Bagai Laut (part 2)

Image

Sebelum Kata: ok, ini part 2 dari Pangeran Lautnya kak Kamal. sesuai dengan permintaan dari si pemberi inspirasi aku lanjutkan sampai sini dahulu. part 3nya di tunggu ya. aku semngat nulis nih kalau memang sedang ada yang menanti-nantikan dari tulisan aku.. ya sudah selamat membaca aja 😀

-Hari ini aku datang dengan rindu membelengu.. –

-Sudah beberapa malam aku lewati dengan menimbun rinduku padanya.-

-Entah dirinya di mana, aku tidak mampu menemukan penawar akan rasa rindu ini…-

-pangeran laut, percikan air dari gelombang air mu kini telah lama tak ku jumpai. Sosok mu yang tenan dan gagah pun tak aku temui kembali beberapa hari ini…aku hanya bertanya lantang. Kemana laut yang bergelombang namun nyaman itu??-

Mataku terus saja menerawang ke setiap sudut perpustakaan. Celah dari setiap deretan lemari buku pun sedetik sekali aku terawang hanya untuk mencari keberadaannya, dan sedetik sekali  aku kecewa karena tak kunjung menemukannya. Aku duduk di tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Berharap dia datang menemui aku di tempat ini lagi, berharap dia tersenyum ramah kepada ku lagi dan berharap aku bersuara untuknya lagi…

Sebenarnya aku duduk di sini tak hanya untuk menunggu akan ujudnya menghampiri ku. Aku duduk di sini tepat di depan kursi yang sering di dudukinya hanya untuk mengais bayang-bayangnya di kursi ini. Untuk saat ini mengais-ais bayangnya saja yang aku mampu lakukan. Hanya itu, tidak lebih. Seperti orang gila namun menikmatinya, seperti orang berpenyakit namun nyaman karenanya. Aku benar-benar sudah tak sadarkan diri lagi, seperti terhanyut dalam ritme gelombang air lautnya.

-kau….begitu dalam dan luas, begitu bergelombang dan curam, dan begitu nyaman dan menghanyutkan….-

Mungkin karena rasa bosanku akan menunggu keberadaanya yang tak kunjung datang, aku pun perlahan terlelap di atas tempat duduk ku. Melipat tangan kanan ku untuk menjadi tumpuan kepala ku dan tangan kiriku masih saja memegangi buku yang sejak tadi menjadi teman bisu di tempat ini. Kau terlelap. Terlelap dengan terus membawa beban rindu yang bersarang di kalbu.

…………………………..

“diberitahukan bagi seluruh pengunjung perpustakaan  bahwa perpustakaan akan di tutup 10 menit lagi. Terimakasih..”

“hem…” aku terusik dengan pengumuman itu.

Aku terbangun. Mata ku mencoba untuk menerawang ke sekeliling perpustakaan. Ternyata hari sudah delap, dan pengujung pepustakaan pun sudah mulai berpergian satu demi satu. Aku baru menyadari aku sudah terlalu lama menunggu di sini. Duduk menanti sang pangeran dan akhirnya tak berujung jua.

Seperti pengunjung yang lain aku pun segera beranjak dari tempat duduk ku. Mengambil buku yang sejak tadi menemani ku dan….

Aku menyadari sesuatu. Ada seseorang tertidur pulas di hadapan ku, tertidur pulas di tempat duduk yang menghadap ku. Tanpa pikir panjang segera aku membangunkannya, mengingat perpustakaan akan ditutup.

“per…..” terhenti.

Tangan ku yang berniat untuk menggoncang-goncangkan lengannya kini membeku seketika, suara ku yang berniat untuk memanggilnya halus kini membisu, dan mata ku … seakan tak percaya melihat keadaan ini.

Pangeran laut yang ku nanti sejak siang tadi sekarang ada di hadapan ku. Dia tertidur pulas di depan ku. Di tempat ini lagi, untuk kedua kali kita bertemu. Rindu ku tiba-tiba meledak, melebur menjadi debu dan menghilang terenyahkan oleh angin. Rasa beban di dada kini melenyap hilang entah kemana. Penawar rinduku kini sudah di depan mata ku. Tertidur lelap, tanpa bergerak.

Beberapa detik tanpa terasa sudah berlalu, aku  masih sibuk dengan diam ku. Dirinya selalu membuat ku terdiam untuk mengagumi. Entah apa yang aku kagumi tentangnya, bahkan aku tak pernah jelas untuk melihat dari lekukan wajahnya. Namun kini, mungkin tuhan memberiku hadiah. Aku mampu dengan jelas melihat setiap inci, dari wajahnya secara jelas tanpa durasi waktu yang mendesak.

-ini lah penghujung rindu ku… –

“Aditya!! Aditya! Bangun, aku mencarimu sejak tadi dan ternyata kau tidur di sini…” seseorang menghampirinya. Menggoncang-goncangkan badannya, dan berteriak padanya. Seseorang perempuan berperawakan tinggi semampai, berparas cantik nan menarik dan berambut panjang lurus berwarna coklat.

“iya, mengapa?” pangeran laut itu pun akhirnya terbangun. Terbangun dengan senyumnya. Dia tersenyum pada perempuan cantik yang membangunkannya tadi. Senyuman nyaman itu aku melihatnya kembali namun kali ini terasa beda karena kali ini senyuman itu bukan untuk ku.

Aku menyadari hal yang seharusnya aku sadari sebelum aku berani mengaguminya, bahwa aku hanya melihatnya dari kejauhan. Hanya dari kejauhan, dan makna jauhnya pun.. bukan hanya jarak saja….

Aku lekas beranjak pergi dari kursi ku. Berbalik badan dan menjauh dari mereka. Berjalan keluar dari perpustakaan tanpa skali pun menoleh kembali kebelakang. Langkah ku semakin cepat, secepat mungkin untuk menjauh dari fenomena yang baru saja aku lihat.

Entah kemana langkah kaki ku menuntun diri ku ini, yang jelas aku rasakan kini hanya sesak. Terasa kerongkongan ku tersekat sesuatu dan menghalangi aku untuk bernafas. Yang aku pikirkan hanya menjauh, menjauh, menjauh dari kenyataan yang ada. Menjauh sejauh mungkin.

-aku… tertampar oleh kenyataan, tertusuk oleh keadaan, dan tersungkur luka … pangeran laut yang aku  rindu setiap malam ternyata sudah berujung jua pada hati seorang wanita. Bukan salahnya bukan dan bukan salah nya pula. Entah, tiada yang bersalah namun ada yang tersakiti luka….- 

-rasanya berbeda.. pangeran laut yang mempunyai percikan kenyamanan kini terasa hanya luka. Perih dan sakit seperti menginjak karang tajam tanpa alas… aku seekor ikan kecil mulai ingin berhenti berenang di dalamnya, aku sebuah kapal persiar mulai ingin berhenti berlayar di atas nya…-

Aku pun mulai menyadari air mata ku mengalir dan langkah ku terhenti di tengah gerimis malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s