Bagai Laut (Part 3 #ending)

laut

  Aku sudah mendapatkan diriku yang baru sejak dulu-
–          Entah kekuatan apa yang aku punya sampai mampu termuntahkan dari alunan gelombang lautnya…-
–          Aku biarkan tubuhku terhantam karang kokoh di tepi lautan, walau terbentur sakit tapi aku berhasil menghindar dari pujaan ku akan alunan gelombang tenangnya..-
–          Kini aku menjadi lupa akan segalanya. Aku tutup lembaran biru terhampar luas di dalam kehidupan ku..-
–          Awalnya sulit, namun aku mampu…-
–          Aku, kini, berdiri tegap dalam hampa, namun aku yang memilihnya..-
–          Pangeran laut… aku sudah tidak mengingat mu kembali..-
Aku senang, hari ini genap satu minggu aku berkerja sebagai editor buku.  Walau kuliah ku masih berlanjut karena masih dalam semester  5 namun aku mampu menyalurkan hobby membaca dan menulis ku menjadi uang.
Hari ini aku mendapatkan client  baru, dengan adanya client baru ini buku yang aku edit pada saat ini genap 3 buku. Memang aku amatir, namun aku mampu menunjukan kelebihan aku dalam hal ini.
Tok…tok..tok..
“tunggu sebentar..” kata ku sambil berlari kearah pintu utama rumah ku.  Tanpa ragu aku pegang knop pintunya, lalu memutarnya pelan sehingga pintu kayu coklat itu terbuka.
“selamat siang..”
“iya selamat siang….”
Entah apa yang sedang terjadi hari ini. Aku melihatnya kembali.
Dia….. kini … berada di hadapan ku…
Lautan itu, yang sudah ku tinggalkan dulu kini menebar ombaknya kemabali di hadapan ku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.  Mengapa Pangeran laut itu… datang kembali dengan senyumannya yang membuat aku  mampu hidup tanpa menghela nafas di bumi ini?
“Anda Soraya bukan??”  tanyanya tanpa mengurangi senyum ramahnya pada ku.
Aku semakin bingung akan keadaan ini. keadaan yang dimana si pangeran laut datang ke rumah ku, tersenyum kepada ku dan mengetahui nama ku. Dulu, sedetik pun aku tak pernah memimpikan akan keadaan ini.
“maaf, anda Soraya dari fakultas Sastra Indonesia bukan??” tanyanya kembali ketika mendapati aku tidak memberikan respon akan pertanyaannya. Bukan karena ingin ku seperti itu, namun alam bawah sadar ku kini sedang dirasuki kembali oleh bisikan-bisikan kekaguman akannya kembali.
“ah, iya. Saya Soraya dari Fakultas Sastra Indonesia. Anda??”
“iya, saya Client anda. saya yang menghubungi anda dari tiga hari yang lalu. saya Aditya Wicaksono..”
“aaah, Aditya. iya aku mengingatnya. jadi… bagaimana sekarang??”
– bagaimana sekarang?? bagaimana?? aku sekarang sedang berbicara dengannya, aku sekarang sedang bercengkramah dengannya, dan mulai  dari sekarang akan terus berhubungan dengannya tanpa harus menunggu di kursi perpus itu lagi..-
“bagaimana apanya?? maksud mu, file buku yang anda akan edit?? ini.. saya sudah menaruhnya di Flashdisk ini, perbabnya sudah saya pisahkan agar anda mengeditnya tidak terlalu sulit.” jelasnya panjang pada ku. aku hanya menerima Flashdisk yang sejak tadi dia sodorkan pada ku.
“baiklah, saya coba edit terlebih dahulu. nanti hasil per babnya akan saya kirim lewat email, dengan seperti itu anda bisa komentari editan saya..” “tidak. jangan seperti itu. anda boleh mengedit semuanya, tanpa harus menunggu comen dari saya. saya akan mengambil kembali kerumah anda jika memang sudah beres. bagaimana??”
“tidakkah merepotkan anda dengan seperti itu??”
“tidak, santai saja … ” senyum ramahnya kembali menggurat di bibirnya dan aku pun tak tersadari telah memujanya kembali.
………………………………….
aku menyesal telah menerima tulisan dari pangeran laut itu. sangat menyesal. isi dari kata perkata seperti menusuk-nusuk dada ku.
tulisannya bercertakan tentang wanita yang dia kagumi, dia begitu memujanya tanpa memakai akal sehatnya. sama seperti halnya diriku. namun yang membuat oksigen berhenti di kerongkongan ku adalah wanita itu bukan diriku.
