Sesingkat Malam Yang Panjang

Gambar

iya memang, malam itu singkat. dan iya memang malam itu panjang. dan memang pula malam itu sampai sekarang…. rasa manisnya susah dipudarkan. sampai saat aku bertemunya lagi dengan alasan terakhir. alasan itu aku gunakan untuk berbicara dengannya.. lalu sekarang aku tak mempunyai alasan kembali untuk berbicara dengannya….atau pun membuat janji denganya.

aku tak menyangka. pertama aku bertemu dengannya, rasanya hambar. tidak ada special, bahkan aku tak mengingat hal itu kapan terjadi. aku hanya mengingat bahwa… pada saat itu kami-aku dan teman ku, tengah menunggu kedatanganya untuk membicarakan sesuatu hal yang memang hal tersebut adalah urusan formal.

sebelumnya tak pernah kenal atau bahkan hanya bertemu. kami-aku dan kakak lelaki tersebut, pada saat itu menjadi pertemuan yang pertama. walau tidak ada yang special namun aku kini mengingatnya menjadi special.

waktu terus berjalan seakan menuntun ku menuju kekaguman. aku melihatnya kembali pada urusan formal itu beberapa kali. di sana aku melihatnya dengan selera humor yang…. memang tidak terlalu bagus namun mengapa aku melihatnya menjadi bagus. aku bingung menanggapinya. hal ini disebut menghargai dia sebagai comical atau memang ada hal yang lain. entah namun itu yang aku rasakan….

dan pada akhirnya malam puncak. malam puncak dari urusan formal ku. aku mengundangnya kembali menuju panggung ku dan mempersilahkan dia untuk berbagi humor. tak banyak yang tertawa, namun aku heran aku tak bosan mendengarkan guyonannya dan memandanginya. ketika aku tersenyum dari kejauhan memandanginya hanya rasa manis saja yang terasa. lainnya, entah apa itu aku tak menyadarinya.

malam itu gelap, namun banyak bintang dan tak hujan. malam itu dingin, namun tak banyak berhembus angin. malam itu ramai namun tak meramaikan diri, dan malam itu senang namun aku yang akan lebih senang dari yang lainnya.

dari sela-sela gelap malam aku terus mencuri bayangnya yang remang-remang dari sela-sela manusia. entah untuk melihatnya saja aku harus berusaha, namun tak apa. bahkan aku menganggapnya bukan masalah.

rasanya saat itu aku ingin mengatakan. “berhentilah memembuat ku untuk memandangi mu dari jauh..” atau. “memangnya setiap kau berdoa, kau selalu meminta agar setiap orang dengan mudah mengagumi mu?”

rasanya, lidah ku gatal untuk mempertanyakan hal itu. namun hal tersebut hanya rasa yang sekedar dirasa saja.

aku harap tuhan menambah porsi jam pada malam itu, aku ingin malam itu menjadi 2 kali lipat.. eh tidak tidak.. 3 kali lipat, eh tidak, 4.. 7 10 bahkan 1000 kali lipat lebih panjang dari malam sewajarnya. aku ingin berada terus di sekitarnya, menghirup udara yang sama dengannya, memandanginya dari jauh atau tertawa dengan guyonan tak lucunya. aku suka itu.

namun waktu pun tak bisa dikalahkan. tetap saja dia, si lelaki merasa humoris itu harus pulang dengan teman-temannya. di sela-sela aku melambaikan tangan pada punggungnya, aku berlirih “jangan pergi terlalu jauh, aku tidak mampu untuk mencari mu…”

dan, malam yang manis itu berubah menjadi pagi yang manis pula.

jelang beberapa hari aku sakau. sakau karena tidak bisa bertemu dengannya lagi, kakak comikal yg tidak lucu itu, menjadi kebutuhan ku  untuk melihatnya. aku ingin melihatnya, benar-benar ingin melihatnya walau dari jauh.

namun memang keadaanya, jauuuh. jauh saja jika dari sudut fisik dan sangat jauh dari sudut hati.

tetapi eh tetapi.. aku masih mempunyai satu alasan lagi untuk dapat bertemu dengannya. urusan formal kami belum selesai, aku pun mulai membuat janji denganya, membuat janji pun harus menunggu 3 hari baru kami bisa mencocokan jadwal kami untuk sekedar bertemu.

tak apa lah. memang segala sesuatu jika terlalu mulus tidak baik.

hari yang aku tunggu itu pun datang. hari yang dimana aku menggunakan alasan terakhir aku untuk bisa kembali bertemu, duduk di hadapannya walau beberapa menit saja pun datang.

di pagi itu rasanya menyenangkan, mataharinya, rumputnya, udaranya semuanya menyenangkan. tak tahu mengapa rasanya seperti itu dan aku rasa imun tubuhku pun ikut berganda lebih banyak sehingga aku bagitu bersemangat hari itu.

jamnya pun datang, kami berjanji bertemu jam 11 namun jam 1 kami baru saling tersenyum satu sama lain.

aku senang dia tak banyak berubah, senyumnya sama, jalannya sama, matanya sama, suaraya sama dan yang berbeda hanyalah potongan rambutnya. sedikit berbeda namun tetap saja aku suka.

pada detik pertama aku mengendalikan diri ku, namun di detik-detik selanjutnya aku tak mampu. aku salah tingkah, tangan ku dingin dan senyum ku kaku. aku pun sedikit menghardik diri ku sendiri karena bersikap begitu aneh jika di saat-saat seperti ini.

urusan sudah selesai dan memang sewajarnya kami saling berpisah. seketika aku memohon kembali pada tuhan agar ulang waktunya dari 5 menit yang lalu. percuma hal itu konyol.

aku berdiri dan dia pun berdiri, diatersenyum aku pun balas dengan senyuman ku yang kaku. dia mengulurkan tangan dan mengajak aku untuk bersalaman dan aku menanggapinya. aku genggam tangannya lalu kami pun saling mengucakan terimakasih dan selamat tinggal.

tapi aku melupakan sesuatu, bagaimana bisa aku bersalaman dengannya di saat memang tangan ku dingin karena memang salah tingkah.  bagaimana bisa? aku takut dia dapat merasakan bagaimana membekunya darah ini, tidak berdetaknya nadi ini dan mengakunya sendi-sendi jari ini. aku takut menyadarinya..

namun beberapa saat kami bersalaman dia seperti tidak menyadari bahwa hal itu memang terjadi. yah untunglah..

sesi salaman dan berterimakasih pun usai, yang berarti semuanya usai. semua pertemuan ini usai, pertemuan yang terakhir dengannya ini usai. di detik ini aku tak ingin sekali memikirkan kapan lagi aku mampu bertemu dengannya karena jawabannya tidak tentu. ketidaktentuan itu membuat aku merasa tidak senang.

yang mampu membuat aku senang hanyalah melihat bayangnya dari sela-sela dempetan manusia yang terjadi ketika malam itu.

terimakasih malam, karena kau terlampau gelap dengan sinar bulau membungkus senyumnya. terimakasih ~

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s