Memuntahkan Isi Kepala

image

Lagi lagi, ketika saya menulis hujan dan malam setia menemani. Gelapnya yang pekat dan dinginnya yang menguasai, menjadi suasana yang memang bersahabat dengan jari jemari saya.
Benar seperti itu.
Disini saya menulis bukan lagi hanya menyingkapkan gorden dan membuka jendela kamar. Kali ini saya berada di halaman dan mampu menatap jelas langit yang mendung menggelap.
Malam ini hujan, semua di halaman ku berselimut air hujan. Terlihat mengkilat dan basa tentunya.
Iya. Yang saya rasakan kali ini adalah lelah. Lelah dengan semua aktifitas yang menumpuk. Banyak sekali yang harus saya selesaikan tahun ini. Semuanya memang penting dan semuanya butuh campur tangan saya, penat!
Kadang saya hanya bisa menyesal nista karena menerima semua tawaran itu menjadi kewajiban semua. Dan kadang saya hanya mencoba memikirkan kembali cara bagaimana semua berakhir bahagia. Dan kembali, hanya menjadi wacana karena sesekali saya merasa panik dan entah apa yang harus saa kerjakan terlebih dahulu.
Mengapa saya begini? Apakah saya menjadi seorang yg plinplan? Mungkin saja… Berarti ini adalah catatan besar dalam kehidupan saya, bahwa jangan menjadi orang yang mengiyakan semua tawaran yang datang, dan mencoba menela’ah kembali, dampak, tujuan dan kondisi ketika semua waktu yang akan dikorbankan setelah berkata iya.
Saya tidak menyesali kata iya saya dulu. Yang saya sesalkan mengapa saya begitu bodoh karena tidak berfikir lebih panjang lagi. Mengapa?!.
Dan sekarang, mau bagaimana lagi? Ibaratnya, nasi sudah menjadi bubur. Dengan bagaimana pun keadaan saya, saya akan menyelesaikan semua kewajiban saya, dan mengakhirinya dengan keindahan, itu harus!
Semangat! Tanpa harus menunggu seseorang mendorongku dari belakang saya akan berlari sekuat tenaga hingga batas finis ditentukan.

Mungkin rasanya akan lelah, tapi kemudian hari akan senang. Ketimbang harus berlenggang meninggalkan kewajiban, tapi esok akan terus dibarengi oleh label ‘loser’. Hal itu lebih menyakitkan, karena ibu saya tidak mungkin melahirkan seseorang pecundang.

Dihujung catatan, terimakasih dingin, terimakasih hujan dan tentu terimakasih malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s