aku merasakannya lagi, rasa sakit ini yang dulu pernah aku rasakan kini membaluti tubuh ku lagi.
“mengapa tuhan? apa maksudmu untuk mempertemukan aku kembali dengannya?” lirih kesal ku sembari terus memandangi layar dari komputer ku.
“ini harus diakhiri..” tanpa pikir panjang aku segera mengambil phone ku dan menghubungi pangeran laut yang bernama Aditya itu.
pikir ku, aku tidak mau terus tersiksa. biarlah dia pergi jauh entah kemana, dan di sisi lain aku pun pergi jauh entah kemana.
“hallo, selamat malam..”
“iya selamat malam Aditya.. saya Soraya.” kata ku memulai pembicaraan dari telpon genggam.
“ iya bagaimana soraya?? Ada apa sampai anda menghubungi saya larut malam seperti ini??”
Aditya meresponnya. Sepertinya dia sedikit terkejut karena aku menghubunginya walau sudah larut malam.
“bigini Aditya, sepertinya buku anda tidak bisa diedit oleh saya, bagaimana jika saya berikan buku anda kepada editor yang lain??” aku langsung saja menjelaskan maksud hati aku menelponnya malam-malam seperti ini.
“tapi soraya, anda sudah menyetujuhi untuk meng…..”
“tapi, maaf Aditya. “ aku memotong pembicaraannya ”Karena saya baru saja ingat kalau saya mempunyai janji pada author yang lain jadi saya meng-cencel buku anda…namun, anda jangan khawatir saya akan bertanggung jawab. Saya akan merekomendasikan buku anda pada senior editor saya. Bagaimana??”
“saya mohon soraya, anda tidak harus mengeditnya.. yang saya minta anda membacanya saja dan menentukan akhirnya. Menentukan akhir dari cerita saya buat..” jawabnya.
Aku terdiam tak mengerti. Nada suaranya menghalus, dan permintaanya pun menurutku menjadi sedikit tidak masuk akal. Aku ini editor, hanya editor mengapa harus menyelesaikan cerita yang dia buat. Mengapa dengan dia ini?
“soraya?? Bagaimana??”
“bagaimana jika saya tidak mau?” sepertinya aku sudah mengetahui alur gelombang yang dia ciptakan. Aku kini terjebak kembali di  antara alunan gelombang laut yang dia ciptakan. Entah mungkin kini aku menjadi ikan kecil yang tersesat di tengah gelombangnya atau mungkin hanya berenang tanpa arah namun menikmatinya. Aku… tertelan kembali di dalamnya.
“aku mohon kau harus mau, karena aku tidak mau akhir cerita itu menjadi menydihkan…”
Suaranya menghalus, nadanya terdesir pelan. Aku terhipnotisnya…
“mengapa harus aku yang melanjutkan cerita mu…? “
Mungkin aku sudah menggila dengan keadaan seperti ini.
“entahlah soraya, aku pun tak tahu mengapa harus diri mu yang melanjutkan cerita itu… “
…………….
Beberapa detik berlalu, kami berdua tidak ada yang mengeluarkan suara di telpon itu. Kami berdua tenggelam dalam dinginnnya air laut. Aku terus saja terdiam sambil menunggu sampai kapan aku tidak membeku dan membiarkan diriku larut entah kemana di dalam ombak itu.
Aku tidak mempunyai tenaga untuk bangkit dan berenang ke tepian. Tidak mempunyai daya atau tidak mau.. aku sulit membedakannya.
Tuut…tuuut…tuut…
Telpon itu akhirnya berakhir juga. Aku meletakan phone genggam ku di sebelah komputer ku yang masih menyala sejak tadi. Cahayanya menyorot berani ke arah mata ku, seakan menantang dan meminta untuk aku segera membaca isi dari itu. Isi dari karangan Aditya Wicaksono itu.
Aku tak memahami apa yang dia mau, namun mungkin akan aku kabulkan perlahan di mulai dari malam ini….
****

langkah kaki pasti ku perlahan mendekatkan aku ke tempat itu. detik per detik gerak tubuh ku terus mendekat pada kursi di perpus itu. hari ini aku akan duduk kembali di kursi perpustakaan itu, masih dengan keadaan yang sama, sinar mata hari yang menyelimuti dari sebelah timur, rak-rak buku berjejer penuh mengelilingi kursi itu dan seseorang yang sama duduk di hadapan ku lagi.

