sebelum kata: hei semua, sorry baru nge-post lagi. habis sibuk tau. tapi maaf nih ya cerita FF yang sebelumnya nggak aku terusin soalnya leptop ku yang dulu hilang. file cerita itu pun hilang entah kemana, aku malas kalau harus mengingat-ingat ceritanya kembali *lebih tepanya masih sakit hati* oh, tentang tulisan ini aku terinspirasi dari gambar buatan kakak kelas aku. dia ngasih cerita dari gambar ini, itu keren banget menurut aku. jadi aku buat aja sepeggalan dulu dari ceritanya. kalau aku nyaman aku lanjut, makasih banyak buat isnpirasi ceritanya buat Kak Kamal si bassdrum siji 😀

-Hei, mengapa hanya diam saja. Ayo tunjukan rasa mu…-

sampai kapan kau akan melihatnya dari kejauhan??-

-kau diam saja ketika ada seseorang yang mendekatinya…-

-seolah-olah tak ada apa-apa, namun di alam bawah sadar mu kau menangis perih…-

-dan pada akhir kata kau akan menyadarinya bahwa kau pengecut…-

Seperti yang dikatakan oleh hati kecil ku, aku memuja seorang lelaki yang menyerupai pangeran. aku menyukainya dari kejauhan. Bukan hanya jarak ketika aku berbicara tentang ‘jauhnya aku dengan dia’. Bukan jarak namun.. entah apa itu namanya tapi aku merasa sangat jauh, hingga aku merasa tak mampu berjalan di sampingnya.  Aku hanya mampu berjalan di belakangnya menjejakkan langkah kaki ku pada bekas jejak kakinya. Walau seperti itu, aku merasa sudah berada di dekatnya. Merasa sudah berada di dekatnya….

Mengapa aku menyukainya?? Dan mengapa aku begitu memujanya?? ….

“Entah”  kata pertama yang memang tersirat ketika pertanyaan tersebut muncul. Entah mengapa aku tiba-tiba saja memujanya, tiba-tiba saja menyukai guratan senyumnya, tiba-tiba saja tersekat kerongkongan ku ketika menemukannya di sekitar ku.. dan tiba-tiba saja aku menjadi si pemuja malam dengan berjuta kerinduan akannya.

Pertama aku menemukannya, pada hari itu hati ku sedang kacau. Duduk dan berpandangan kosong  menatap buku berderet kalimat ilmiah di perpustakaan. Cahaya matahari yang masuk menembus kaca jendela yang jernih pun tak lagi mengusik ku. Rasa hangatnya kini tak terasa, aku memang sedang kacau detik itu.

Namun, setelah entah berapa jam aku duduk di sana dirinya datang, duduk di hadapan ku dan mengusik lamunan ku. Dia menyadari  kedatangannya mengganggu. Seketika dia tersenyum ramah tanda maaf pada ku. Aku melihatnya dengan jelas, guratan senyum itu tertuju untuk ku, hangatnya senyuman itu seakan mengalahkan sinar matahari yang menyoroti ku. Hangatnya sangat terasa di dadaku. Mata yang menyipit ketika tersenyum tak menghalangi aku untuk melihat langit luas di dalamnya. Langit luas, luaas sekali, sampai-sampai selalu ingin untuk melihat matanya lagi lebih dalam.

“Boleh aku duduk di sini??” katanya menanyakan keberadaannya.

“ten..tentu saja..” lalu aku bersuara untuk menanggapinya.

Tanpa mengurangi kesan ramahnya dia berkata kembali “terimakasih..”

Setelah kejadian itu, aku selalu memikirkannya. Memikirkan dari mana dia mendapatkan senyuman senyaman itu?? Mengapa dia mampu membuat aku memikirkannya terus-menerus?? Dan.. mengapa dia selalu duduk di tempat pertama kali kita bertemu??

Aku terus saja memerhatikannya sampai detik ini. Aku memahami sesuatu akannya. Entah keajaaiban apa yang dia punya dia mampu membuat aku nyaman hanya dengan aku melihatnya walau dari kejauhan. Dia seperti laut yang luas dan dalam, begitu tenang namun bergelombang, begitu dalam dan luas namun tak menakutkan. Aku dengan sederhanya ingin sekali menjadi ikan kecil di dalamnya. Terombang-abing dalam ritme gelombangnya namun nyaman dirasakannya.

Melihat dari jauh, dan merasakan seakan dekat.

-pangeran laut yang luas, mungkin sekarang aku sedang tenggelam di dalamnya. Keinginan ku untuk termuntahkan dari gelombang mu  walau sedetik, jelas aku tidak mau. Biarkan aku bak ikan kecil berenang di dalam mu, bak kapal pesiar terombang ambing oleh mu. Biar kan saja semua itu terjadi, aku menikmatnya karena aku merasa nyaman.-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s