Membenci Rasa Pahit

Image

Dulu aku tak peduli, rasa pahit yang dia berikan aku tak begitu menghiraukannya. Namun aku tak menyangka, kini aku beitu sering merasakan rasa pahit itu darinya. Tentu aku harus marah. Dan Tentu aku sangat memebencinya…….

Dia selalu saja membuat ku tak nyaman. Bukan hanya tak nyaman, dia pun selalu memberi rasa yang sangat pahit di seluruh bagian tubuh ku. Itu benar, aku sering kali merasakannya ketika dia berada di sekitar ku. Entah dengan ucapannya atau entah dengan sikapnya. Dia selalu saja membuat rasa sakit dan pahit. aku tak menukainya…

Ucapannya yang sering kali membuat hati ini tertekan. Dia selalu saja mengatakan hal yang membuat mata ku memanas sampai berair perih. Ini bukan lelucon, tapi memang benar adanya. Nyatanya aku menangis tanpa mampu melawan perkataanya, dan itu selalu. Aku membanci keadaan itu, sangat membencinya.

Tingkah lakunya, selalu membuat aku ingin enyah pada saat melihatnya. Ekspresi jijiknya terhadap ku membuat aku sangat amat tidak dihargai sebagai manusia. Dia membuat perasaan itu terhadap ku. Inginnya aku menampar wajahnya seperti inginnya aku enyah juga dari hadapannya seketika. Ini benar adanya, aku tak mengada-ada. Aku sangat membencinya!!

Aku tak menyangka bahwa aku sangat amat membencinya. Membenci orang yang bahkan sudah sangat menyebalkan walau aku belum mengenalinya.

Kami tak saling kenal namun kami saling membenci.

Kami tak saling kenal namun kami saling ingin menyakiti.

Ini seperti bukan tingkahlaku manusia namun ini lah adanya, aku dan dia melakukan itu.

Aku yang sangat membencinya tak mampu memenahan rasa kebencian ini terhadapnya, dan dia pun…… terus saja dengan kelakuannya yang membuat aku muak.

Aku marah. Aku benci. Aku Muak….!!!!!!!

Aku tak mampu menahannya sendiri, dan aku putuskan untuk menceritakannya pada beberapa manusia di sekelilingku. Aku menceritannya dan tanggapanya ….. sungguh aku sangat membenci tanggapan mereka semua.

Mereka hanya bilang, “memang dia seperti itu, maklum saja…”

atau “dia memang seperti itu, tapi itu tidak seperti kamu kira. kau belum mengenalnya… coba kau berteman dengannya..”

dan jawaban-jawaban serupa.

Kepalaku serasa ingin pecah. Mereka nilang aku harus memakluminya, jika hanya sekali saja dia memberi rasa pahit, aku pun mampu memakluminya. Tapi ini setiap kita bertemu, di setiap itu lah aku menikmati rasa pahit yang khas dari dirinya. Bagaimana aku tidak memencinya??

Ataaau… aku belum mengenalnya? dan aku belum berteman denganya??

Bagaimana kami saling berteman dengan rasa benci satu sama lain, dengan rasa ingin menyakiti satu sama lain, dan dengan rasa  muak satu sama lain. Aku rasa solusi untuk berteman dengannya hanyalah ……. omong kosong.

Sekali pernah aku membuang rasa ego ku jauh-jauh untuk berbicara kepadanya. Kali itu aku membuat kesalahan dan dia korbanya. Aku bertanya keadaanya dan meminta maaf. Namun sampai sekarang aku menyesalinya…

Dia tak menggubris ku sama sekali, dan ekspresinya seperti menunjukan bahwa ‘aku tak pantas berbicara dengan mu’. Dia ahli dalam meremehkan seseorang.

Bagaimana berteman? aku meminta maaf saja dia sudah…………….

Lupakan, aku sangat membencinya ketika mengingatnya.

Kini yang aku lakukan adalah hanya menempatkan diriku tidak satu situasi dan waktu dengannya. Berharap untuk menyatakan ketidak suakaan ku atas sikapnya adalah percuma, aku tidak akan bisa melakukannya. Dia tidak akan memperdulikanya.

 

Kau begitu menyebalkan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s