aku berjalan gagah dengan kumpulan kertas kertas yang tadinya belum sempurnana dan kini telah aku sempurnakan.

iya, kini aku telah memutuskan untuk terus berenang di dalamnya. di dalam lautan itu, dengan gelombangnya yang beralun tenang dan nyaman.

“Aditya, …” panggil ku setelah berada tepat di depan kursi yang aku maksud.

“Soraya, kau.. datang??”

“iya aku datang, maaf mungkin terlalu lama kau duduk menunggu di sini…”

“tak apa..” katanya “kau tahu, yang menyiksa ku bukan kata ‘menunggu’, namun kata ‘merindukan mu’…” dia mengatakannya.

“……” aku hanya terdiam tanpa bisa melihat ke arahnya.

“percayalah, hal itu menyebalkan. merindukan mu yang tak pernah merindukan ku…”

“maafkan aku…” sambil aku taruh selembaran kertas yang menumpuk itu. aku taruh tepat di depannya.

aku tetap menunduk. aku sama sekali tidak berani melihat raut wajahnya, layaknya seorang  pengecut. aku selalu saja berdoa bahwa kejadian ini tidak nyata, kejadian ini hanya mimpi.

“aku telah melanjutkannya…” lirih ku.

“menentukan akhirnya?? ” tanyanya tersentak.

“ya..” jawabku singkat.

“kalau begitu, duduklah. aku ingin membaca akhirnya sembari ditemani dirimu …” gumamnya tak terlalu jelas. entah dia meminta atau memerintah. aku pun bingung menanggapinya.

“mengapa harus..?”

“apa kau lupa, biasanya kita duduk berdua di perpustakaan ini saling memandang.. ” jawabanya sedetik tadi membuat ku terkejut. aku yag mendengarnya seketika meremas tangan ku sendiri.

“memang salah, mengapa aku terlalu menikmati aura mu sampai-sampai aku lupa menanyakan nama mu, tempat tinggal mu atau segalanya tentang mu… “

“…..” aku bungkam tanpa kata.

“hampir setiap hari aku merindukan tempat ini, selalu saja mencari-cari akan kehadiran mu. apa kau tak merasakan hal itu…??”

“hentikan Aditya, aku pun hampir gila karena diri mu. sekarang kita hentikan saja hal ini… ” minta ku setengah menahan desakan dalam dada.

“maka dari itu mari kita baca bagaimana akhir dari buku ini, buku yang sengaja aku tulis mengenai diri mu. mengenai bagaimana aku begitu mengaggumi  mu, dan akhir dari buku ini …aku tentu tidak tahu…”

“Aditya…. maafkan aku..” kini aku mulai memberanikan diri untuk melihat ke arahnya.

“untuk??” tanyanya heran.

“maafkan aku karena telah berburuk sangka pada mu, dan maafkan aku karena telah meninggalkan mu tanpa alasan yang jelas…. aku tahu hal itu menyiksa..” dan kini mata ku memanas. aku tak mengerti mengapa di saat seperti ini, air mata ku mengganggu. mereka mengalir begitu saja. aku tak mampu membendungnya kembali.

“soraya… duduklah, jangan terus berdiri dan menangis seperti itu. duduklah… “

aku duduk sembari menghapus beberapa air mata ku.

“Soraya, biarkan kini aku terus memandangi mu tanpa harus takut kehilangan mu… “

-pada akhirnya pangeran laut itu mengangkat aku dari gelombangnya dan menjadikan singasananya berdampingan dengan singasana ku.

terimakasih ….

aku mencintaimu.-

Iklan

2 respons untuk ‘Bagai Laut (Part 3 #ending)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s